Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 25


__ADS_3

Sepeninggalan ibu, aku tak langsung mencecar Rona dengan beberapa baris pertanyaan yang berderet rapi di dalam kepalaku. Sebaliknya, aku hanya berpura-pura melewatinya menuju kamar mandi, lalu menutup pintu.


"Kok dia gak nanyain apa-apa, sih?" Begitulah sekiranya gumaman Rona yang masih bisa kudengar dari balik daun pintu. Membuatku terkekeh geli karena tingkah menggemaskannya itu. Dalam bayanganku, pasti ia bergumam sambil berdecak kesal dengan ekspresi dongkol seperti ibu.


Aaah, istriku!


Saatnya membersihkan diri untuk perjalanan ibadah selanjutnya. Walaupun aku belum tahu pasti tentang keadaan Rona--suci atau tidaknya--paling tidak aku harus mempersiapkan diri untuk memulainya.


Baiklah!


Seusai membasuh kepala dan seluruh bagian tubuh yang lainnya, aku lantas keluar dari bilik terkecil di kamar ini, dengan hanya bertelanjang dada. Namun, bayangan tubuh seksi istriku yang sedang terbaring sempurna menungguku di atas kasur, tidaklah mengisi ruang mata.


Aaarrgh, zonk! erangku di dalam hati sambil menggelengkan kepala.


Karena pada kenyataannya, Rona sudah tertidur pulas dalam balutan selimut yang begitu rapat--membelit tubuhnya. Cepat sekali dia terlelap, kicauku lagi di dalam dada. Kali ini, dengan gerakan beringsut mendekatinya. Kuintip sedikit wajahnya yang tersembunyi gemas di balik ujung kain tebal berwarna merah muda. Wajah paripurna yang membuatku lebih tak tega lagi untuk mengusik keindahan mimpi, yang mungkin saat itu sedang dijelajahinya.


Mungkin belum saatnya, batinku sok lapang dada. Padahal junior perkasa di bawah sana, sedang menuntut pelepasan yang sedari tadi sudah bergelora. Namun, bukankah begitu sebaiknya. Bagaimana mungkin aku mengganggu tidurnya sang belahan jiwa hanya karena ingin menuruti hawa n.a.f.s.u belaka?

__ADS_1


Sungguh aku tak tega!


Sepersekian detik berlalu, aku masih anteng menatap wajah tenang Rona. Berbunga hatiku rasanya, karena akhirnya kami bisa berada dalam satu ranjang yang sama. Sungguh, tak pernah kuduga. Secepat ini, Tuhan mengabulkan segalanya.


Puji syukur yang sebesar-besarnya!


Setelah puas dengan tontonan berpahala tersebut, kukecup lembut kening beningnya, lalu merebahkan tubuh juga--tepat di sampingnya. Ia tak tampak bergerak sedikit pun, walaupun terjadi gempa lokal yang menyebabkan ranjang ini berguncang pula--karena tingkahku pastinya.


Aku hanya tersenyum ringan ke arahnya, yang mungkin sangat lelah setelah seharian menjalani prosesi romantis dalam penyempurnaan agama.


...***...


"Kenapa kamu tidak membangunkanku?"


"Tidurmu nyenyak?"


"Banget!"

__ADS_1


"Makanya aku tidak tega untuk mengusikmu."


"Tapi ... kita 'kan jadinya tidak ...."


"Apa?"


Senyuman mengejekku sepertinya sukses membuatnya kehabisan kata-kata.


"Ah, sudahlah, lupakan!" Ia tersenyum kaku, lalu ingin beranjak dari sisiku. Dengan gerakan cepat seolah memiliki kekuatan teleportasi, kutangkap pergelangan tangannya, kemudian membuat ia terjatuh tepat di atas dada lebarku.


Ia tampak mengerjap sekaligus gerogi tingkat tinggi. Mungkin yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah ... bagaimana caranya memposisikan diri. Tetap berada di sini, atau sebaiknya--melarikan diri.


"Ka-kamu mau sa-sarapan apa?" tanyanya, membuka dialog kaku yang menggelitik isi perutku. Kentara sekali di wajahnya bahwa ia sangat tidak siap untuk melayaniku.


"Bagaimana kalau sarapan ... ini?" Ibu jariku mendarat seraya mengelus bibir seksi yang masih belum kusentuh lagi, setelah hari itu. Mendengar pertanyaanku, ia lantas tertunduk malu dan membelakangiku.


"A-aku ... aku mandi dulu." Ia kembali ingin berlalu. Namun, tak akan kubiarkan hal itu terjadi, sebelum ia menatap wajah tampanku terlebih dahulu.

__ADS_1


Sebelum ia bertindak, kedua tanganku sudah mendarat telak di kedua bahunya. Bisa kurasakan tubuhnya menegang saat itu juga. Jika dia sudah tidak perawan lagi, mana mungkin responnya setakut ini? begitulah sekiranya isi kepala.


__ADS_2