Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 46


__ADS_3

Tahun 2018


Empat tahun berlalu begitu saja. Tidak ada secarik kabar pun dari Rona sejak hari pertama kepergiannya. Dia bahkan sudah mengganti nomor ponselnya serta menonaktifkan semua akun di media sosialnya.


Apakah dia benar-benar ingin meninggalkanku--yang masih berstatus sebagai suaminya?


Ah, aku lupa!


Bukankah dia sendiri yang meminta untuk berpisah dariku? Dan payahnya adalah ... aku masih mengharapkan dia untuk tetap mengakuiku.


Hemm!


Apakah aku salah jika masih tetap ingin mempertahankan rumah tangga kami?


Apakah aku terlalu berlebihan jika menganggap perpisahan jarak dan waktu ini hanyalah sebuah mimpi?


Ya, aku masih menganggap bahwa diri ini berada di alam mimpi. Tertatih bahkan merangkak untuk sampai pada titik akhir dari batas kemampuan diri. Namun, aku yakin hatiku lebih kuat daripada keyakinanku, yang masih sering kali goyah diterpa bisikan-bisikan tetangga yang silih berganti menghampiri. Baik itu datang dari teman, maupun dari keluargaku sendiri.

__ADS_1


Namun, sekarang aku sudah tidak peduli lagi ...!


Terserah mereka mau mengatakan kalau aku ini sinting atau sejenisnya, yang jelas aku akan tetap mencintai sang pujaan hati. Terserah mereka mau mengatakan kalau aku ini keras hati, yang jelas aku tidak akan mengubah keteguhan diri. Terserah mereka mau mengatakan kalau aku ini bodoh, yang jelas aku yakin seyakin-yakinnya bahwa suatu hari nanti dia akan kembali ke dalam pelukanku lagi.


Aku akan tetap menanti, hingga akhir hayat ini. Walaupun hal tersebut tidak mudah untuk dijalani, namun aku akan selalu menjaga hati, sambil berusaha menemukan petunjuk baru mengenai keberadaannya saat ini.


***


"Ijin, Komandan."


Asisten baruku tiba di ruangan ketika ia akan mengantarkan laporan harian yang biasa ia kerjakan.


Hem ... masuk logika!


"Ada sprin (Surat Perintah) baru, Komandan." Syila, memberitahukanku sebuah berita. Tugasnya di sini adalah sebagai pengganti Sidqia.


"Bacakan saja, Syi ...!" Aku mentitahkannya, ketika pandanganku masih fokus dengan layar putih enam belas inci di hadapanku. Dengan menyiagakan baik-baik indera pendengaranku, kuusahakan untuk membagi konsentrasi dalam satu waktu.

__ADS_1


Syila agaknya sempat tersenyum singkat sebelum kembali menundukkan pandangannya pada lembar berisi surat perintah itu. "Berhubungan dengan penangkapan dan pengungkapan kasus tindak pidana terbesar di ibu kota provinsi, Kapolda memerintahkan kepada sebagian dari anggota Polres M untuk ikut serta membantu kelancaran misi tersebut."


Syila berhenti sejenak sekedar untuk menarik napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan aktifitasnya. "Daftar nama anggota yang akan terlibat dalam misi, antara lain ...."


"Stop, Syila!" Aku sontak memotong bacaannya, yang seketika membuatnya terperanjat dan menyebabkan kekacauan yang tak terduga. Map berisi surat perintah, yang tadinya ia timang, tampak berserakan di atas lantai--seketika itu juga.


Syila tampak gelagapan, lalu berjongkok untuk memunguti lembaran surat yang bergabung dengan laporan hariannya. "Ma-maaf, Komandan. Saya benar-benar terkejut," tuturnya dengan masih terus membenahi semuanya.


Aku pun tak tinggal diam, gegas kuulurkan bantuan padanya yang sukses membuat dia terpana. Terpesona dengan kharisma atasannya, yang mungkin menurut informasi yang diterimanya--sudah berstatus sebagai seorang duda.


Ya, bayangkan saja wajah Syila seperti terhipnotis dalam posisi tercengang dan senyum-senyum sendiri tanpa jeda. Seperti adegan-adegan konyol dalam cuplikam drama-drama romantis ternama. Dimana pemeran utama wanitanya dibuat terkesima di saat melihat seorang pangeran yang sedang menunggangi kuda putih, datang untuk menghampirinya.


Anggap saja, Syila sedang terperangkap dalam zona lamunan terindahnya. Menikmati pemandangan luar biasa yang memanjakan kedua netra, atas ketampanan dan keindahan dari atasannya.


Hingga sepersekian detik kemudian, gerakanku terhenti setelah menyadari bahwa gadis di depanku ini sedang dalam kondisi menatapku dengan wajah berbinar-binar layaknya pantulan cahaya.


Oh, tidak!

__ADS_1


Aku bahkan tidak tahu, jika sedari tadi ia hanya fokus menatapku ketimbang fokus pada pekerjaannya.


__ADS_2