Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 40


__ADS_3

Aku pribadi juga kurang memahami, siapa yang beraksi di belakang layar, sehingga dengan suka rela bertindak sebagai sosok paling mulia sejagat raya, alias penyelamatku. Jujur, aku sangat bersyukur akan hal itu, namun sekaligus mengganggu pikiranku.


Ibram masih mematung--menunggu respon dariku. Mungkin menurutnya, aku pasti mengetahui segalanya, bak seorang agen handal yang berkemampuan jitu.


Namun, apa boleh dikata, walaupun saat ini aku berperan sebagai atasannya, namun tetap saja, diri ini bukanlah dewa yang maha mengetahui setiap seluk-beluk peristiwa, yang sudah tertakdir di dalam hidupku. Bahkan sampai saat ini saja, otakku masih dibuat setengah berputar, karena terlalu banyak misteri yang belum terungkap--berderet apik memenuhi isi kepalaku.


Kalian tahu kenapa? Jawabannya adalah ... karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Sepintar dan selihainya seorang ilmuwan, tetap saja dia membutuhkan orang lain untuk mendongkrak hasil penelitiannya. Sekaya dan seberkuasanya seorang raja, tetap saja ia memerlukan ratusan bahkan ribuan prajurit, untuk membantunya mempertahankan tahta. Nah, begitu juga dengan diriku, sekuat dan seperkasanya seorang Huda, tetap saja mempunyai kelemahan--yang merupakan makhluk sosial dan saling membutuhkan antar-sesama.


Jangan pernah sombong hanya karena kita bisa menggenggam dunia!


Jangan pernah sombong hanya karena kita hidup bergelimang harta!


Jangan pernah sombong hanya karena kita lahir sebagai seorang penguasa!


Jangan pernah sombong hanya karena kita merasa pintar dan tahu segalanya!


Karena ... jika sudah waktunya ajal menyapa, kita tetap butuh bantuan orang lain untuk mengantarkan jasad diri menuju pusara.

__ADS_1


***


Mungkin karena terlalu lama menunggu, akhirnya Ibram mengerti bahwa aku pun tak memiliki jawaban atas pertanyaannya. Sejenak, ia masih menatapku dengan penuh harapan, kemudian pamit undur diri untuk menemui rekannya. Aku hanya bisa mengangguk pelan, tanda menyetujuinya.


Sepeninggalan Ibram, aku masih berusaha mengingat rentetan peristiwa sebelumnya. Peristiwa dimana aku sedang bersama wanita misterius yang ketiga.


Ya, bagiku ada tiga wanita--yang hingga saat ini masih membuat resah relung jiwa. Bukannya ingin curiga, namun lebih kepada ingin mengetahui lebih tentang mereka semua. Karena aku yakin ketiga-tiganya mempunyai rahasia besar di balik kemunculannya.


Yang pertama adalah kehadiran Sidqia yang terkesan tiba-tiba. Kedua, wanita yang berbicara serius bersama Endar--yang kala itu aku sempat melihatnya. Dan ... yang ketiga adalah sosok paling berbeda daripada yang lainnya. Yang hanya dengan kehadirannya saja, angin p-u-t-i-n-g beliung sekalipun rela menepi, hanya karena kemuliaan hatinya.


Ah, aku rasa kalian terlalu sibuk untuk melakukannya. Karena aku tahu, dalam kehidupan sehari-hari saja, kalian sudah cukup kowalahan untuk menjalaninya. Apalagi, harus datang kemari dan menyibukkan diri untuk mengungkap kebenaran tentang mereka.


Karena apa?


Karena tiba-tiba saja pikiranku seakan menemui titik terang tentang sosok yang bisa membantuku untuk menguak segalanya. Siapa lagi kalau bukan ... Andrea Winata? Ya, benar, Andrea Winata. Apa kalian masih mengingatnya?


Bagus!

__ADS_1


Aku yakin dia adalah kunci jawaban dari semua misteri yang melanda. Setelah ini, aku harus menemuinya.


***


"Hati-hati, Komandan."


Kali ini Ibram yang mengantarkan kepulanganku menuju kota cinta. Dimana ada sosok terkasih yang sudah lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarnya dan sedang apakah dia? Aku bahkan belum menghubunginya. Rasanya begitu kaku untuk mengungkapkan kenyataan bahwa aku masih bernyawa.


Kalian tahu kenapa?


Baiklah!


Berdasarkan informasi yang aku terima dari Ibram, pesawat yang waktu itu hendak aku tumpangi, sudah mengalami kecelakaan dan merenggut semua nyawa. Otomatis, istri dan keluargaku sudah mendengar kabar duka. Begitu sakit rasanya, ketika membayangkan--mereka berlinang air mata. Menangisi kepergianku yang hingga saat ini belum diketahui kondisinya.


Ya, begitulah kepelikan dunia!


Di saat kita merasa bahwa diri ini paling menderita, di kala itu pula Tuhan menyelamatkan kita dengan memberikan sedikit sentilan manja--sebagai pengingat jiwa. Ternyata, di balik peristiwa penyekapanku saat itu, terselip hikmah besar yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2