Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Acara yang berakhir duka


__ADS_3

Persiapan menjelang acara tasyakuran, ibu dan kakak ipar sibuk mengurus berbagai macam kebutuhan sementara aku hanya dapat berdiam diri saja, mereka sama sekali tak mengizinkan aku untuk ikut turun tangan.


"Bu, boleh Sarah bantu?" tanyaku hati-hati.


Ibu menggelengkan kepala dengan cepat. Aku benar-benar tidak di izinkan bahkan hanya melipat kertas box nasi. Sejujurnya, aku merasa tidak betah tinggal di rumah ibu mertua. Bukan karena aku tidak di perlakuan dengan baik justru karena ibu mertua yang terlalu baik. Jika ibu mertua yang lain gemar menyuruh ini itu kepada si menantu lain halnya dengan ibunya Mas Ilham. Disini aku malah di ajarkan menjadi orang yang berpangku tangan.


"Mas, aku tidak betah. Pokonya selesai acara kita harus pulang!" rengekku dengan manja.


"Iya, iya. Kamu itu aneh loh Dek. Disaat menantu yang lain minta pulang karena di siksa oleh mertua kamu justru minta pulang karena terlalu disayang mertua," ujar Mas Ilham.


Aku hanya mendelik mendengar ledekannya Mas Ilham. Pandai sekali suamiku ini untuk membuatku mengurungkan niat kembali kerumah. Ah, pokonya tidak bisa lagi di cegah. Aku mau pulang!


Hari ini entah mengapa aku merasa tidak enak dibagian perut bawahku. Rasanya seperti ada yang mengganjal dan membuatku merasa tak nyaman. Dari bangun tidur entah sudah beberapa kali aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aku sama sekali tidak menghiraukan hal ini, lagi pula hal yang aku alami adalah hal yang lumrah dialami oleh wanita hamil lainnya.


Semakin sore, rasanya semakin memanas. Aku yang sedang menyapu menghentikan aktivitasku, aku mulai sedikit meringis. Tak ada siapapun semua sedang sibuk di dapur belakang. Dengan langkah tertatih aku berusaha terduduk di kursi halaman depan.

__ADS_1


Aku menselonjorkan kedua kakiku yang sedikit membengkak sambil memejamkan mata mengatur nafas.


Teriakan Mbak Ayu melengking, membuatku terlonjak kaget.


"Saaarah, itu darah." Teriak Mbak Ayu histeris melihat darah mengalir di kakiku.


Dengan tergopoh-gopoh Mas Ilham berlari keluar menuju tempatku tengah terduduk. Sebisa mungkin aku tetap bersikap tenang walau dalam hati aku sudah begitu panik. Teriakan Mbak Ayu berhasil memancing yang lainnya keluar.


"Ya Allah, Ilham kenapa dengan Sarah? Ayo segera bawa ke Bidan." Ujar Ibu mertua yang melihatku dengan kecemasan. Aku menggeleng, aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. Tubuhku serasa kehilangan tenaga. Mbak Ayu menghubungi Bidan Nilam sementara Mas Ilham memapah tubuhku masuk ke dalam kamar.


Aku tak kuat, sungguh tak kuat. Mas Ilham yang membersihkan gumpalan darah itu sampai tak ada satupun yang tersisa. Tak lama Bidan Nilam datang memeriksa kandunganku, semua menunggu diluar kecuali Mas Ilham. Dengan sabar Mas Ilham memegangi tanganku seakan ingin memberiku banyak energi.


Bidan Nilam menggeleng. Dia memberi vonis bahwa aku telah keguguran.


"Ilham, Sarah kalian harus bersabar. Janin kalian telah mengalami keguguran. Aku akan berikan resep untuk mengeluarkan dan membersihkan gumpalan darah yang masih tersisa dirahim istrimu. Sarah tak perlu melakukan kuratase." Jelas Bidan Nilam.

__ADS_1


Penjelasan Bidan Nilam bagaikan sambaran petir di siang bolong untuk kami. Aku menangis sejadi-jadinya.


"Tidak mungkin, jadi yang tadi itu anakku. Tidak mungkin Mas," tangisku pecah.


"Sabar, Istighfar Sarah. Semua sudah ketentuan Allah kita harus sabar menerima. Sudah Sarah tenang, masih ada aku disini. Allah akan segera menggantinya Sarah." Mas Ilham berusaha menenangkan diriku.


Bidan Nilam memberikan kabar duka kepada keluarga yang lain diluar. Tangisan ibu mertua tak kalah pecah. Ibu mertua memelukku erat. Dia benar-benar tahu bagaimana perasaanku saat ini yang baru saja kehilangan calon anak dirahimku. Tangisku tak dapat berhenti.


"Ibu, anakku Bu." Aku kembali menangis meratapi nasib calon anakku. Dia bahkan belum merasakan hangatnya pelukan dariku dan Mas Ilham. Ternyata Allah lebih sayang kepadanya. Aku kembali menangis mengingat kejadian yang begitu cepat menimpaku. Mas Ilham membersihkan dan menguburkan janin kami di halaman depan rumah ibu. Mas Ilham menitikkan air mata, aku tahu dia sama seperti diriku. Hancur dan terluka.


"Maafkan aku Mas, maafkan aku yang tak bisa menjaga titipan-Nya." Ku peluk tubuh Mas Ilham erat. Aku seperti merasa bersalah karena telah lalai dan terlalu menyepelekan keadaan. Kini acara tasyakuran yang telah kami siapkan harus berakhir dengan kabar duka yang menimpa calon anak kami.


Mas Ilham segera mengabarkan berita duka kepada sanak saudara yang lain, kepada keluarga ku juga. Teh Rani dan Mas Yudi memutuskan untuk segera pergi kerumah ibu mertua sementara orang tuaku di desa sangat terkejut mendengarnya. Berulang kali ibu dan abah menasihati diriku dan memberiku semangat agar tidak terlalu terpuruk. Kehilangan anak bukan berarti aku harus berhenti untuk tetap hidup.


"Nak, maafkan bunda yang telah lalai menjaga dirimu. Semoga kelak dirimu menjadi penolong bunda dan ayah di akhirat. Bunda dan ayah sudah ikhlas." Aku usap perutku yang sudah tak ada isi. Mas Ilham berulang kali mengecup keningku mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2