
Setelah meringkus semua pria kembar kepala itu, kami pun membawa semua sandra ke Polda, untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya. Berbondong-bondong dari kami meninggalkan tempat durjana itu dan berjalan menuju mobil angkut polisi yang sudah disiapkan di pinggiran jalan raya.
"Sukses, Bro." Nata tiba-tiba muncul dari belakangku dengan menenteng dua gelas kaca. Aku mengernyitkan dahi, seolah bertanya-tanya, dari mana dia mendapatkannya?
"Ngopi, dulu!"
Aku mengekorinya memasuki mobil yang sama, lalu kendaraan itu pun beranjak meninggalkan kawasan hutan belantara.
"Ta, tadi aku sempat melihat seorang wanita," tuturku padanya. Kali ini aku tidak bisa menahan rahasia. Aku butuh pendapat Andrea Winata.
Dia sontak menyesap kopinya, kemudian bertanya, "Memakai topeng?"
Pandanganku yang awalnya tertuju ke depan, sekarang berotasi ke arahnya. Kutatap ekspresi santai yang sudah menjadi ciri khasnya, lalu tiba-tiba menaruh curiga.
"Kalian bekerja sama?" tanyaku lagi padanya yang saat ini mulai menaikkan nada bicara. Sementara Ibram masih fokus dengan kemudinya.
Nata masih saja menikmati hangatnya kopi di malam gelap gulita sembari meresapi musik ala-ala barat daya. Aku yang tak juga mendapatkan jawaban darinya, lantas meletakkan cangkirku di atas meja kecil yang tersedia di sana, kemudian meraih kerah bajunya.
"Jawab aku, Ta!"
Ibram sepertinya bisa mendengar suaraku yang sudah membahana seantero mobil operator milik Polda. Tiba-tiba ia menepi dan mematikan mesin mobil seketika. "Ada apa, Ndan?" tanyanya kelimpungan yang sudah melihatku siap membogem wajah Nata.
"Jalan terus, Bram." Nata memberikan instruksi pada Ibram, seolah tetap menunjukkan bahwa dirinya masih baik-baik saja.
Ibram lantas meneruskan perjalanan menuju Polda sembari sesekali mencuri pandang ke arah kami melalui kaca persegi panjang yang terdapat di hadapannya.
"Nanti juga kamu bakalan tahu," ucap Nata seraya melepaskan tanganku darinya.
***
__ADS_1
Semua tersangka sudah dimasukkan dalam penjara sementara. Sedangkan para wanita korban penipuan itu dikumpulkan di salah satu mess polwan yang berlokasi di dekat sana.
"Bagaimana kalian bisa berada di sana?" tanya salah satu polwan untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut dari mereka.
Rata-rata para wanita itu masih kelihatan shock karena tragedi malang yang sudah menimpa hidup mereka. Hingga akhirnya, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menjadi juru bicara.
"Awalnya kami dijanjikan untuk diberikan pekerjaan. Tapi, sekian lama ditempatkan di penampungan, mereka tak juga memberikan kepastian. Hingga akhirnya, kami disekap di gedung tadi tanpa adanya kabar berita," tutur wanita itu--menjelaskan alur cerita yang sebenarnya.
Hanya ada dua orang polwan di sini, dan sisanya ada Edi, Ibram, Nata, dan aku pastinya. Kami harus menguak kasus ini hingga selesai dan menangkap dalangnya.
"Mereka? Mereka siapa?" tanya Ibram yang mungkin sudah tidak sabar untuk mengetahui pelakunya.
Dengan wajah takut wanita itu mengatakan, "putra sang walikota beserta orang-orangnya."
DEG
Aku langsung mengepalkan kedua telapak tanganku setelah mengetahui orangnya. Nata dan Edi hanya bisa bertukar pandang, lalu membawaku keluar dari sana.
"Ada apa?" tanyaku kepada mereka.
"Kapolda ingin bicara," jawab Edi seraya diangguki oleh Nata.
Kami bertiga langsung menuju ruangan sang atasan, kemudian memasuki ruangannya setelah dipersilakan oleh si empunya. Karena ini sudah larut malam, tidak ada satu pun sepri yang bertugas, hanya tampak dua orang ajudan pria saja.
"Pelakunya sudah diringkus," tutur Kapolda yang membuat kami bertiga terperangah mendengarnya.
"Regu tiga sudah memergokinya ketika mereka berada di posisi saat penggrebekan dilakukan," sambung beliau dengan senyuman penuh syukur tersungging di wajahnya.
Setelah beliau mengatakan berita baik tersebut, ada sekitar lima orang memasuki ruangan, dan salah satunya adalah seorang wanita.
__ADS_1
DEG
Dia ...!
Sejak ia memasuki ruangan ini, aku tak sedikit pun mengalihkan perhatianku darinya. Debaran di dalam dada pun semakin bertabu ria bahkan mungkin bisa terdengar jelas oleh Edi dan Nata.
Wanita itu masih mengenakan topengnya. Sepertinya dia belum ingin menampakkan identitas aslinya.
"Bersyukurlah karena selama ini kita sudah memiliki seorang mata-mata yang begitu cerdik dan berani." Penuturan Kapolda sukses memutus pandanganku yang sedari tadi hanya fokus pada si wanita.
"Tugasmu sudah selesai, sekarang kamu bisa buka topengmu!" titah Kapolda padanya.
Suasana ruangan terasa hening seketika, seolah semua yang ada di sini sedang mengheningkan cipta.
SRAAAH
Ketika topeng yang ia kenakan terbuka, tampaklah wajah yang serupa dengan Rona. Namun, yang membedakan wanita itu dengan Rona adalah bola mata biru--miliknya.
"Sidqia ...!" gumamku yang sepertinya dengan tidak sengaja sudah melafalkan namanya.
"Kamu mengenalnya, Huda?" tanya Kapolda.
"Siap, Komandan. Saya mengenalnya," jawabku seraya terus menatap Sidqia.
Kapolda tampaknya sedang tersenyum, begitu juga dengan yang lainnya. Lalu, pandanganku terputus ketika menyadari sang atasan beranjak dari kursi kebanggannya dan mengitari meja.
"Perkenalkan, Aipda Arona Maulida. Salah satu anggota terbaik satuan Intelkam yang sudah lama bertugas dalam misi pengungkapan beberapa bisnis ilegal dari putra sulung sang walikota."
APA???
__ADS_1