
Edi memintaku untuk menunggu sesaat, ketika ia menyembul keluar dan sepertinya akan menemui seseorang. Aku tak tahu siapa, namun kuyakin bukanlah musuh yang harus membuatku berkepala tegang.
Sembari menunggu Edi, kuputar rotasi pandangan ke luar kaca. Betapa terkejutnya aku ketika kedua mata ini menangkap pemandangan yang membuatku membelalak, tak percaya.
Rona!
Bagaimana mungkin istriku itu bisa berada di sana? Dan kalian tahu, sedang bersama siapakah dia?
Endar!
Ya, Endar tampak sedang berbicara serius dengannya. Namun, aku masih tak habis pikir, bagaimana Rona bisa bersamanya? Apa aku sedang berhalusinasi--saking merindunya?
Ah, tidak mungkin!
Aku pasti salah orang, dan ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, aku juga sempat melihatnya, ketika tiba di bandara. Jadi, sudah jelas, aku sangat merindukannya.
Tapi ... apa yang sedang dilakukan Endar di pinggiran ruko seperti itu? Dan siapakah wanita yang bersamanya itu? Kenapa, penampakannya masih saja seperti wajah Rona dalam pandanganku? Aku pasti kembali menghalu.
DEEEP
Bunyi pintu mobil yang baru saja terbuka, membuatku mengerjap dan memalingkan kepala. "Elu ngagetin gua aja," tuturku sinis seperti kakek-kakek sewot yang sedang mengomeli cucu laki-lakinya.
"Lagian, siapa juga yang nyuruh lu ngelamun," seloroh Edi, tak mau kalah dengan kalimatku sebelumnya.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan kelakarannya, aku kembali memutar rotasi pandangku ke tempat semula. Sayangnya, dua manusia berbeda jenis kelamin itu sudah tak lagi berada pada posisinya.
"Ah, sial ...!" decakku pelan, namun masih bisa didengar oleh telinga siapa saja.
"Gak baik, ngumpatin temen yang lebih tua, ntar kualat lu!" Pemahaman Edi yang tak menyambung sama sekali dengan maksudku, hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala.
"Buruan, Bang!" titahku menanggapi celotehannya yang baru saja.
Usia Edi memang lebih tua dariku. NRP kami saja selisih tiga tahun, karena ia lahir pada tahun 1991. Sekarang, bisa kalian tebakkan, kapan tahun kelahiranku?
Namun, karena kami satu angkatan dalam pendidikan kepolisian, jadilah aku dan Edi menjadi teman satu letingan, yang sukses membuat hubungan kami akrab dalam ikatan persahabatan.
Sahabat!
Sahabat!
Merupakan orang asing yang menjelma seperti peri penolong, ketika kita dalam kesulitan diri.
Sahabat!
Kadang rela menjadi musuh, demi ingin menjauhkan kita dari mara bahaya yang siap menyerang diri.
Sahabat!
__ADS_1
Sosok ternyaman saat berbagi suka mau pun duka di dalam hidup ini.
Itulah refleksi seorang Edi, walaupun aku sering bertindak seenaknya sendiri, namun tak menggoyahkan hatinya untuk tetap teguh menjadi sahabat sejati.
...***...
"Sayang ...!"
Suara lembut istriku seketika terdengar, memenuhi rongga telinga. Ya, ketika tiba di rumah Sidqia, aku langsung menghubungi Rona, melalui panggilan suara.
Sayang?
Panggilan romantis pertama yang belum pernah aku dengar sebelumnya. "Barusan kamu panggil aku, apa?" tanyaku lagi, berlagak seperti orang yang sedang kehilangan fungsi telinga.
Rona terdengar terkekeh kecil, mungkin saking tersipunya. Aku rasa ia sedang terbawa suasana, sehingga keceplosan saat memanggil suaminya.
"Mas ...! Kamu sudah selesai giatnya?" Ia cepat-cepat memutar topik pembicaraan, mungkin tidak ingin terjebak dalam jurus gombalanku, selanjutnya.
Karena ingin membuatnya nyaman tanpa adanya paksaan, akhirnya aku pun mengalah dan menjawab pertanyaannya. "Sudah, entah kenapa dari tadi aku kepikiran sama kamu," pancingku, tanpa ingin menceritakan apa yang sudah kusaksikan sebelumnya.
Ia terdengar menghela napas panjang, seolah ingin menyatakan bahwa ia pun merasakan hal yang sama. "Kapan kamu pulang?"
DEG
__ADS_1
Ia tidak menanggapi kalimat terakhirku, kicauanku di dalam batin. Apa mungkin ...?