Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 35


__ADS_3

"Aku pulang besok. Maaf ya, tidak bisa langsung pulang hari ini. Soalnya sudah kesorean, tidak ada penerbangan lagi," jelasku, yang tentu saja ditanggapi girang olehnya. Dia langsung pamit untuk mematikan ponselnya, karena aku juga mendengar suara ibu yang tengah memanggil namanya.


Rona sedang di rumah bersama ibu, lantas siapa wanita yang aku lihat tadi? Hatiku mulai bertanya-tanya lagi.


Awalnya aku berniat menghubungi istriku--untuk membuktikan bahwa wanita yang aku lihat bersama Endar tadi adalah dirinya. Namun, Tuhan sudah memberiku jawaban atas kebenarannya. Akulah yang salah menerka.


Lagi pula, tidak sepatutnya aku menaruh curiga kepada Rona. Karena dari segi apa pun, dia hanyalah seonggok boneka dalam drama yang sedang dimainkan oleh putra sang wali kota.


B-i-a-d-a-b!


Refleks telapak tanganku mengepal beriringan, ketika memoriku kembali mengingat dan membayangkan betapa sadisnya lelaki itu memperlakukan Rona. Walaupun wanitaku tidak pernah menceritakannya, namun bisa kutebak--hal keji apa yang pernah dilakukan Endar kepadanya.


"Mau kemana lu?" Edi sontak bertanya ketika aku bangkit dari sofa.

__ADS_1


"Nyari angin," jawabku singkat, lantas keluar dari rumah milik adiknya.


Namun, bukan Edi namanya jika tidak bersikap sigap--seperti halnya sosok orang tua. "Elu gak bakalan ngelakuin hal bodoh, 'kan?" cercanya, seolah tersambung kuat dengan kabel yang terpasang di dalam kepala.


Seolah sangat lihai membaca pikiran sang lawan bicara, Edi bergerak mendekat dan berdiri tepat di sisi, yang kebetulan langkahku hampir saja meninggalkannya. "Belum saatnya, Bro." Dia menahan pundakku yang hendak beranjak dari sana.


"Gua bilang cuma mau nyari angin, Di."


"Lu pikir gue bege?"


"Emosi gak akan bisa nyelesain masalah. Yang ada, tindakan ceroboh lu ini malah bakalan nambahin masalah," nasihatnya, yang membuat kepala dan hatiku--yang awalnya panas membara, seketika terasa dingin dan keluar dari zona emosi jiwa.


Edi memang terbaik dalam hal ini. Karena hanya dia yang mampu menjinakkan singa liar yang sedang kelaparan, hanya dengan bermodalkan pisau belati. Trik yang jitu sekali. Tidak butuh senjata api ciptaan terbaik di muka bumi ini.

__ADS_1


"Yodah, mendingan gua mandi." Aku berbalik arah, kemudian masuk kembali. Edi pun lantas mengekori dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


...***...


"Gue titip Sidqia," pesan terakhir Edi padaku ketika tubuhku hampir tertelan pintu. Pintu kaca dua sisi ruang keberangkatan domestik di bandara, yang akan menjadi saksi kepulanganku. Aku akan memulai aktifitas baru di tempat tugas yang baru. Semoga saja, perjalanan kali ini tidak seburuk waktu itu.


Aamiin!


Setelah melakukan check-in, aku memutuskan untuk masuk ke ruang tunggu. Namun, baru saja kakiku ingin menambah langkah, terdengar tepukan tangan seseorang yang sedang berdiri seraya menyeringai ke arahku.


Jujur, aku tidak mengenal pria itu. Namun, sepertinya, dia mengenalku. Langkahnya bertambah mendekat dan berdiri tegap, tepat di depan wajahku. "Kenapa terburu-buru, Komandan? Apa Anda ... tidak ingin bermain-main dulu?"


Dia berbisik di telingaku seraya menodongkan senjata apinya di depan perutku. Karena jaraknya yang begitu dekat, sehingga orang lain tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


Aku ... hanya bisa diam seperti batu!


"Jika Anda bisa bekerja sama dengan baik, maka kupastikan ... tidak akan ada nyawa orang-orang tidak bersalah, yang akan menjadi korban!" ancamnya seraya menatap kedua mataku. Tatapanku ... tak gentar sama sekali, namun hanya bisa berpasrah diri, daripada akan banyak jiwa yang terluka hanya karena keegoisanku.


__ADS_2