
Perlahan kusibak daun pintu yang tadinya masih tertutup sempurna. Sejenak menundukkan pandangan untuk mengondisikan tabuan rebana di dalam dada. Menjinakkannya dengan memberikan oksigen segar agar bisa diajak berkompromi untuk sementara.
Di saat aku mendongakkan pandangan, kulihat seorang wanita yang masih terduduk patuh di atas kursinya. Bersandar kening pada wajah meja, dan melipat kedua lengannya di atas kepala. Apa dia masih baik-baik saja?
Oh, Cinta ...!
Rasanya ingin sekali kurengkuh tubuh lemasnya, yang mungkin sudah merasa jengah dengan berbagai pertanyaan memuakkan sepanjang pemeriksaan dari para anggota. Namun, sesungguhnya keinginan tersebut hanya ada di dalam lubuk hatiku saja. Karena kenyataannya adalah wanita itu bukanlah Rona yang aku puja.
Masih kupantau dari kejauhan, ia tak sedikit pun ingin mengangkat kepala, walaupun dirinya sangat menyadari bahwa ada yang sedang memasuki ruangan ini untuk menemuinya.
Kutambah langkah menuju meja persegi panjang berukuran kira-kira 2x1 meter, jika tidak salah menerka. Menggapai sudut meja, lalu membalikkan badan sehingga posisiku membelakanginya, yang sedang duduk di kursi, tepat di ujung sana.
__ADS_1
Aku tidak ingin menatap wajahnya jika aku mulai mengeluarkan suara, karena aku tidak sanggup untuk memandang wajahnya.
Ditanya kenapa?
Karena titik kelemahan hatiku berada pada pesonanya yang tidak pernah mati walaupun sudah diterpa bencana. Bencana hati yang sanggup menghimpit seluruh tulang rusukku, hingga menimbulkan rasa sesak yang teramat sakit menekan dada.
"Mungkin aku tak berhak atas penjelasan apa pun. Namun, aku butuh penjelasan itu." Memasang posisi setengah duduk di pojokan meja. Aku tak bisa lagi menahan rasa penasaranku terlalu lama. Memenjarakannya selama empat tahun di dalam teluk rindu, bukanlah hal yang mengenakkan bagiku, sebenarnya.
Rona masih tak bersuara, namun bisa kudengar pergerakan kecil dari tubuhnya yang menimbulkan suara gesekan antara tangannya dan meja. Kurasa ... ia sedang bergerak untuk menegakkan kepalanya.
"Semua kisah yang kamu anggap representasi dari cinta itu semuanya hanya bualan belaka! Hahahaha ...." soraknya beriringan dengan gelak tawa yang membahana. "Apakah aku pernah sekalipun mengatakannya?" tanyanya, setelah tawa itu berakhir sempurna.
__ADS_1
Aku masih mencerna kalimatnya. Mencoba memahami kemana arah pembicaraannya.
"Aku tidak pernah sekalipun mengatakan jika aku mencintaimu, Huda!" pekiknya dengan deru napas dan emosi yang membara. Sepertinya ia sedang ingin mengupas semua rahasianya melalui drama yang kedua.
"Aku tidak pernah mencintaimu, kau dengar itu?!"
BRAAAK
Ketika mendengar kalimat terakhirnya, aku sungguh tak tahan lagi untuk tidak menggebrak meja. Tatapan gamang diselipi dengan panah kerinduan kini masih jelas tampak di pelupuk mata. Rona yang tadinya sempat terperanjat, kini malah membalas tatapan sejurusku yang mungkin turut menembus pertahanannya.
Tanpa mengeluarkan kata-kata, kakiku seakan tertarik untuk mendekatinya. Mengikis jarak yang selama ini sudah memisahkan kami berdua. Pandangan serupa masih kutujukan pada kedua bola matanya. Menurunkan tubuhku sedikit dan memaku sebelah tangan di atas meja.
__ADS_1
Kedua netra yang sudah lama tak tampak dalam pandangan, kini sedang menatapku dengan lekat dalam jarak seadanya. Begitu dekat, hingga napas hangatnya pun mampu menabrak wajahku yang masih memandangannya dengan tatapan serupa. Tanpa memerlukan izin resmi darinya, wajahku semakin mendekat dan mendaratkan kecupan kecil pada sudut bibirnya.
Ia tak memberikan penolakan, apalagi mendorong tubuhku hingga terjungkal, namun bisa kurasakan tubuhnya menegang, lalu memejamkan kedua matanya. Kutarik bibirku darinya, kemudian kembali menatapnya dengan seksama. "Coba katakan sekali lagi, kalau kamu benar-benar tidak mencintaiku!'