
Sungguh, untuk saat ini aku tidak bisa berkata-kata lagi. Kejutan demi kejutan mulai meledak menunjukkan keeksistensiannya sendiri. Walau ini bukanlah yang pertama kali, namun rasanya sangat sulit untuk meyakinkan diri bahwa yang di hadapanku ini benar-benar sang istri.
Sosok yang sejauh ini aku ketahui sebagai robot di bawah kendali Endar Riyahdi. Sosok yang sejauh ini masih menduduki peringkat pertama di dalam hati. Sosok yang selama ini selalu menghantuiku di dalam mimpi, dan sosok yang selama ini masih tetap kunanti.
Apakah momen ini akan menjadi akhir dari cerita kami?
Aku rasa tidak!
Karena masih banyak hal yang harus aku ketahui. Baik mengenai drama yang ia lakonkan selama ini. Mengenai penyamarannya sebagai sosok Sidqia ketika masih menjabat sebagai asisten pribadi. Mengenai drama permintaan perpisahan yang ia ajukan dengan kesungguhan hati. Mengenai masuknya ia ke dalam kehidupan seorang Endar Riyahdi, dan mengenai keterkaitannya dengan Nata dan juga Edi.
Aku berhak mendapatkan penjelasan atas semua ini ...! Begitulah tekadku di dalam hati.
Rona dan yang lainnya masih fokus pada penjelasan Kapolda, sementara aku sudah tidak bisa lagi memfokuskan diri. Hal ini terlalu mengejutkan bagi diri. Perasaan-perasaan yang muncul saat ini seakan terasa berkecamuk dan tak tentu arah, seperti halnya buntalan benang kusut yang meliliti hati.
Merasa dikerjai sekaligus diuji ...!
Dari ekor mataku, Nata dan Edi tampak saling sikut satu sama lain--mencurigakan sekali. Mungkin setelah keluar dari ruangan ini dua pria tersebut harus menyiapkan amunisi untuk kuinterogasi.
__ADS_1
***
Waktu terus bergeser sesuai porsinya, namun aku tak juga bisa memejamkan mata. Hingga fajar menyongsong cahaya indahnya pun, pikiranku masih bergulat dengan seribu tanya.
Rona!
Bagaimana dia bisa menjadi Sidqia?
Dan Edi ...!
Bagaimana pria itu bisa mengakui Sidqia sebagai adiknya?
Aku harus menemukan jawabannya!
Setelah selesai membersihkan diri, aku langsung bergegas keluar kamar dan mencari keberadaan mereka. Sejak keluar dari ruangan Kapolda tadi malam, Nata sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Aku rasa dia memang sengaja menghindariku dengan segala bentuk pertanyaan, yang sedang aku butuhkan jawabannya.
Bertahun-tahun aku terperangkap dalam lingkaran teka-teki dan berbagai macam rahasia. Tak menemukan petunjuk apa pun selain jalan buntu yang menekuk di hadapan setiap harinya. Merasa tersesat di kala aku sedang membutuhkan seberkas cahaya. Namun, hari ini, aku harus mengakhirinya. Menguak semua misteri yang mereka punya, dan menentukan jalan hidup untuk ke depannya.
__ADS_1
Lebih tepatnya, menemukan jawaban dari pertanyaan--apakah benar ini adalah tentang kisah cinta? Atau ... hanya tentang sebuah pengabdian pada negara?
Setelah langkahku tiba di restoran penginapan, bisa kulihat ketiganya sedang berkumpul bersama dalam satu meja. Membicarakan sesuatu yang aku sendiri pun belum mengetahuinya. Namun, setelah menyadari kehadiranku, mereka terlihat bungkam dan tak satu pun berani bersuara.
Kumajukan langkah dan menarik salah satu kursi, kemudian duduk tepat di samping Rona. Mereka mulai saling melempar tatapan satu sama lain ketika melihatku yang tak kunjung berbicara.
"Saatnya membuka topeng kalian! Aku tidak perlu lagi mengajukan banyak pertanyaan."
Bertopang dagu pada kedua tangan, pandanganku tertuju lurus ke depan tanpa menatap salah satu pun dari mereka. Atmosfer di sekitar kami pun terasa sangat menyesakkan seolah lapisan ozon yang berada di atas sana, tak lagi menjalankan fungsinya.
"Huda ... tidak cukupkah semua yang sudah dijelaskan oleh Kapolda?"
Setelah sekian lama betah di dalam gemingnya, akhirnya Rona mulai angkat suara. Aku langsung merotasikan pandanganku ke arahnya. Menatap kedua netranya lekat, penuh makna.
"Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk sekedar memahami semuanya, apalagi hanya penjelasan singkat dari Kapolda." Gerakan bola matanya mengikuti arah dimana bola mataku berada. "Kenapa pertama kali melihatmu tadi malam, aku seolah melihat Sidqia?!" desakku, seolah ingin membuatnya tidak bisa lagi berkilah dan melanjutkan sesi drama. Dia terus menatapku balik dengan tetap diam seribu bahasa. Namun, kedua netra biru itu--sungguh tidak bisa aku percaya. Apa ia benar-benar Sidqia?
"Huda ... gue bisa jelasin semuanya." Edi terdengar ingin menawarkan negosiasi agar aku tidak terus mendesak adiknya.
__ADS_1
Sontak kuakhiri tatapan mengintimidasi yang kuarahkan pada Rona, lalu menarik napas dalam sekedar untuk mempersiapkan diri sebelum mendengarkan penjelasan dari mereka bertiga.