Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 28


__ADS_3

Belum sempat aku membalikkan badan, sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilat tiba-tiba memasuki pekarangan. Aku tahu betul--siapa si empunya kendaraan. Beberapa detik kemudian tubuh tingginya menyembul dari balik pintu mobil yang baru saja ia sibakkan. Mengenakan kacamata hitam, celana selutut, dan kaos oblong kegemaran.


"Sidqia, ngapain kemari?" selorohnya begitu saja sebelum ia tiba di hadapan.


Aku hanya melangitkan berkas yang tadinya sempat Sidqia berikan, lalu kembali mendudukkan diri di kursi taman. Ia yang paham dengan kode tersebut, lantas berjalan mendekat dan duduk bersebelahan.


"Baru juga kemarin ke sini, terus sekarang ngapain ke sini lagi?" tanyaku dengan nada mencemooh.


Dia tersenyum payah, lalu menatapku penuh curiga. "Pasti belum dapat jatah, 'kan? Makanya kamu sewot kayak kakek-kakek," ujarnya sembari tersenyum mengejek.


Tanpa merespon ucapannya yang memang benar itu, aku lantas menegakkan posisi tubuhku. Seketika terbersit satu pertanyaan penting di benakku, dan aku yakin dia bisa memberikan jawabannya padaku.


"Ta, kamu sudah lama mengenal Sidqia?" tanyaku dengan ekspresi wajah antusias. Dia yang mungkin sudah mengira bahwa aku akan menanyakan hal itu, hanya melirikku sekilas.


"Sudah kuduga," gumam pria berambut ikal sebahu itu, dengan ekspresi seriusnya seorang ilmuan fisika. "Sebaiknya, kamu kembali ke kamar dan selesaikan dulu misimu. Kalau sudah sukses, baru temui aku!" titahnya, kemudian berlalu.

__ADS_1


Anak itu!


Belum sempat aku memberikan respon, ia sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. "Mau kemana kamu?" teriakku ketika ia sudah melewati mulut pintu.


"Menemui ayahmu, ada bisnis penting yang akan kuselesaikan dengan beliau." Suaranya sudah terdengar menggema seantero ruangan, pasti. Aku hanya menggeleng pelan, lalu menerima sarannya untuk menemui sang pujaan hati.


Betul juga kata si Nata, buat apa aku terlalu memikirkan tentang misteri kehadiran Sidqia. Lebih baik, aku menemui Rona yang jelas-jelas sudah menungguku di kamar lantai dua.


...***...


Terlepas Tuhan sedang memberiku teka-teki saat ini, aku tidak boleh kehilangan konsentrasi diri. Karena sudah ada sosok terkasih yang rela melewati maut demi menjadi pendamping diri. Jadi, sudah sepatutnya harus aku syukuri.


Tidak akan pernah!


Ketika kedua kakiku sudah menapaki lantai dua, tak kusangka Tuhan sudah menyiapkan pemandangan yang super menggoda.

__ADS_1


Rona!


Dengan mengenakan gaun yang sama, berdiri eksotis memenuhi mulut pintu kamar kami. Aku yang tiba-tiba merasakan denyutan menggelitik pada tubuh bagian bawahku, lantas melangkah perlahan untuk mendekati. Mendekati sang pujaan hati, yang kali ini sedang mencoba menggoda sang suami.


Ia tersenyum tipis ke arahku, namun cukup membuat hati cenat-cenut saat memandangnya. Sumpah demi apa pun, aku sudah tergoda oleh polahnya.


Pandangan kami berdua bertaut lekat bak tempelan perangko pada amplop surat. Amplop cokelat muda di tangan pun jatuh terkulai di lantai, padahal tadinya tergenggam sangat erat. Tentu saja, karena sudah terhipnotis dengan iming-iming surga dunia yang akurat.


Ketika tubuhku menempel sempurna padanya, ia malah menundukkan kepala. Sepertinya, ingin kembali mengalihkan perhatianku, yang saat ini sudah benar-benar fokus padanya.


Tanpa memperdulikan lagi sikap malu yang muncul begitu saja dari dalam dirinya, kugendong tubuh idealnya itu dalam sekali hentakan. Menutup daun pintu dalam sekali tendangan, lalu meletakkan tubuhnya perlahan pada pembaringan.


"Bukannya di bawah lagi ada Nata, ya?" tanyanya ketika aku mendudukkan diri di sampingnya. Membuatku mengerutkan dahi dan memandangnya penuh curiga.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya.

__ADS_1


"Tadi, aku lihat dari jendela," jawabnya dengan senyuman penuh pesona.


Berarti ia juga melihat kedatangan Sidqia, batinku setelah mendengar jawabannya.


__ADS_2