
Syila tampak mengerjap berkali-kali ketika aku melambaikan telapak tangan di hadapan wajahnya. Seolah sedang merasakan malu yang menggerayangi seluruh aliran muka, ia lantas menundukkan pandangannya dengan melafalkan kalimat-kalimat aneh dalam bahasa--yang aku sendiri tidak memahaminya.
Ya, mungkin ia sedang mengutuki sikap bodohnya!
Bukannya tidak menyukai tingkah menggemaskan dan ekspresi kekaguman yang terpancar di wajahnya, namun lebih kepada tidak ingin menyakiti hatinya, jika ia terlanjur jatuh cinta. Karena aku tahu kisah cintanya terhadapku akan berakhir dengan luka. Apalagi, sudah sering kudengar dari kabar angin, kalau Syila memang mempunyai perasaan lebih terhadap aku--atasannya.
Duh, malangnya!
Aku sangat memahami kondisinya. Bisa jadi perasaan Syila tumbuh karena sering bersama dan frekuensi bertemu kami yang memang intens karena terikat urusan kerja. Jadi, menurutku perasaannya itu wajar-wajar saja. Apalagi, terhadapku yang notabennya memiliki sejuta pesona.
Ehem!
Mungkin menurut sebagian dari mereka yang sudah mengetahui pernikahan tersembunyiku bersama Rona, kami berdua sudah berpisah setelah sekian lama. Namun, bagiku ... tidak bisa dikatakan sebuah perpisahan, jika hatiku masih bertaut padanya. Terlepas Rona sudah melupakan semuanya, namun tidak membuatku merasakan hal yang sama. Karena sampai kapan pun, aku yakin, aku pasti bisa menemukan keberadaannya.
Maafkan aku, Syila!
Setelah semuanya sudah rapi, aku bangkit dari posisi berjongkok lalu memintanya untuk duduk di atas kursi. Kemudian, aku mengambil posisi setengah duduk di atas meja, yang tepat berada di sisi. Di sisinya yang kini mungkin masih merasa canggung setengah mati.
__ADS_1
Bukannya aku tak mengerti dengan kondisi jantungnya saat ini, namun aku mencoba untuk membantunya untuk mengontrol hati agar tetap bekerja dalam keprofesionalitasan diri.
"Maaf, kalau suara refleksku tadi sudah merusak konsentrasimu," tuturku berpangku tangan pada sisi meja. Syila lantas mengangguk maklum dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. "Teruskan!" titahku kemudian, lalu ia kembali membaca.
"Ada nama Anda dan Aipda Andrea Winata di tabel ini, Komandan." Ia mengatakan hal itu seraya tersenyum kikuk seolah sedang dipaksa. Mungkin dia masih mengingat momen memalukan--yang membuat ia tertangkap basah oleh atasannya.
Aku masih menatap lurus ke depan, menghujam daun pintu yang berada di sana. Tanpa mengalihkan pandangan, pikiranku terus berjalan, seolah sedang berpikir keras tentang apa maksud di balik keputusan Kapolda.
Beliau menunjukku bersama Nata untuk berkecipung dalam satu misi kerjasama, batinku yang sedang menganalisis tujuan utama dari sang penguasa.
Syila yang pastinya sedang menunggu responku, mungkin sedang bertanya-tanya, mengapa aku jadi terdiam seribu bahasa?
Panggilan Syila sukses membuyarkan lamunanku, yang tadinya kehilangan fokus terhadapnya. "Eh, maaf, Syila." Seraya melempar senyuman ke arahnya. "Terima kasih atas informasinya. Kamu bisa keluar sekarang!"
Ia lantas mengangguk patuh, kemudian meletakkan map yang sedang ia timang--di atas meja. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Komandan." Setelah melihatku menganggukkan kepala, Syila pun bergerak menuju pintu ruangan, kemudian daun pintu itu pun sukses menelan tubuh serta bayang-bayangnya.
Huuuh!
__ADS_1
Haruskah aku pergi untuk memenuhi panggilan Kapolda?
Ah, sepertinya aku mulai lupa. Jikalau sebagai seorang aparat negara, kami tidak bisa menolak perintah dari atasannya. Dengan kata lain, kami tidak mempunyai hak untuk memilih apalagi melanggar titahnya--jika itu untuk melaksanakan tugas demi keamanan negara.
***
Nata sudah tiba terlebih dahulu di bandar udara, dan menungguku di sana dengan bersilang lengan di depan dada. Tatapannya terus mengekori langkahku yang kini bergerak mendekatinya. Tatapan yang menyiratkan sebuah keseriusan sekaligus kekhawatiran terhadap sahabatnya.
Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan olehnya?
Apakah aku akan mendapatkan ujian babak baru ketika berada di ibu kota?
Ah, aku belum mempunyai jawabannya. Namun, aku yakin sekali kalau Nata mempunyai jawabannya.
Sejak perpisahanku dengan Rona, aku jarang sekali bertemu dengan Nata. Terlebih, sekarang ia sudah dipindahkan ke fungsi yang berbeda. Walaupun masih berada dalam satu tempat kerja, namun tetap saja, kesibukan dengan kewajiban masing-masing membuat kami susah sekali untuk berjumpa.
Berhubung misi ini hanya melibatkan nama kami berdua, jadi hal ini merupakan kesempatan emas, yang bisa kami gunakan sebagai momen untuk bernostalgia.
__ADS_1
Ya, sejujurnya aku sudah merindukan tingkah konyolnya!