
"Rona ... Rona! Tolong dengarkan aku dulu!" pekikku yang sudah ia tinggalkan. Nata hanya terdengar menghela napas panjang--mungkin turut merasakan panik yang tak terelakkan.
Pasalnya, Rona sudah menemukan figura lama yang berisikan foto Sidqia, yang lupa kusembunyikan.
Ah, payah!
Keteledoranku malah menjadi bom waktu yang hari ini meledak dan berhasil meluluhlantahkan dunia persilatan.
Eh, maksudku rumah tangga!
Tanpa berpamitan lagi pada Nata, aku langsung menyusul langkah Rona yang punggungnya masih tampak di pelupuk mata. Ini kali pertamanya, aku melihat api kemarahan dan kekecewaan di kedua bola matanya. Tak pernah terduga sebelumnya, jika situasi seperti ini akan menghampiri kami berdua.
"Rona ... tunggu!"
Langkahnya sontak terhenti, ketika tangan kokohku mencapai pundaknya. Ia langsung memutar balik badannya, dan menatapku tak kalah benci dari sebelumnya.
"Tolong kasi aku kesempatan untuk menjelaskan. Kalau kamu terus-terusan emosi seperti ini, maka rumah tangga kita akan jadi taruhannya," pintaku agar dia mau membuka hati dan pikirannya. Setidaknya untuk memberikan aku waktu, sebelum kesalahpahaman ini berubah menjadi bencana.
__ADS_1
Namun, ia terus menatapku tajam dengan emosi yang berkobar-kobar di kedua pupil matanya.
Oh, tidak!
Akankah kesempatan itu aku dapatkan?
Ah, sepertinya tidak akan!
"Aku terlalu bodoh karena selama ini sudah menganggap bahwa perasaanmu itu tulus padaku. Tapi nyatanya ... kamu hanya menganggap diriku sebagai pengganti kekasihmu ...!" teriaknya di depan wajahku seraya mendaratkan pukulan bertubi-tubi tepat di depan dada.
"Tidak seperti itu kenyataannya, Rona. Perasaanku padamu benar-benar tulus adanya. Mengenai gadis yang di dalam figura itu ... dia ...." Kalimatku tercekat seketika, karena Rona sudah mengangkat telapak tangannya di depan dada. Isyarat bahwa dia sudah tidak menerima penjelasan apa pun dariku--yang masih mempunyai hak penuh atas dirinya.
"Sudah kukatakan, kalau aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun!" Napasnya terdengar memburu, suaranya terdengar bergetar, dan kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.
Sungguh, ingin sekali rasanya kuseka air luka yang saat ini sudah tumpah--membasahi kedua pipinya. Namun, aku yakin dia tidak akan menghendakinya.
"Pantas saja, selama ini kamu bahkan tidak pernah bertanya, siapa saja yang menghubungiku? Apa yang sudah mereka katakan padaku!" pekiknya seolah sedang mengeluarkan unek-unek yang selama ini terpendam di dalam dadanya. "Karena kamu ... hanya peduli pada dirimu sendiri!" Ia menarik napas sejenak untuk mengisi rongga dadanya yang mungkin terasa begitu sesak dan sempit seketika.
__ADS_1
"Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!" erangnya seraya menjambaki rambutnya. Aku yang melihat hal tersebut, lantas berusaha menghentikan tingkah putus asanya.
Namun, sekali lagi, ia menepis kedua tanganku dan mundur beberapa langkah untuk menghindari sentuhanku, yang mungkin bisa membuatnya luluh seketika. Dalam keterpukulan dia sontak berlari menjauh, yang aku yakini akan pulang ke kediaman kedua orang tua.
***
"Rona ... tolong jangan pergi ...!" pintaku agar ia mau menghentikan aksinya. Namun, ia terus mengacuhkanku dan terus memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper miliknya.
"Aku seharusnya tidak berada di sini. Dan ... seharusnya dari awal aku sadar diri." Sepasang bibirnya terus meracau tidak jelas sedari aku tiba.
Aku hanya bisa berkacak pinggang dengan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi mendarat telak pada pelipisku yang terasa begitu menyiksa kepala. Aku bingung harus bagaimana? Sedangkan dia tak memberikanku celah sedikit pun untuk berkata atau bahkan menyentuhnya.
Oh, Tuhaaan!
"Pokoknya aku mau kita CERAI ...!" cetusnya tiba-tiba dengan mimik penuh keseriusan yang kentara. Wajah penuh kelembutan yang selama ini kupandang dalam setiap titik di wajahnya, pun tak lagi bersama.
Aku benar-benar sudah kehilangan Rona yang aku cinta. Dan saat ini dia malah bertransformasi menjadi sosok baru dan meluapkan sisi lain dari dalam dirinya.
__ADS_1