
Prosesi lamaran kami berjalan lancar, tanggal penentu pernikahan telah resmi ditetapkan. Alhamdulillah doa tulus dari banyak rekan kami terima.
Semoga tak ada halangan.
Aku masih mengingat dengan jelas hari dan tanggal pernikahan kami.
Dan saat itu kini telah tiba berlangsung acara ijab qabul dan pesta yang meriah.
Semua kami adakan di Jakarta tempat kediaman Teh Rani. Aku memboyong keluarga besar dari desa.
Sekali lagi rasa syukur yang dalam aku ucapkan kepada Sang Maha Cinta yang mampu membolak-balikan hati manusia.
*Ahad, 25 April 2010.*
"SAH*."
Lantunan doa dan tangis bahagia mengiringi.
Sekali lagi aku mengucap maaf dan meminta ridho kepada kedua orang tuaku karena saat ini statusku sudah berganti aku telah menjadi tanggung jawab suamiku sepenuhnya.
Aku juga meminta restu ibu mertua, tangannya membelai kepalaku dengan penuh kelembutan. Berpesan agar aku dapat menjadi istri yang sholehah dan dapat memberinya banyak keturunan.
"Ibu ridho nak, jadilah istri yang sholehah dan berikan ibu banyak cucu. Berbahagialah kalian."
Aku tahu Mas Ilham anak laki-laki terakhir dan satu-satunya, meskipun Mas Ilham bukan anak kandung ibu tapi ibu sangat menyayangi Mas Ilham seperti darah dagingnya sendiri.
Ibu mertua tak mempunyai anak, menikah dengan ayahnya Mas Ilham yang berstatus duda dengan dua orang anak. Ibu kandung Mas Ilham telah lama meninggal beberapa jam sejak kelahiran Mas Ilham karena pendarahan hebat yang sulit terhenti.
__ADS_1
Aku lihat Mas Ilham yang telah resmi menjadi suamiku, senyuman penuh ketulusan tak pernah lepas dari bibirnya.
Aku masih merasa seperti mimpi dapat berdiri di pelaminan bersama laki-laki dengan waktu yang cepat.
Tak ada pacaran, tak ada kencan, hanya perkenalan singkat.
Mbak Ning datang bersama anak dan suaminya. Dia memelukku erat tak menyangka bahwa aku akan cepat bertemu jodoh.
"Selamat Sarah, Alhamdulillah semoga menjadi keluarga yang SAKINAH, MAWADAH, WAROHMAH."
Mbak Ning adalah perantara yang Allah kirim, jika bukan karena Allah menggerakan hatinya mungkin juga aku dan Mas Ilham takkan pernah saling mengenal.
Acara resepsi telah usai. Malam ini aku dan Mas Ilham pulang kerumah milik Mas Ilham.
Ya, rumah yang hanya akan kami huni berdua dan akan segera ada tangis bayi-bayi kecil yang lucu yang akan mengusir sepi.
Mas Ilham masih terduduk di sofa terlihat sangat lelah.
Aku terduduk dibawahnya melepaskan sepatu dan kaos kaki milik Mas Ilham yang masih terpakai.
Mas Ilham terkejut, dia berusaha membangunkan tubuhku untuk berdiri dan menyuruhku duduk disampingnya.
"Tidak usah dek, biar mas saja."
Aku tetap terdiam membuka sepatu dan kaos kaki yang menempel.
"Sudah kewajibanku sebagai istri, mas aku tinggal sebentar aku sedang masak air untuk mandi mas karena sudah larut malam."
__ADS_1
Aku meninggalkan Mas Ilham sendiri di ruang tamu bergegas menuju dapur untuk menuangkan air panas ke dalam bak mandi.
Mas Ilham membersihkan diri sementara aku menunggu kedatangan Mas Ilham di pinggiran ranjang.
Hatiku berdegup ketika suara gagang pintu berdecak. Mas Ilham telah selesai mandi dia hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang.
Aku harus terbiasa melihat pemandangan yang seperti ini. Sejujurnya aku sangat gugup saat memberikan pakaian tidur Mas Ilham terlebih Mas Ilham memakainya di depanku dengan sikap cuek.
Untuk pertama kali pandangan suciku ternoda oleh suamiku sendiri yang kini telah menjadi pemilik tubuhku.
Wajah ku sudah sangat merah merona.
Selepas shalat kami tertidur, untuk pertama kalinya aku tidur satu ranjang dengan seorang pria.
Masih terasa seperti mimpi, dimana ada laki-laki yang kini tengah terlelap di sampingku.
Mataku masih terjaga. Aku memandangi wajah Mas Ilham, suamiku. Tanpa sadar tanganku mengusap pelan wajahnya. Mas Ilham menggeliat dan perlahan membuka matanya.
Aaaargh, Sarah apa-apaan kamu ini?
Aku merasa gugup ketika mata kami saling berpandangan dengan jarak yang cukup dekat. Mas Ilham tersenyum. Aku cukup mengerti arti dari senyumnya.
Tangannya yang memeluk guling perlahan berpindah tempat.
Aku mengangguk tanda setuju. Malam pengantin baru.
Kami melewati semua dengan indah, tanpa meninggalkan doa. Ku siapkan jiwa dan raga serta hatiku.
__ADS_1