
Aku terus berpacu dalam langkah, walaupun rasanya kedua tungkaiku sudah tak memiliki sisa-sisa kekuatan lagi untuk bertahan. Setelah keluar dari jeruji serigala itu, aku langsung menyusuri jalan tikus yang menghubungkanku dengan sebuah lapangan.
Lapangan luas yang tampak seperti sebuah arena untuk bermain golf dan beberapa jenis olahraga lainnya. Matahari belum juga menaiki singgasananya. Walaupun bendang kuning sudah tampak samar-samar di ufuk timur, namun piasan cahayanya belum bisa menerangi jagat raya.
Aku terus melangkah walaupun tampak gontai, hingga akhirnya perjalananku sampai di penghujung lapangan. Aku mengerjap sesaat, menatap sebuah kendaraan yang terparkir sempurna di ujung jalan. Samar-samar pandanganku penangkap keberadaan seorang pria sedang berdiri--bersandar pada kendaraan.
"Ibram ...!" gumamku lirih, lalu menambah langkahku untuk mencapai tujuan.
Kalian masih ingat pada pria muda ini?
Ya, sebelumnya ia merupakan bawahanku ketika masih bertugas di Polresta, kota ini. Memiliki perawakan tinggi sekitar seratus tujuh puluh centimeter, berwajah tirus seperti layaknya orang-orang Hindi.
Setelah melihatku yang hanya berjarak lima meter dari posisinya bersandar, Ibram langsung menegakkan tubuh dan tersenyum pada diri ini. Tentu saja, aku melakukan hal serupa untuk menanggapi.
Namun, ketika hendak akan melangkahkan kaki, seluruh tubuhku terasa mati rasa, kemudian terjerembab begitu saja, seperti halnya orang yang tak sadarkan diri.
Ah, payah!
Aku masih berusaha untuk terus bangkit, namun rasanya berat sekali. Seolah ada beban yang beratnya berton-ton tengah diikatkan pada kedua kaki.
__ADS_1
"Komandan ...!" pekik Ibram.
Karena melihat kondisiku yang tiba-tiba ambruk seperti hilang kendali, dengan cekatan Ibram langsung berlari, mungkin berniat untuk membantuku berdiri.
Tetapi, aku sudah tak berdaya lagi. Kesadaranku perlahan lenyap seperti halnya melihat kunang-kunang, yang terbang ke sana kemari mengitari kepala ini.
...***...
Mataku mengerjap berkali-kali--mengondisikan pandangan--karena baru saja terjaga dari alam mimpi. Tampak suasana ruangan serba putih mengkilau, dengan selang sebiji bergelantungan di sampingku saat ini.
Aku tahu tempat apa ini ...!
Sebenarnya aku merasa baik-baik saja, namun karena sudah lama tidak menerima asupan makanan, jadilah tubuhku kekurangan nutrisi. Tenagaku terkuras habis hanya untuk bertahan selama sepekan belakangan ini. Entah, apa yang sudah merasuki diri, sehingga tidak sedikit pun sudi untuk menelan makanan yang mereka suguhkan padaku saat masih terlilit tali.
CEKLEK
Dari celah daun pintu yang tersibak, tampak seorang lelaki paruh baya, yang aku yakini adalah dokter yang menanganiku. Langkahnya diekori oleh seorang perawat wanita dan Ibram pada urutan berikutnya--melemparkan senyuman penuh syukur ke arahku.
"Selamat sore, Pak Huda!" sapanya, seolah sedang memberitahuku-sudah berapa lama aku betah berkelana di dalam alam bawah sadarku.
__ADS_1
Aku tersenyum tipis menanggapinya tanpa mengatakan sesuatu. Karena bibirku masih terasa sangat kelu dan semua otot-otot yang terjaring di dalam tubuhku ini sangatlah kaku.
Dokter itu langsung menodongkan sebuah senter dan membelalakkan kedua mataku secara bergantian, setelah meminta izinku.
"Tidak ada trauma yang mendalam. Saya pastikan bahwa kondisi psikis Anda baik-baik saja," tukasnya sembari menyetel lebih cepat tetesan air infus yang berjalan agak lamban, memasuki tubuhku. Sementara, suster itu mengambil peran untuk mencatat seluruh dialog dokter, yang menyatakan tentang kondisi terbaruku.
Pastinya, aku baik-baik saja. Aku hanya butuh asupan untuk memulihkan tenaga. Bukannya sakit jiwa!
"Hanya butuh waktu," tuturnya sembari menuliskan sesuatu. "Semoga kondisi Anda lekas pulih, Komandan. Saya permisi dulu." Ia tersenyum ramah, lalu pergi meninggalkanku bersama asistennya itu.
Sepeninggalan dokter tadi, Ibram melangkah mendekat dan berdiri di samping kasur, lalu menyerahkan sebuah map berwarna cokelat muda padaku. "Komandan pasti bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berada di sana sepagi itu." Ia menjelaskannya terlebih dahulu, seolah sedang membaca pikiranku. Aku yakin, ia berani membahas kejadian yang sudah berlalu, setelah mendengarkan penjelasan sang dokter tentang kondisiku.
Dengan perlahan kucoba membuka map tersebut, yang ternyata berisi ponsel dan dompetku.
"Seseorang sudah mengirimkannya kepada saya, dan menulis pesan agar saya menjemput Anda di sana pagi-pagi buta." Ia masih menatapku seolah tatapannya sedang menyiratkan sesuatu.
"Tapi, Ndan, saya masih penasaran kenapa Anda bisa berada di sana, dalam kondisi yang memprihatinkan seperti itu."
Aku hanya bergeming mendengarkan celotehannya yang setiap kalimatnya mengandung misteri juga untukku.
__ADS_1