
...POV EDI...
Aku tahu, suatu saat aku harus menghadapi Huda dengan segala kesalahpahamannya. Saat ini, pasti ia berpikir bahwa aku terlalu jahat karena sudah merahasiakan tentang keberadaan seorang wanita. Wanita yang akhirnya kuketahui sebagai sosok yang sangat dicintainya.
Kalian pasti juga sama!
Baiklah!
Begini ceritanya!
Waktu itu aku baru pulang dari masa pendidikan di akademi kepolisian. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku berpisah dari sanak saudara demi menggapai cita-cita yang kuinginkan.
Adik kandungku--namanya Indi--dia berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit di kota kelahiran. Waktu itu, Indi juga baru pulang dari penugasan. Praktik kerja di salah satu rumah sakit ternama di Thailand.
Hari itu, tiba-tiba Indi langsung menyeretku memasuki sebuah ruangan--dimana di dalamnya terdapat seorang gadis yang sedang tak sadarkan diri, terbujur kaku di atas pembaringan.
"Siapa dia?" Tentu saja, aku mengernyit keheranan.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengenalnya, Bang. Dia hanyalah korban percobaan," tuturnya yang membuatku semakin membelalakkan pandangan.
"Maksudmu?" tanyaku lagi yang pastinya merasa kebingungan.
Indi tampak menghela napas seraya menampakkan ekspresi menyedihkan. "Dia hampir saja mati, karena ulah orang-orang yang tak berprikemanusiaan, Bang." Air matanya pun gugur ketika ia memberikan penjelasan. "Keluarga gadis ini pasti sudah menganggap bahwa dia sudah meninggal, karena pihak rumah sakit sudah memberikan jasad palsu kepada mereka." Tangisan Indi terdengar semakin memilukan.
"Kenapa bisa begitu?" Bukankah wajahnya bisa dikenali?" desakku yang semakin penasaran.
Ia menyeka rembesan air mata yang membasahi pipinya sebelum akhirnya memberikan jawaban lanjutan. "Pihak rumah sakit sudah mengubah mayat itu dengan wajah yang serupa, Bang."
Aku hanya bisa mengurut dada. Siapa pun pasti akan ikut terluka jika mendengarkan ceritanya. Menurut Indi, gadis ini menderita sebuah penyakit yang tidak bisa aku sebutkan namanya. Namun, cukup berpotensi meregang nyawa. Hanya saja, sepertinya Tuhan sedang memberikan nyawa kedua yang sukses mengembalikannya ke dunia nyata.
"Aku sudah berusaha menemukan identitas keluarga gadis ini, tapi pihak rumah sakit itu terus saja berkelit dan menolak untuk memberikannya," ujar Indi kala itu dengan mimik putus asa.
Kulangkahkan kaki untuk mendekatinya, diekori oleh Indi di belakangku. Mengangkat kain celana panjangku sedikit ke atas, lalu berjongkok di samping dipan bambu. Indi tidak menempatkan gadis ini di rumah kedua orang tuaku. Melainkan di sebuah paviliun keluarga yang letaknya tepat di belakang rumah--tidak jauh dari situ.
"Kalau begitu, dia adalah keluarga kita sekarang," tukasku yang diprotes telak oleh adikku.
__ADS_1
"Tapi, Bang. Bagaimana dengan keluarganya. Kita tidak mungkin selamanya menyembunyikan dia," tuturnya dengan nada menggebu-gebu.
Aku tahu, keputusan ini bukanlah sekedar ungkapan halu. Namun, niatku hanyalah untuk merawat gadis ini hingga dewasa dan membuatnya berprofesi seperti diriku. Kisah hidup keduanya akan dimulai saat ini juga, setelah cerita dalam kehidupan pertamanya terdengar sangat pilu.
"Baiklah, Bang. Itu terdengar lebih bijaksana. Karena aku yakin dia memanglah orang Indonesia." Begitulah tanggapan Indi ketika aku menjelaskan padanya tentang tujuanku.
***
Sayangnya, setelah sadar, gadis itu ternyata mengalami amnesia. Jadi, semakin sulit bagi kami untuk menemukan alamat keluarganya. Indi sengaja tidak membawanya ke rumah sakit, karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tak terduga. Oleh karena itu, kami merawatnya di rumah, setelah menceritakan semua kronologinya pada kedua orang tua.
Sejak hari itu juga, aku memberikan nama baru untuknya yaitu Arona Maulida.
Rona sukses menjadi seorang polisi wanita berkat tekad dan kemauan besarnya. Katanya, dia merasa bahwa menjadi seorang aparat negara memang sudah menjadi panggilan jiwa baginya. Tentu saja, keluargaku merasa sangat bangga padanya.
Awalnya Rona bertugas di dalam kota saja. Namun, lama kelamaan dia dimutasikan ke polda dan berhasil dinobatkan sebagai salah satu polwan terbaik setelah menjalani dikjur (Pendidikan Kejuruan) dalam fungsi Intelkam sekota madya. Sejak saat itulah, dia ditugaskan menjadi seorang mata-mata.
Memata-matai seorang bandar narkotika terbesar dengan berbagai bisnis ilegal lain yang sedang dijalankannya.
__ADS_1