Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Kembali Tegar


__ADS_3

Lama tak bersua pasca keguguran yang aku alami aku memilih untuk cuti selama seminggu menenangkan diriku dikampung. Aku benar-benar merasa depresi pasalnya ini adalah kali pertama aku mengalami keguguran yang tak pernah aku duga. Selama seminggu aku berada di desa, aku benar-benar memulihkan diri serta hati. Mas Ilham tak ikut serta karena ia tetap harus bekerja di Ibukota. Setiap hari Mas Ilham dan ibu mertua rutin menghubungi untuk mengetahui bagaimana kondisi terkini diriku. Sebab yang mereka tahu aku sangat terpuruk dan itu adalah sebuah fakta. Aku memang sangat terpuruk dan terpukul. Rasa bersalah karena kelalaianku sangat sulit untuk aku hilangkan.


“Neng, kamu harus bangkit sebab masih ada Ilham yang butuh kamu. Tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan. Ibu yakin secepatnya Allah akan memberimu anak lagi.” Ibu mengelus kepalaku yang tengah tertidur dipangkuannya.


Aku hanya terdiam, air mataku kembali menetes. Seandainya saja. Ucapan ibu ada benarnya, aku tidak boleh terus-terusan bersedih. Aku masih punya suami yang harus aku bahagiakan. Bahkan disaat-saat seperti ini Mas Ilham juga pasti bersedih dan juga membutuhkan aku. Pikiranku kembali cerah setelah mendengar nasihat ibu. Aku harus kuat dan harus kembali tegar!


“Bu, aku harus menghubungi Mas Ilham. Aku akan pulang ke Jakarta besok.” Ucapku membuat ibu tersenyum. Aku bergegas menuju kamar, mengambil ponsel untuk menghubungi Mas Ilham.


“Hallo, assalamualaikum Mas Ilham. Mas, aku ingin pulang kerumah. Jemput aku!”


Suara sahutan dari Mas Ilham terdengar begitu senang, dirinya akan menjemputku sore nanti dan menyuruhku untuk bersiap-siap dari sekarang. Aku segera menutup panggilan dan segera mengemasi pakaian yang aku bawa.


Jam tujuh malam Mas Ilham telah sampai, Mas Ilham datang bersama Mas Yudi.

__ADS_1


“Assalamualaikum,” suara salam serempak terdengar dari luar. Ibu yang mendengar salam mereka segera membuka pintu, kedua menantunya sudah berdiri di teras rumah. Aku keluar menyalami Mas Ilham dan Mas Yudi. Mereka beristirahat sejenak untuk berbincang dengan abah sambil menikmati kopi yang sudah ibu suguhkan. Aku hanya menyimak perbincangan diantara mereka.


Sepulangnya di Jakarta aku benar-benar menutup diri, belum siap rasanya untuk mendengar gunjingan-gunjingan dari para tetangga terutama emak-emak yang suka bergosip ditempat sekitar rumahku tinggal. Hari ini Mbok Sarni tidak datang kerumah, bahan-bahan makanan sudah habis di kulkas. Mau tidak mau aku harus berbelanja ke warung depan sendiri. Aku berjalan keluar, sore hari ini emak-emak gosip aku lihat ramai telah berkumpul. Ingin memutar balik tapi salah satu di antara mereka telah melihat dan berhasil memanggilku.


“Sarah, tunggu sebentar!” suara Mbak Nunik sepertinya yang memanggil. Aku menoleh dan benar saja Mbak Nunik yang memanggilku. Dia berjalan menuju tempatku yang tengah berdiri terdiam.


“Kamu mau kemana? Ko balik lagi?” tanyanya.


“Oh begitu, aku pikir kamu mau belanja ke warung depan kalau mau belanja hayuk bareng.”


“Iya aku memang mau belanja ke warung depan, yasudah ayo mbak kita jalan sekarang.” Aku memutuskan untuk ke warung bersama Mbak Nunik. Sepertinya dia tak seperti tetangga yang lainnya, yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain. Sejak tadi dia mengajakku berbicara tapi tak membahas apapun soal musibah yang baru saja aku alami. Warung Pak Mamat sore hari ramai juga. Beberapa ibu-ibu nampak sedang sibuk memilih sayur mayur. Aku dan Mbak Nunik ikut nimbrung bersama.


“Eh, Neng Sarah. Apa kabar? Oh ya neng, ibu turut berduka atas musibah yang Neng Sarah alami. Semoga Neng Sarah dan suami bisa tabah,” ucap Bu Saodah mengusap punggungku lembut membuat mataku kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


“Iya bu terima kasih,” jawabku.


“Makanya kalau lagi hamil itu ingat pantangan! Kasiankan bayinya jadi meninggal.” cerca Bu Ambar dengan ketus. Aku terdiam merenungi ucapan Bu Ambar.


“Eh Bu Ambar, kalau ngomong jangan sembarangan. Namanya udah takdir mana ada sih yang mau bayinya meninggal,” jawab Bu Saodah membelaku. Bu Ambar pergi lebih dahulu sementara Bu Saodah dan Mbak Nunik berusaha menenangkanku.


“Sudah yah Neng Sarah jangan di ambil hati, emang begitu si Ambar orangnya kalo ngomong kaga lewat tenggorokan kaga disaring makanya asal nyeplos.” Pak Mamat ikut mengeluarkan suara.


"Bang Mamat emang di tenggorokan ada saringannya yah?" tanya Mbak Nunik polos membuatku dan Bu Saodah sedikit tersenyum.


Ucapan Bu Ambar memang benar, seandainya saja aku bisa menghindari segala pantangan mungkin tidak akan ada kejadian aku mengalami keguguran. Akan tetapi ucapan Bu Saodah tak kalah benar siapapun tak ingin kehilangan anaknya tapi apa mau dikata jika garis takdir harus berjalan tak sesuai ingin.


Semua aku serahkan kepada Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2