
Sejurus setelah Rona mengatakan kalimat ampuh bermakna tajam itu, terdengar suara bising seperti baku tembak dari arah belakang mobil mereka. Pandangan kami pun mengarah ke sumber suara secara bersama-sama.
DOR ... DOR ... DOR ...!
Dengan cekatan, seluruh anggota yang membuntuti jajaran kendaraan lawan, berpencar membentuk formasi mengepung dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ternyata, mereka berhasil melumpuhkan lawan dalam sekejap mata.
Benar-benar penembak jitu tingkat dewa!
Rona dan empat orang lelaki yang mengiringi jalannya tadi, sontak berdiri dan berbalik arah untuk sekedar melihat suasana di belakang sana. Namun, sudah terlambat, Nata dan anggota penembak jitu yang lainnya sudah memasang formasi melingkar dan mengurung mereka semua. Gerakan mereka terkunci, tak bisa lagi melarikan diri, apa lagi melawan semua anggota siaga yang sudah berhasil menyusul kami tepat pada waktunya.
Benar-benar strategi yang luar biasa!
Dengan gerakan serba salah dan wajah panik, mereka berlima tampak kelimpungan meratapi nasib mereka selanjutnya. Mungkin sedang berpikir--menyerah begitu saja? Atau mungkin melawan dengan segenap keberanian yang tersisa?
Ah, aku rasa mereka tak mempunyai kesempatan untuk melakukan pilihan yang kedua. Jika tidak, mereka bisa mati konyol karena sudah kalah angka.
***
__ADS_1
Tak ada satu orang pun yang tahu bahwa wanita yang saat ini sudah berhasil kami tangkap adalah istriku--kecuali Andrea Winata.
Ya, setelah kejadian tadi siang, mobil tronton yang membawa peti berisi ratusan kilo narkotika itu sudah diamankan di halaman Polda. Begitu juga dengan supirnya, dan lima orang lelaki berseragam serba hitam, yang hampir saja merenggut nyawaku--termasuk Rona.
Proses interogasi sudah dilakukan selama lima jam setelah penangkapan mereka tadi. Namun aku belum sempat menemui Rona secara pribadi. Aku sengaja membiarkannya diinterogasi oleh beberapa anggota lain yang memang sudah ahli. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengorek informasi tentang Endar lebih banyak lagi.
Nata yang kala itu melihatku duduk di atas kursi, lantas bergerak menghampiri. "Kamu tidak ingin menemuinya? Bukankah kalian masih berstatus sebagai suami-istri?" tanyanya seraya mendudukkan tubuhnya di sisiku saat ini.
Tunggu dulu!
Bagaimana Nata bisa mengetahui tentang hal ini?
"Masalah apa?" tanyanya balik dengan nada santai, berusaha memperkeruh tujuanku sekali lagi. Tampang belagak tidak mengertinya kini mulai ia pertontonkan kembali.
"Ta, aku tidak suka mengulangi kalimat yang sama!" sergahku yang mulai jengah dengan segala teka-teki yang tersembunyi.
Nata hanya mendengus pelan, lalu menepuk pundakku yang sebelah kiri. "Kalau lagi rindu ... temuin dia, jangan malah nebar emosi di sini," ledeknya, yang membuatku sukses memutar rotasi leherku ke arah kiri.
__ADS_1
Anak ini ...!
Tidak pernah berubah sama sekali ...!
Namun, kelakarannya itu berhasil membuyarkan kecurigaanku yang sempat terbersit di kepala tadi. Ia lantas menarik lenganku, dan menyeretku hingga menggapai muka pintu ruang interogasi.
"Kamu berhak menanyakan apa pun padanya secara pribadi. Soalnya, tugas negara sudah dikerjakan oleh sang ahli." Nata berbisik di dekat telingaku, lalu bergerak menjauh dan meninggalkanku yang masih berusaha menata emosi diri.
Haruskah aku masuk ke dalam ruangan ini?
Mampukah aku untuk tidak melampiaskan kekecewaan diri?
Mampukah aku untuk tidak menyentuhnya sama sekali?
Mampukah aku untuk tidak jatuh cinta padanya berkali-kali?
Sejenak aku bergeming--sekedar untuk muhasabah diri. Menemukan titik penguat sehingga aku bisa melewati semua ini. Bukankah saat ini adalah saat yang kunanti-nanti?
__ADS_1
Baiklah!
Aku sudah siap untuk patah hati berkali-kali ...!