
...POV ARONA MAULIDA PART 3...
Lanjut, teka-teki yang ketiga!
Sebelumnya, aku sengaja menghubungi Bang Edi dan memberitahukan bahwa aku sudah menemukan semua faktanya. Beberapa keping ingatan yang berkelebat di kepala, ditambah lagi dengan penjelasan ibu yang menceritakan tentang bagaimana ia menemukanku--semuanya sudah cukup membuktikan dengan jelas bahwa aku ini bukanlah darah daging mereka.
Maka dari itu, aku langsung memberitahu Bang Edi dan mengubah sedikit rencana.
Di saat Huda melihat Endar berbicara dengan seorang wanita yang katanya mirip sekali dengan Rona, hal itu bukanlah halusinasi semata. Bagian ini sudah terdaftar di dalam rencana, termasuk yang sudah dilakukan oleh Bang Edi untuk memberhentikan mobilnya.
Tujuannya, agar Huda merasa bingung dan tidak secepatnya percaya dengan asumsi bahwa Sidqia masih eksis di dunia. Dan, kebetulan waktu itu Endar memang sengaja ingin bertemu denganku di pinggir jalan raya. Entah, apa maksud dari semua itu, aku juga tidak memahaminya. Namun, hal tersebut secara tidak sengaja sangat mendukung rencanaku, hingga akhirnya semua berjalan sesuai dengan apa yang sudah terpeta di kepala.
Kemudian, di saat Bang Edi dan Huda tiba di kediaman sementara. Huda langsung menghubungiku untuk sekedar memastikan keberadaan Rona. Namun, semua sudah aku persiapkan sebelumnya. Dengan membawa rekaman suara ibu, tidak sulit bagiku untuk membuat semuanya seolah tak sesuai dengan pemikirannya.
Kesimpulannya, setiap rentetan peristiwa yang sudah terjadi, tidak luput dari rencana kami bertiga. Aku, Bang Edi dan juga Andrea Winata. Dan bersyukurnya adalah rencana kami berjalan dengan mulus, sebagaimana mestinya. Bahkan Endar sama sekali tidak menaruh curiga, begitu juga dengan Huda.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, peristiwa yang tak terduga malah datang menerpa. Tanpa sepengetahuanku, Endar malah mencegat kepulangan Huda dan menjadikannya sandra. Tentu saja, hal tersebut dilakukan oleh orang suruhannya.
Aku bingung!
Dan juga khawatir!
Untung saja, aku belum kembali ke rumah kedua orang tuanya. Jika tidak, nyawa Hudalah yang akan menjadi taruhannya. Walaupun Endar tidak menginginkan kematiannya, namun tetap saja penyiksaan pasti akan mendera Huda setiap harinya. Dan aku ... tidak akan membiarkan semua itu terjadi padanya.
Ya, sebagai seorang anggota intel, aku memang sudah terlatih sebagaimana seorang agen rahasia. Namun, dalam menjalankan tugas, aku tetap memerlukan bantuan dari orang-orang yang bisa dipercaya.
***
Perasaan seorang wanita memang lebih sensitif dari seorang pria. Jika ditanya--apakah aku mencintai Huda? Aku sendiri masih belum mempunyai jawabannya.
__ADS_1
Begini ...!
Dalam pemahamanku selama ini, Huda dan aku adalah saudara. Kami terlahir dari rahim yang sama. Namun, kenyataannya semua tidak sesuai dengan apa yang aku kira.
Seorang bayi mungil--anggap saja dibuang--begitu saja oleh ibu kandungnya. Melepaskan tanggung jawab sebagai orang tua. Menyerahkan buah hatinya dengan gampang pada orang lain, tanpa berniat untuk kembali menemuinya.
Fakta itu, benar-benar berhasil menggores telak relung hatiku dalam sekejap mata. Bukannya aku tidak menyayangi kedua orang tua Huda. Karena yang sesungguhnya--aku sangat menyayangi mereka.
Kedua orang tua yang sudah membesarkanku dengan sepenuh jiwa. Memandikanku dengan kasih sayang yang sama seperti yang sudah mereka berikan kepada putra kandungnya. Dan, hal itu tentu saja tidak akan aku lupakan sepanjang masa. Julukan apalagi yang harus kusematkan kepada mereka selain 'KELUARGA'?
Begitu juga dengan Bang Edi beserta keluarganya. Tanpa mereka mungkin saat ini aku bukanlah apa-apa. Bisa jadi ... aku akan hidup sebagai sebatang kara seperti para gembel yang berkeliaran di luaran sana.
Malangnya!
Jadi, semua ini patut untuk aku jadikan alasan agar tetap bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Terlepas, kebenaran yang sesungguhnya sudah sukses menguak identitas asliku keseluruhannya. Namun, aku akan tetap semangat menjalani sisa usia. Meneruskan perjuangan sebagai abdi negara dan menegakkan hukum sebagaimana mestinya.
__ADS_1
Kata-kata terakhir dariku; Tidak perlu bingung apalagi sampai pusing kepala. Karena Sidqia atau pun Arona Maulida, mereka adalah orang yang sama. Dan akan senantiasa mencintai Zainul Huda sebagai kakaknya.