
Rona sontak mengerjap seakan tak percaya. Mungkin kewarasannya sudah kembali seperti sedia kala, seolah baru keluar dari sihir ketakjuban dari perlakuan lembutku yang tetap menunjukkan bahwa masih ada titik bahkan gumpalan rasa yang terjaga. Aku juga yakin, mungkin dia merasa tidak habis pikir, bagaimana aku bisa bersikap sebaliknya--tak seperti apa yang ia duga.
"Katakan, Rona!"
Aku masih berusaha menguasai emosi diri dan kepedihan jiwa. Bagiku, walaupun dia sudah menusukku dengan sebuah belati tak kasat mata, namun rasa ini, hati ini, jiwa ini, apalagi raga ini, seolah terus mendorongku untuk tetap mencintainya.
Dia bukanlah Arona. Bukanlah Arona yang aku cinta!
Malangnya adalah sugesti itu hanya ada di dalam kepalaku saja, namun sangat berbeda dengan kenyataannya.
"Aku akan mengatakannya," tuturnya seraya menunduk pasrah, merasa tak berdaya karena sudah terhipnotis oleh pandangan suaminya. Pandangan yang tidak pernah berubah, pandangan yang tidak pernah berpura-pura, dan pandangan yang sama persis seperti ketika terakhir kali ia melihatnya.
Aku menarik telak tubuhku dari Rona, menghela napas dalam untuk sekedar mengisi rongga dada, lalu berkacak pinggang seraya memunggunginya. Kudongakkan pandangan ke langit-langit ruangan, yang kali ini menjadi saksi bisu akan tak berdayanya seorang abdi negara ketika bersitatap dengan sang tercinta.
__ADS_1
Hal ini juga bisa membuktikan bahwa polisi itu juga manusia!
"Aku bukanlah sosok yang sama seperti yang kamu pikirkan, Huda." Ia memulai dongengnya. "Aku ini adalah tipu daya. Aku adalah robot yang diciptakan Endar ... hanya untuk mengecohmu semata." Emosinya tersulut seketika, terbukti dengan terdengarnya deru napas yang kian jelas di rongga telinga.
"Aku sengaja dikirim untuk melenyapkan rencanamu ketika hari itu, kamu datang sebagai seorang mekanik dan ingin mengobrak-abrik markasnya. Hanya untuk menemukan semua bukti agar bisa mencebloskan Endar ke dalam penjara," ucapnya dalam satu tarikan napas dengan sempurna.
Kedua tanganku mengepal erat ketika ia mengatakan prolog yang cukup sukses menyulut emosi jiwa. "Teruskan!" titahku tanpa berpanjang lebar, karena tidak sabar lagi untuk mendengarkan episode selanjutnya.
"Maka dari itu, Endar memintaku untuk ikut bersamamu, menerima lamaranmu, dan memata-mataimu." Ia berhenti sejenak, sekedar untuk mengisi oksigen ke dalam rongga dadanya.
Rona terdengar menghela napas panjang, mungkin ia sedikit ragu untuk mengatakannya. "Karena kamu sudah merebut miliknya."
JLEB
__ADS_1
Apa aku tidak salah dengar?
Dengan gerakan cepat, aku langsung memutar badan, dan menggebrakkan kedua telapak tangan di atas meja. Tatapan mengintimidasi tertuju lurus kepada Rona. Namun, anehnya, wanita itu tak sedikit pun bergidik ngeri dan merasa berdosa.
"Memangnya apa yang sudah aku rebut darinya?" pekikku tidak terima. Rona sontak terperanjat sempurna seraya memegang dadanya. Selama kami hidup bersama, tidak pernah sedikit pun ia melihat api amarah di wajahku tiap kali kami bertatap muka.
Selama ini ia mengenalku sebagai pasangan yang sabar dan penyayang, namun tegas dan juga tidak gampang untuk tergoda. Kasih sayang dan sikap lembut yang selama ini aku sirami dalam kehidupannya, adalah bukti dimana aku memanglah bukan sosok yang mudah emosi jika sedang diterpa bencana.
Namun, ada satu hal yang belum sempat ia ketahui bahwa sifatku adalah analogi dari sifatnya serangga, yang apabila diusik maka akan berubah wujud menjadi singa.
"Endar tidak mengatakan apa pun tentang hal itu." Ia berusaha menjawab pertanyaanku sebisanya. Namun, aku tidak semudah itu bisa percaya, setelah semua drama yang sudah ia lakonkan dengan sangat rapi dan nyaris sempurna.
"Jangan lagi menoreh luka untuk yang ke sekian kalinya, Rona. Cukup aku saja yang sengsara. Karena jika kamu berada di posisiku saat ini, aku bisa pastikan bahwa dirimu akan jauh lebih murka."
__ADS_1
Rona tampak gelagapan dalam bahasa tubuh yang tidak bisa aku baca.