Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 48


__ADS_3

Manusia memang tidak bisa memprediksi takdir diri. Siapa yang bisa mengira, aku akan menginjakkan kaki lagi di kota ini. Bagi siapa pun yang dihantui rasa traumatik tingkat tinggi, aku rasa mereka tidak akan pernah kembali ke tempat yang sama lagi. Sehingga tidak akan menciptakan lonjakan hebat di dalam hati, karena selalu dihantui kekhawatiran terhadap keselamatan diri.


Namun, berbeda dengan kondisiku saat ini. Selain tidak pernah mengalami gejala aneh yang merujuk kepada kekacauan mental, aku juga tidak bisa menghindarkan diri dari tugasku sebagai seorang polisi.


Kewajiban yang aku emban lebih berat dibandingkan dengan keselamatan diri, yang selama ini sering dicemaskan oleh banyak hati. Tenanglah, aku pasti akan selalu dilindungi. Walaupun harus melewati kerikil bahkan batu besar di setiap langkah yang aku tapaki, namun tetap saja, pada akhirnya Sang Penguasa akan mengulurkan tangan-Nya untuk mengasihani.


***


Sesampainya di ibu kota provinsi, kami berdua langsung menuju hotel yang sudah disiapkan oleh pihak Polda. Semua anggota dari beberapa jajaran Polres dan Polresta yang terjaring dalam satu misi, juga sudah tiba di sana. Aku dan Nata lantas bergegas memasuki kamar yang dikhususkan untuk kami berdua. Menyimpan barang-barang pribadi kami, lalu bersiap untuk apel bersama, dalam rangka penyambutan seluruh anggota.


Namun, ketika Waka Polda menyampaikan amanatnya, ekor mataku tak sengaja menangkap beberapa sosok yang aku kenali sebelumnya.


Edi ... Ibram ...! Batinku, setelah benar-benar melihat kehadiran mereka. Aku tak menyangka bahwa Tuhan akan mempertemukanku lagi pada orang-orang hebat seperti mereka. Orang-orang yang sedari dulu sangat peduli kepadaku dibandingkan yang lainnya. Bahkan dalam keadaan terjepit pun mereka siap menanggung segala resiko yang menunggu di ujung mata.

__ADS_1


Ah, jangan bilang kedua bola mataku sedang berkaca-kaca!


Mengenang bahwa sudah selama empat tahun belakangan ini, aku tidak pernah menjumpai mereka berdua. Lumayan terharu rasanya. Apalagi, di sampingku juga ada Andrea Winata, yang juga sudah sekian lama tidak saling tegur sapa karena jarang sekali berjumpa.


Ah, aku merasa Tuhan sedang menyiapkan amunisi berbentuk manusia, yang akan bersatu denganku saat ini, demi memperjuangkan keamanan negara.


Setelah Waka Polda selesai menyampaikan amanatnya, kami di arahkan menuju aula hotel, untuk penjelasan strategi dan pembagian kelompok siaga. Selain kelompok siaga, ada juga yang namanya kelompok penembak jitu, dan kelompok cadangan, yang berisikan para anggota dari Polres Kota. Hal ini direncanakan untuk kewaspadaan, kalau-kalau dua kelompok utama itu mengalami cedera.


Hem ... apakah kalian sudah bisa menebaknya?


Ya, kali ini lawanku tak lain tak bukan adalah putra sulung sang wali kota. Tak kusangka, setelah sekian lama, aku kembali ke kota ini hanya untuk memburunya. Menjadikannya mangsa empuk sehingga ia bisa kami jebolkan ke dalam penjara. Namun, tidak hanya itu saja, bisa kupastikan bahwa lelaki bejat itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kelakuan busuknya.


***

__ADS_1


Matahari mulai menampakkan cahaya hangatnya. Memberikan energi terbesarnya untuk sekedar membugarkan kembali seluruh tenaga. Aku yang sedari tadi sudah membuka kedua mata, kini sedang menikmati pemandangan padat merayap bangunan kota dari balik jendela kaca.


Namun, tanpa kusadari, dengan memandangi kota ini, pikiranku kembali terseret pada memorian dimana aku melihat Rona untuk yang pertama kalinya.


Oh, Tuhaaan!


Dimanakah ia berada? Apa mungkin kota ini akan menjadi titik akhir pertemuanku dengannya?


Selama empat tahun belakangan ini, aku tidak berhenti mencarinya. Menemukan informasi dan petunjuk yang bisa mengarahkanku pada tangga kediaman sementaranya. Namun, sebanyak apa pun aku berusaha, Tuhan masih terus menyembunyikannya. Membungkusnya di balik dinding baja, yang aku sendiri belum bisa menggapainya. Dinding penyekat di antara kami berdua itu sangat luar biasa. Karena semakin kuat hentakanku untuk menghancurkannya, ia malah semakin kokoh dan terbangun kembali seperti sedia kala.


Ah, aku tidak sedang berputus asa!


Namun, aku masih punya harapan besar, jika kali ini Tuhan juga akan mempertemukanku kembali dengannya yang aku cinta. Mempertemukanku kembali dengannya yang tetap aku puja. Mempertemukanku kembali dengannya yang selalu memenuhi isi hati dan kepala. Mempertemukanku kembali dengannya dalam sosok yang sama, seperti pada awal kami berjumpa.

__ADS_1


__ADS_2