
Hari ini selepas pulang bekerja aku sudah membuat janji dengan Bidan Nilam teman dari kakaknya Mas Ilham untuk memeriksa kehamilan perdanaku.
Disini banyak sekali bayi-bayi mungil yang lucu. Aku dan Mas Ilham sudah banyak membayangkan bagaimana menggemaskannya anak kami nanti.
Ku lihat Mas Ilham tampak bahagia menyapa seorang anak balita berusia sekitar dua tahun.
"Ibu Sarah, silahkan masuk." Suara seorang wanita terdengar memanggil namaku.
Aku dan Mas Ilham bergegas memasuki ruangan periksa.
"Apa kabar Ilham dan Sarah? Bagaimana kabar keluarga? Wah, hebat sekali yah kalian langsung jadi," goda Bidan Nilam.
"Alhamdulillah kabar semuanya baik mbak. Mbak bisa saja kan semua juga berkat saran Mbak Nilam."
Aku hanya tersenyum mendengarkan percakapan suamiku dan Bidan Nilam.
"Ayo Sarah, naik dulu biar mbak periksa."
__ADS_1
Aku berbaring di atas ranjang periksa. Mbak Nilam nampak serius memeriksakan kandunganku. Setelah selesai Mbak Nilam kembali ke tempat duduk di susul olehku.
Mbak Nilam menuliskan hasil pemeriksaan pertamaku pada sebuah buku berwarna merah muda.
Setelahnya ia baru menjelaskan bagaimana keadaan kandunganku dan juga diriku.
"Begini Ilham, kandungan Sarah sangat lemah itu semua terjadi karena banyak faktor salah satunya hamil di usia yang masih sangat muda. Kandungan yang lemah rentan sekali mengalami keguguran. Maka dari itu kamu Sarah harus menjaga asupan gizi dan juga pola pikirmu. Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak terlalu penting, saran dari saya selama kehamilan lebih baik kamu berhenti bekerja agar waktu istirahat kamu lebih cukup."
Aku hanya terdiam. Sejujurnya sungguh berat jika aku harus berhenti bekerja sementara aku adalah anak yang masih ibu dan abah andalkan untuk bantuan masalah biaya sekolah adik-adik.
Mas Ilham mengusap pucuk kepalaku lembut, dia tahu aku sedang memikirkan saran dari Bidan Nilam. Bidan Nilam menuliskan beberapa resep yang akan kami tebus di bagian pengambilan obat.
"Siap mbak, kalau begitu terima kasih yah mbak kami pamit dulu."
Aku dan Mas Ilham meninggalkan ruangan periksa. Kami beralih menuju tempat pengambilan obat. Janinku masih berusia 3 minggu masih banyak waktu untuk aku merawatnya selama ia di dalam kandungan.
Mas Ilham tak melepaskan pegangan tangannya, sejak Bidan Nilam mengatakan bahwa kandunganku lemah aku tahu mas Ilham menyimpan khawatir yang mendalam.
__ADS_1
Aku menyenderkan kepalaku di bahu milik Mas Ilham. Aku yakin kami pasti bisa menjaga titipan ini dengan sebaik-baiknya. Resiko hamil di usia muda kini benar-benar aku alami.
Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan kata-kata Bidan Nilam hingga sampai waktu kami akan tidurpun masih terus terngiang.
"Mas, aku masih mau bekerja. Aku tidak mau berhenti." Aku mulai membuka suaraku dengan nada lirih.
Mas Ilham berbaring menghadapku, menatap wajahku dengan penuh harap agar aku bisa menuruti saran dari Bidan Nilam.
"Kenapa dek?" tanya Mas Ilham.
"Mas kan tahu aku masih perlu biaya sekolah untuk Alisa dan Syarif. Jika aku berhenti bekerja bagaimana mereka akan melanjutkan sekolah? Sementara ibu dan abah sudah lansia." Air mataku bercucuran tak tertahan.
"Mas yang akan tanggung." Mas Ilham memelukku erat, suamiku selalu saja bersikap baik dan hangat kepadaku. Dalam pelukannya aku menggelengkan kepala.
"Aku gak mau mas, aku janji bakal tetap jaga semua pola makan dan pola pikir agar anak kita tetap tumbuh didalam sini." Aku mengusap perutku dan suamiku pun luluh.
Mas Ilham mengerti bagaimana aku, meskipun dia adalah suamiku tapi aku tidak pernah mau merepotkannya. Padahal mas Ilham ingin sekali bisa banyak membantu keluargaku di desa.
__ADS_1
Kami belum memberikan kabar bahagia ini kepada keluargaku di desa juga kepada ibu mertua beserta mbah putri di Yogya.
Kami berencana akan memberitahu kabar gembira ini ketika libur akhir pekan sekalian silahturahmi mengunjungi ibu mertua dan orang tuaku di desa.