Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 20


__ADS_3

Tiada hari yang paling membahagiakan selain hari dimana sebuah harapan terwujudkan. Memiliki seorang sosok idaman yang bisa membuat hari-hari menjadi mengesankan. Tak peduli setebal dan seterjal apa pun cobaan dalam kehidupan yang siap menghadang di depan, aku tetap berkeyakinan bahwa inilah keputusan yang sudah ditakdirkan.


Setelah melalui berbagai rintangan dan ujian, akhirnya yang terkasih, bisa dihalalkan. Hari ini ... akan menjadi sejarah paling berharga dan tak akan pernah tergantikan. Walaupun terkesan berlebihan, namun bagiku inilah yang pantas untuk aku persembahkan.


...***...


Untuknya yang kini sedang berdiri sejajar dengan jendela. Dirimu memang bukan yang pertama, namun sosok barumu ini cukup sukses mengobati luka lama.


Untuknya yang kini sedang berdiri sejajar dengan jendela. Dirimu memang bukan berasal dari wanita terhormat yang bergelimang harta, namun kehadiranmu cukup membuat seluruh jiwaku bergelora.


Untuknya yang kini sedang berdiri sejajar dengan jendela. Dirimu memang bukan sejenis wanita shalihah yang berhiaskan pakaian tertutup dari kain sutra. Namun, apa adanya dirimu sudah cukup membuat diriku menjadi bahagia.

__ADS_1


Untuknya yang kini sedang berdiri sejajar dengan jendela. Aku tahu, tidak ada manusia yang sempurna di dunia, namun dengan menjalani hidup bersama, kesempurnaan bisa kita ciptakan berdua.


Untuknya yang kini sedang berdiri sejajar dengan jendela. Bagiku engkaulah ciptaan Tuhan yang paling berharga, karena sudah bersedia menjadi bhayakarinya seorang aparat negara.


...***...


Tatapan senduku kini berganti senyuman penuh pesona setelah pandangan teduh nan memikatnya terarah lekat pada posisiku saat ini. Bagai mendapatkan durian runtuh dari surga, aku bak sedang menatap seorang bidadari duniawi. Terkesan berlebihan pasti, namun beginilah kondisi hati. Tak pernah kusaksikan sebelumnya kecantikan yang begitu murni seperti ini. Aku jadi ragu, apa benar ia sang calon istri?


Berhiaskan gaun berwarna salem yang menutupi sempurna kedua lengannya, ia menatap kedua netraku penuh rasa terima kasih yang kentara. Kedua telapak tangannya mendarat telak di depan dada, seiring senyuman indah yang ia hadiahkan kepada calon imamnya. "Jika ada kata yang melebihi makna terima kasih di dunia ini, maka aku akan menghadiahkannya untukmu."


Kedua sudut bibirku seolah mengerti dan melakukan tugasnya dengan baik sekali. Menerbitkan senyuman kecil, namun penuh rasa haru yang bertubi-tubi. "Seandainya ada kata yang melebihi makna cinta di dunia ini, maka aku akan menghadiahkannya untukmu, Calon Istriku," tuturku beriringan dengan tangan kanan yang bergerak mengelus lembut pipinya yang sebelah kiri.

__ADS_1


Bisa kulihat lelehan air bahagia itu gugur dari sepasang bola mata beningnya. Seakan paham dengan tugasnya, refleks ibu jariku menyeka air matanya. "Hari ini adalah hari bahagia kita, air matamu terlalu berharga, jika harus dikeluarkan dengan percuma." Ia tersenyum simpul menanggapi gombalan receh calon suaminya. Kurasa setelah ini, ia pasti akan tertawa terbahak-bahak setiap hari, di kala aku mengeluarkan jurus rayuan untuknya.


"Terima kasih karena sudah menepati janjimu, Mas ... sungguh aku merasa beruntung sekaligus tersanjung, karena aku merasa tak pantas untukmu." Suara lirihnya itu diiringi dengan tundukan wajah setengah sendu.


Sontak kuangkat dagu tumpulnya yang sedikit berbelah itu, lalu menggelengkan kepala. "Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kamu sudah bersedia mengambil resiko tinggi dengan menjadi istri seorang polisi. Lagi pula, hanya aku yang berhak menentukan kamu pantas atau tidaknya menjadi pendamping hidupku." Kelopak matanya naik sedikit dari posisi awal, lalu menatapku yang sedang bermandikan tatapan cinta.


"Aku merasa sedang menatap seorang malaikat saat ini. Kamu adalah malaikatku, Mas." Linangan air matanya itu kembali merembes ria. Membuatku kembali terharu--mendengarnya. "Aku sudah memintamu untuk menikahiku di saat kita berdua berada dalam lingkaran maut. Jadi, apa pun yang akan terjadi ke depannya, tentu tidak akan menciutkan tekadku."


Aku sungguh bangga mendengar respon itu. Hatiku bagai dihujani dengan embun kasih dari rembesan air madu. Tidak ada kalimat yang bisa kuungkapkan lagi, walaupun hanya seujung kuku.


Namun, ketika kami berdua sedang tenggelam dalam atmosfer haru, tiba-tiba saja suara bariton seseorang, sukses memecahkan konsentrasiku.

__ADS_1


"Kalian tidak akan bisa menikah!"


__ADS_2