Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 41


__ADS_3

Aku tak menyangka, setelah hampir dua pekan aku berpisah dengan keluarga, kini kedua tungkaiku sudah terpijak sempurna pada lantai yang sama.


"Huda, putraku ...!"


Ibu sontak berlari tergopoh-gopoh, setelah melihatku berdiri tegap di depan pintu, bersama mang Yeye yang turut bersembunyi di balik tubuhku. Langkah ibu disusul oleh ayah, yang kala itu juga tak kalah terkejutnya--melihat keeksisanku.


"Huda ... benarkah ini kamu, Nak?" Kedua telapak tangannya menempel sempurna pada kedua pipiku, hingga mengitari keseluruhan bagian dari wajahku.


Aku yang juga tak kalah terharu, lantas meraih tubuh ibu ke dalam dekapanku. Tak bisa kusembunyikan lagi, rasa rindu yang sudah menggunung bagaikan ombak yang menggulung tinggi, setinggi pohon gaharu.


Air mataku pun ikut menetes seiringan dengan pelukan ayah yang mendekap tubuhku beserta ibu. Ini ... adalah momen dimana aku merasa paling beruntung sedunia halu, karena masih mempunyai kedua orang tua yang utuh--ayah dan ibu.


Sepersekian detik kemudian, kami bertiga melerai pelukan. Tak banyak kata yang bisa kuucapkan, selain bertanya tentang kesayangan. "Ibu, Rona dimana?"

__ADS_1


"Ada di kamarnya, Ibu akan ke atas untuk memanggilnya." Dengan suara serak khas orang habis menangis, ibu menggiring tubuhku untuk masuk dan membawaku duduk di sofa ruang tamu.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa selamat, Nak?" Sepertinya ayah sudah tidak bisa menahan rasa penasaran yang berkecamuk di dalam jiwa.


Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Nanti akan kuceritakan, Ayah. Setelah, Rona bergabung bersama kita."


Tidak butuh waktu lama, kulihat ibu melangkah menuruni anak tangga, diekori oleh Rona di belakangnya.


"Mas ...!" pekiknya. Refleks ia berlari dan menabrak tubuhku yang memang sudah berdiri siap--menyambut pelukannya. Seperti adegan romantis di dalam film-film ternama, yang dimana kedua tokoh utama bertemu untuk pertama kalinya, setelah terpisah sekian lama.


Kuelus pucuk kepalanya secara perlahan, seraya mengecupi ubun-ubunnya. Untuk sesaat ia masih betah di dalam mode isakan, kemudian melerai pelukannya, karena tersadar bahwa adegan bermanja-manjanya kami sedang disaksikan oleh kedua orang tua. Bukan hanya kedua orang tua, namun juga oleh mang Yeye dan mbak Nima.


"Ma-maaf, Ayah ... Ibu ... saya terlampau bahagia atas kepulangannya mas Huda," tuturnya malu-malu, kemudian mengambil posisi nyaman di atas sofa. Tepat di sampingku--suaminya. Ayah dan ibu pun tersenyum memaklumi keterlanjurannya.

__ADS_1


Baiklah!


Sepertinya mereka semua sudah tak sabar menunggu penjelasanku tentang bagaimana caranya aku selamat dari maut.


"Begini semuanya ... sebenarnya aku tidak berada di dalam pesawat yang kalian maksud." Ayah dan ibu sontak membelalak karena merasa bingung dengan penuturanku tersebut.


Sementara Rona, ia terus menggenggam erat telapak tanganku ketika aku sedang bercerita. Namun, anehnya ia tak tampak terkejut sama sekali setelah mendengarnya. Mungkin, dia mempunyai firasat yang sama.


"Ada penugasan mendadak, yang memungkinkan aku tidak bisa menghubungi kalian, karena aku dilarang menggunakan alat telekomunikasi selama bertugas," karangku, dengan menceritakan informasi palsu, agar mereka tidak mengkhawatirkanku.


"Tapi ... kenapa di wajah dan sebagian lenganmu terdapat lebam begini, Mas?" tanya Rona, seraya menyentuh beberapa bagian dari tubuhku.


Aku berusaha untuk tetap tenang, agar tidak kelihatan sedang gugup dan berpura-pura. "Oh, biasa ... tugasku itu lebih ekstrim dari tugas seluruh tim Marvel," kelakarku yang membuat semuanya terkekeh kecil. Sepertinya aku sudah berhasil mengubah suasana hati mereka walaupun dengan sedikit menyentil. Menyentil hati sendiri yang tidak biasa berbohong sedari kecil.

__ADS_1


Ampuni aku, Tuhan!


__ADS_2