
Bayangkan saja!
Seperti kapas atau sampah plastik yang melayang ke udara, mobil yang masih menjebak kami berdua melanting dan berputar sebanyak dua kali. Beruntungnya, kami sama-sama mengenakan sabuk pengaman, jadi tubuh kami masih aman dalam posisi seperti tadi. Setelah melakukan sebuah atraksi, mobil itu sontak tertarik gaya gravitasi bumi. Dengan tiba-tiba, raganya langsung terhempas ke bumi dengan posisi terbalik, yang tak terkendali.
Aku yakin, Nata beserta anggota yang lainnya juga menyaksikan tontonan langka ini. Membuat waktu serasa berhenti sesaat, untuk mereka mempercayai tragedi yang baru saja menimpa kami. Dalam keadaan masih sadarkan diri, tubuhku tetap aman dalam pelukan sabuk, namun tidak untuk bagian dahi. Karena sempat mengalami benturan keras pada dashboard depan mobil ini, darah segar pun mengalir dari pertengahan dahi ku tanpa merasa segan sama sekali.
Sembari mengondisikan kaki dan menahan rasa sakit, aku memijit pelipisku sendiri karena terserang rasa pusing yang amat menyiksa diri. Kuputar pandangan ke arah berlawanan, sekedar untuk memastikan keadaan sang pengemudi. Namun, di luar dugaanku, pemuda itu sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Huuuh ... Huuuh ... Huuuh ...!
__ADS_1
Deru napas tak beraturan membuatku merasa semakin jengah berada dalam posisi terbalik seperti ini. Dengan susah payah kulepaskan sabuk pengaman itu, aku merasa sedikit nyeri karena mengalami cidera ringan pada tangan sebelah diri. Setelah sabuk pengaman itu berhasil kusingkirkan dari tubuhku, aku langsung berusaha sebisa mungkin untuk keluar dari mobil ini.
Namun, ketika ingin mengambil pergerakan selanjutnya, tiba-tiba pandanganku menatap sosok familiar yang baru saja turun dari mobil sport yang sudah menabrakku tadi. Langkahnya diekori oleh empat orang lelaki yang berbadan tegap dengan seragam serba hitam--mendekatiku dengan langkah pasti.
Tentu saja, aku sedikit tersentak di saat menyadari bahwa lawanku saat ini adalah seorang wanita cantik, berambut panjang, mengenakan kacamata hitam, dan bertubuh tinggi. Perawakannya yang tampak sedikit berubah dalam pandanganku, seketika membuatku tersadar akan perihnya luka hati.
Rona!
Ia masih berdiam diri, menatapku penuh arti, dan melemparkan seringai bak seorang pembunuh berdarah dingin dengan sedikit polesan wajah yang semakin membuatnya terlihat seksi sekali. Rambut panjangnya tergerai indah yang sesekali tertiup angin dan tampak menari ke sana kemari.
__ADS_1
Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Bibirku terlalu kelu walaupun hanya untuk menyebut namanya saat ini. Wanita yang aku cintai, aku sirami dengan kasih sayang sepenuh hati, aku cukupi kebutuhan hidupnya selama ini, dan menyelamatkannya dari jeruji ghaib sang tirani, malah dengan gerakan pasti sedang menodongkan senjata api ke arah kepalaku saat ini.
Sejak melihatnya keluar dari mobil tadi, aku sudah bisa memahami situasi ini. Situasi yang membuatku berada dalam kebodohan diri. Menyirami wajahku sendiri dengan air raksa yang kandungannya akan menimbulkan luka bakar dan bisa menimbulkan efek nyeri setengah mati. Namun, perumpaan itu tak sebanding dengan rasa perih akibat terkoyaknya tirai hati yang kututup rapat demi menjaga kesucian cintaku padanya selama ini.
Tak ada lagi senyuman, apalagi rasa kasihani. Ekspresi yang terpampang nyata di setiap garis di wajahnya menyatakan bahwa tidak adanya toleransi dan rasa terdalam yang aku harapkan darinya jika sudah bertemu nanti. Berbanding terbalik dengan diriku, yang masih menatapnya dalam dekapan cinta yang kadarnya seolah tak berkurang sama sekali.
"Aku sudah meninggalkanmu sekali, untuk memberikan jarak agar dirimu selamat dari maut diri. Namun, sepertinya ... hal itu tak cukup membuatmu memahami situasi," sarkasnya seakan menganggapku sebagai sosok anak kecil yang baru terbangun di pagi hari.
Seolah sangat mengerti dengan tatapanku yang menyiratkan seribu tanya, ia langsung melanjutkan dialog tanpa menurunkan sang senjata api. "Ya, aku bukanlah boneka pemuas n-a-f-s-u birahi Endar Riyahdi, tetapi aku adalah orang kepercayaannya yang berjibaku dengan bisnisnya selama ini."
__ADS_1
DUAAAR
Serasa disambar petir di siang hari, tubuhku seakan gamang untuk sekedar memberikan reaksi.