Polisi Bucin

Polisi Bucin
Episode 68


__ADS_3

Sidqia masih dalam mode isakan. Terima takdir atau pun tidak, kami harus sama-sama berusaha mengikhlaskan. Tuntutan jabatan dan pekerjaan membuat kami berdua sama-sama bergelung dalam keserbasalahan. Dimana Sidqia yang saat ini sedang mendapatkan promosi atas kesuksesan kasus yang sudah berhasil ia taklukkan, otomatis akan menghantarkan ia pada jenjang karir yang lebih menjanjikan. Dan pastinya dengan level tanggung jawab dan resiko kerja yang lebih menyulitkan.


Oleh karena itu, aku tidak mau, ikatan kami menjadi penghalang bagi konsentrasi dan keprofesionalannya dalam bekerja. Membuatnya buyar dan lalai, hanya karena prahara dan masalah kecil yang senantiasa menghiasi biduk rumah tangga. Lagi pula, waktu, tempat, situasi, kondisi, dan juga jarak tidak akan bisa memersatukan kami berdua dalam lingkaran yang sama. Berhubung, aku di sini dan dia di sana. Hal itu akan terasa sangat sulit bagi kami berdua, jika dijalani terlalu lama.


Pertimbangan-pertimbangan tersebut sudah aku pikirkan sebelum akhirnya memutuskan hubungan. Walaupun sebenarnya kalimat kejam yang mampu menampar hatiku sendiri itu bisa kuungkapkan, namun tetap saja rasanya sukses menyesakkan perasaan.


Sidqia yang masih setia dalam tunduk, tak sedikit pun menampakkan ancang-ancang untuk memberikan tanggapan. Bisa kupahami, dia sendiri pasti tak kalah terpukulnya dari yang aku bayangkan. Karena sesuatu yang cenderung dipendam, akan sulit untuk dilupakan.


Dengan perlahan, kuangkat dagu tumpulnya yang sedikit berbelah, agar bisa menatap wajahku. Kuseka sisa-sisa buliran air ketidakberdayaan yang memberikan efek basah pada kedua pipi itu. Pipi yang dulunya sering kubelai dengan hangat dalam dekap pandang sepasang pengantin baru. Kini, semuanya menguap bersamaan dengan jatuhnya kalimat talakku.


Satu bulan bersama bukanlah waktu yang lama bagi kami berdua. Namun, kurasa akan butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk melepaskan rasa tidak terima, yang akan bersemayam setiap saat di dalam dada.


"Kembalilah walaupun hanya sebentar, ayah dan ibu berhak mengetahui tentang ini semua. Setidaknya berilah mereka seberkas cahaya setelah lama meregang luka dan duka," tuturku yang dilatari oleh suara isakan kecil darinya. Dia langsung memadukan netra kami berdua dengan sedikit menganggukkan kepala sebagai tanggapannya.


Oh, cinta!


Berhentilah mengeluarkan air mata. Aku sungguh tidak sanggup melihatnya.

__ADS_1


***


Dua hari kemudian, aku memutuskan untuk pulang ke kota asalku. Dimana kedua orang tuaku sudah menunggu kedatangan putra semata wayangnya di depan pintu.


Ekspresi yang pertama kali kulihat adalah mimik keterkejutan dari keduanya, yang tampak begitu kentara.


Tidak bisa dipungkiri, kepergian Rona waktu itu juga sukses menyiksa batin dan pikiran ayah dan ibu. Sehingga kedatangannya bersamaku saat ini juga sukses mengembalikan senyuman mereka yang sudah lama tertelan awan kelabu. Setidaknya, kebahagiaan kembali menghampiri mereka berdua, walaupun hanya untuk seutas waktu.


"Rona ...!"


"Sayang ... kamu kemana saja selama ini? Kenapa tidak kembali? Huda sudah mencarimu ke sana kemari, tapi tetap saja tidak bisa menemukan keberadaanmu." Seakan tidak sabar lagi, ibu langsung memberondongi Sidqia dengan banyak kalimat tanya.


Wanita yang sekarang berstatus sebagai mantan istriku itu tampak melirik ke arahku, seolah sedang meminta agar aku mengambil peran untuk memberikan penjelasan pada ibu. Wanita paruh baya itu langsung mengikuti arah pandang Sidqia yang saat ini masih fokus berkontak mata denganku.


"Sebaiknya kita masuk dulu, nanti akan aku ceritakan, Bu." Suaraku sukses memutus pandangan Sidqia padaku.


Ibu mengangguk, lalu berjalan berdampingan dengan Sidqia untuk memasuki ruang tamu. Disusul oleh langkahku dan ayah, seusai menutup pintu.

__ADS_1


Setelah berkumpul di sofa ruang tamu, aku pun langsung menceritakan kronologi kejadian sebenarnya, tanpa melewatkan sedikit pun detilnya. Ayah dan ibu tampak berkaca-kaca saking bahagianya. Antara percaya dan tidak percaya, keduanya langsung menghambur ke arah Sidqia untuk memeluknya. Memeluk putri mereka yang dianggap sudah lama meninggal dunia dalam usia yang masih sangat belia.


Dalam dekap haru yang menguar ke seluruh ruangan, mereka tampak tertawa sekaligus menangis bersama. Melepaskan jerat kerinduan yang selama ini membelenggu dada. Tak pernah terbayangkan, gadis kecil yang dulunya sangat manja, kini sudah tumbuh dewasa, bahkan menjadi seorang abdi negara.


Ayah dan ibu tampak begitu bahagia. Walaupun aku sendiri harus ikhlas menggenggam luka, namun dengan melihat personel dalam keluarga ini kembali utuh seperti sedia kala, ternyata hal itu jauh lebih berharga.


...TAMAT...


.


.


.


Hai, Readers!


Kisah Huda ini sengaja dibuat gantung dan belum sampai epilog ya, tapi Author juga belum sempat untuk menulis season duanya. Bagi yang suka, jangan di unfavo dulu ya, terima kasih sudah membaca🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2