Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 43


__ADS_3

"Ta ... tunggu!" Suara lantangku sukses menghentikan pergerakannya yang hampir saja menambah langkah--melewati pintu. Ia tidak langsung berbalik arah, karena mungkin masih memasang ekspresi kesal karena tidak berhasil kabur dari hadapanku. "Ada yang ingin aku tanyakan," lanjutku karena sudah tidak tahan lagi menampung banyaknya misteri di dalam kepalaku. Mau tidak mau, hari ini dia harus memberikan jawabannya padaku.


Sepersekian detik kemudian, Nata tampak memutar rotasi tubuhnya, lalu tersenyum basi kepadaku. Kuarahkan jari telunjukku ke bawah, seolah sedang memberi kode agar dia duduk kembali di atas kursi itu. "Aku masih banyak kerjaan, Da." Dia mulai berkilah agar aku mau melepaskannya dan terhindar dari interogasiku.


Namun, aku tak mau tahu. Sekali lagi kutekankan jari telunjukku yang melayang di udara, seakan sedang memberikan penekanan padanya bahwa aku tidak menerima alasan klasiknya itu. "Huuuuuffft ...," d-e-s-a-hnya pelan seolah tidak bisa lagi menyembunyikan semua rahasia yang perlu aku tahu.


***


"Aku tidak tahu apa-apa, Da. Kamu salah orang kalau menagih semua jawabannya sama aku." Sejak sampai di tempat ini, Nata terus mengatakan kalimat yang sama berkali-kali. Ya, aku membawanya keluar dari kantor dan menuju tempat favorit kami.


Tetapi, aku bukanlah anak kecil yang dengan pasrah bisa membiarkannya lari sebelum mendapatkan apa yang sedang aku cari.


"Jangan berkilah di hadapan sahabat sendiri ...!" sarkasku seolah sedang memberi penekanan bahwa bukan begini sikap bijaknya seorang sahabat sejati.


Ia kembali menghela napas, sehingga setelah kuhitung dengan jari, sudah sepuluh kali dia seperti ini. "Baiklah, sepertinya aku tidak berbakat untuk berlakon lebih di sini." Ia berkata sambil melakukan gerakan memutar benda pipih berukuran enam koma lima inci.

__ADS_1


YES!


Sepertinya kailku sudah disambut oleh ikan mas murni. Sehingga tak perlu banyak berkelit untuk mengungkit, akhirnya Nata siap untuk memberikan informasi. "Tanyakanlah apa yang ingin kamu ketahui ...!" tuturnya sembari menatapku tanpa ekspresi. Sepertinya ia sangat tidak menyukai situasi ini. Atau mungkin sedang menahan diri untuk tidak buang air kecil di sini?


Ah, aku ini ...!


"Semuanya." Dia langsung mengerjap berkali-kali. "Aku ingin tahu semuanya!" tekanku sekali lagi. "Aku sudah tidak ingin lagi menanggung beban hati yang setiap hari hanya berisi teka-teki ...!" tegasku padanya seolah sudah muak dengan situasi ini. Karena setiap aku akan memulai hari, misteri-misteri itu selalu datang menghampiri.


Bukannya takut, Saudara/Saudari. Aku hanya tidak ingin berlama-lama terkunci dalam lingkaran besi yang aku sendiri tidak mengerti. Sejak hari pertamaku menjadi seorang polisi, sepertinya aku sedang melewati masa-masa dimana aku sedang diuji. Diuji dengan kesengajaan yang tertata rapi sehingga aku sendiri pun tidak tahu--bagaimana caranya untuk beraksi.


Bingung sendiri ...!


Baiklah!


Sudah waktunya misteri ini aku akhiri. Berhubung, aku sudah mempunyai seorang istri, jadi setelah ini aku ingin menikmati momen-momen bersama kami tanpa adanya teka-teki lagi.

__ADS_1


***


Setelah tiga puluh menit berlalu, Nata masih saja bergeming. Tak sepatah kata pun ia keluarkan sehingga seluruh bagian kepalaku terasa pusing. Sudah berulang kali kukatakan bahwa aku tidak akan menyeretnya dalam kondisi genting. Namun, tetap saja, ia belum mau berhenti ber-acting.


TAP ... TAP ... TAP


Suara berirama seperti tapakan sepatu kaca seseorang terdengar mendekat ke arah kami berdua. Bisa kulihat dari ekor mataku bahwa tubuhnya sudah berdiri di samping meja. Sontak aku dan Nata mendongakkan pandangan ke arahnya yang ternyata adalah sosok yang sangat dekat di mata.


"Rona ...," lirihku sembari menatap wajahnya yang sudah bersimbah air mata.


Refleks tubuhku berdiri dan menyeka air lukanya. Dia hanya menatapku dengan murka, lalu menyodorkan sebuah figura di depan dada. Kutundukkan pandangan ke arah benda pipih berbentuk segiempat itu dengan mulut menganga. Kemudian, menggeser pandangan ke arah Nata. Pria itu hanya bisa berdecak dan menggelengkan kepala, kemudian menunduk dengan makna bahwa aku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Ternyata aku hanyalah sebuah pelarian buat kamu, Mas." Ia mulai bersuara. Beriringan dengan isak tangis yang begitu menyayat dada. Aku yang tidak terima dengan ucapannya, lantas memegang erat kedua lengannya.


"Kamu ... kamu sudah salah paham, Rona. Aku bisa menjelaskan semuanya," belaku agar Rona tidak salah sangka.

__ADS_1


Oh, tidak!


Di saat aku akan mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan, tiba-tiba ujian baru datang menerpa.


__ADS_2