
...POV ARONA MAULIDA PART 2...
Dengan terpaksa aku harus menceritakan karakter berbeda pada pengakuanku yang sebelumnya. Sebenarnya, hal itu aku lakukan untuk tetap menjaga keutuhan misi rahasia. Jadi, tolong maafkan aku para pembaca, jika mungkin sudah sukses membuat kalian berburuk sangka hingga emosi jiwa.
Baiklah!
Sepertinya, aku tidak perlu melakukan perkenalan sesi kedua. Karena kalian juga sudah mengetahuinya. Sekarang, aku cukup menjawab teka-teki yang selama ini tampak begitu kentara.
Begini cerita sebenarnya!
Sebelumnya, kalian harus tahu dulu bahwa aku memang memiliki netra berwarna biru tua. Namun, aku berusaha menutupinya selama menjadi seorang mata-mata.
***
Saat pertama kali melihat Zainul Huda, aku seakan menemukan jati diriku yang sebenarnya. Wajah pria itu sukses menyeret memoriku yang sudah tertutup lama menjadi terbuka. Hingga perlahan aku bisa mengingat masa laluku seutuhnya. Apalagi, setelah dipertemukan dengan kedua orang tuanya dan melihat figura yang waktu itu aku jadikan alasan untuk meminta perpisahan darinya.
Ya, aku adalah Sidqia, bukan Arona Maulida. Nama itu hanya diberikan Bang Edi sebagai nama sementara hingga aku bisa kembali mengingat semuanya.
Dan ... tentu saja fakta ini sangat membuatku bahagia tiada tara. Setelah sekian lama berpisah, aku bisa kembali dipertemukan dengan keluarga. Keluargaku, pastinya.
Namun, aku tetap belum bisa mengakui kebenaran ini di hadapan Huda dan keluarganya, karena saat itu aku sedang berada dalam sebuah misi atas nama negara.
Teka-teki pertama!
Aku dibawa ke rumah kedua orang tua Huda sebagai seorang Arona Maulida bukanlah Sidqia. Namun untuk membuktikan asumsiku yang masih abu-abu, aku memutuskan untuk menyamar sebagai seorang polisi wanita atas nama Sidqia. Dengan menampakkan ciri khasku yang tidak dimiliki oleh Rona, yaitu bola mata biru tua.
Nah, untuk masalah penempatan tugas sementaraku kala itu, tentu saja bisa terwujud atas bantuan Kapolda.
__ADS_1
Namun, dalam menjalankan misi yang satu ini aku juga membutuhkan bantuan seseorang agar semuanya berjalan mulus seperti yang sudah terencana. Akhirnya, aku menemui sahabat Huda untuk meminta bantuannya. Kalian semua sudah tahu pasti siapa orangnya.
Ya, Andrea Winata!
Siapa lagi kalau bukan dia?
Awalnya, Nata tidak percaya bahwa aku ini masih hidup dan berbentuk normal seperti sedia kala. Namun, setelah menceritakan kronologi yang sebenarnya, barulah dia bersedia pasang dada.
Nah, jika ditanya siapa yang sudah mengirimkan pesan kaleng kepada Huda setelah hari pernikahannya? Jawabannya adalah aku sendiri--sebagai Sidqia. Karena selama ini hanya akulah yang menyematkan panggilan 'Zain' itu padanya. Dan hal itu aku lakukan agar ia kembali mengingat mendiang adiknya.
Next, aku datang untuk menemui Huda sebagai asisten pribadinya. Dalam rangka perkenalan diri sekaligus mengantarkan berkas yang harus dia lengkapi untuk giat pemutasiannya. Berhubungan dengan hal ini, aku menggunakan jasa orang lain untuk menjadi tamu misterinya Huda. Lalu, ketika ia turun untuk menemuinya, barulah aku bergegas berganti peran sebagai Sidqia.
Ditanya bagaimana caranya aku bisa sampai di bawah dalam sekejap mata? Tolong jangan bayangkan aku sebagai wanita biasa! Aku adalah seorang intel, yang sudah terlatih bak seorang agen rahasia. Jadi, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagiku, Para Pembaca.
Kemudian, scene berikutnya adalah kedatangan Nata. Hal itu adalah bagian dari rencana. Dia sengaja datang untuk menemui Huda, agar bisa membantuku untuk membuat jeda. Jeda perpindahan antara Sidqia dan Rona.
Dimana Sidqia pamit pulang, kemudian Andrea Winata datang, sehingga Huda mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar untuk menemui Rona?
Ya, di situlah aku mempunyai waktu untuk sekedar meneruskan drama.
***
Teka-teki yang kedua!
Untuk momen malam pertama yang tampak seperti omong kosong belaka.
Ya, benar sekali, kami tidak pernah melakukannya. Karena aku sudah memasukkan obat tidur ke dalam minuman yang Huda tenggak sebelumnya. Bagian ini memang tidak ditampakkan di dalam cerita.
__ADS_1
Jika ditanya kenapa aku melakukannya?
Jawabannya adalah karena yang aku tahu, kami berdua adalah saudara. Saudara kandung pastinya.
Namun, asumsiku itu tidak berangsur lama. Karena sebuah fakta mengejutkan tiba-tiba datang menghamtam jiwa dan raga. Fakta yang sukses menyesakkan rongga dada dan sekitarnya. Fakta yang hampir saja membuatku tak ingin kembali membuka mata. Fakta yang menyatakan bahwa aku ini bukanlah anak kandung dari keluarga Huda, melainkan adik kandung dari Endar Riyahdi--penjahat ulung berkedok dewa.
Aaaarggghhh!
Awalnya aku sendiri juga tidak ingin menerima fakta menyakitkan ini. Namun, mau bagaimana lagi? Menilik dari kegigihan Endar dalam misi menghancurkan kehidupan Huda, itu sudah cukup membuktikan bahwa semua berita yang aku dapatkan darinya bukanlah sekedar omong kosong kali ini.
Dan pastinya, aku sangat terpukul sekali ...!
Menangis sejadi-jadinya. Mengutuk takdir yang seolah sedang mempermainkanku dalam sekejap mata. Menelantarkanku dalam kubangan misteri dan rahasia, kemudian mengikatku dalam lika-liku kehidupan yang aku sendiri juga tidak memahaminya.
Aku terluka!
Aku tersiksa!
Aku bahkan merasa terhina!
Ya, menerima fakta bahwa aku adalah adik kandung dari seorang bandar narkotika, bukanlah hal yang membuatku bangga. Apalagi saat ini tugasku adalah memata-matainya. Namun, aku tidak boleh terbuai dan terlena. Walaupun Endar adalah kakak kandungku, namun mengungkap kebenaran harus tetap menjadi tujuan utama.
***
Pergulatan emosi dan pikiran itu terus meraja lela. Hingga akhirnya ketika Huda melaksanakan momen serah terima jabatannya, aku pun pamit kepada ayah dan ibu untuk menyusulnya.
Dan di sinilah letak teka-teki yang ketiga!
__ADS_1