
Aku merasa kehangatan tubuh Mas Ilham menghilang. Benar saja Mas Ilham tak berada disampingku ketika aku membuka mata.
"Uh, dimana Mas Ilham?" Aku memegangi kepalaku. Kepalaku sungguh terasa nyeri. Tenggorokanku begitu kering. Aku beranjak dari kasur menuju dapur. Kepalaku yang terasa pusing membuat pandanganku kabur dan langkahku menjadi sedikit terhuyung.
Langkahku terhenti mendengar suara percakapan antar dua manusia, suara yang terdengar tak asing. Seperti suara ibu dan Mas Ilham.
Sedang berbicara apa mereka malam-malam seperti ini? batinku. Aku melanjutkan langkah ke dapur untuk menuangkan segelas air minum dan kembali membawanya ke kamar.
Tetapi rasa penasaran hinggap, dimana aku merasa topik obrolan yang sedang mereka perbincangan sangatlah penting. Ku rapatkan tubuhku pada sebuah tembok dekat pintu agar leluasa mendengar dan tak menarik perhatian mereka bahwa ada aku yang sedang diam-diam menguping perbincangan diantara ibu dan anak di teras.
Jantungku berdegup ketika ibu menyebutkan satu nama yang akhir-akhir ini kembali menghiasi hidup suamiku. Dan gadis itu adalah Nada.
Tentang Nada? Aku berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres menyangkut mereka berdua. Kembali ku pasang telinga lebar-lebar. Hatiku terasa kacau balau mendengar cuapan ibu tentang Nada.
__ADS_1
"Nada adalah gadis yang baik, Ham. Sejak dahulu dia sangat menyukaimu dan ibu tahu itu. Apakah kamu sama sekali tak memiliki perasaan kepadanya?"
Aku tidak mengerti dengan maksud ibu yang menanyakan bagaimana perasaan Mas Ilham terhadap Nada. Ibu orang yang paling tahu bagaimana rasa cintanya Mas Ilham kepadaku namun mengapa ibu menanyakan perasaan Mas Ilham terhadap perempuan lainnya.
Aku atur nafas, lalu ku seka air mata yang perlahan keluar. Setelah kehilangan anak apakah aku akan kehilangan suamiku juga?
"Ibu tahukan bagaimana perasaan Ilham kepada Sarah? Bu, bagaimana bisa Ilham menyukai Nada sementara semua cinta Ilham tercurah sepenuhnya untuk Sarah." Jawaban dari Mas Ilham membuat air mataku luruh, mengalir lebih deras.
"Ibu sangat tahu itu. Tetapi apa kau sama sekali tak akan memberi kesempatan untuk Nada? Apa kau tak ingin berpoligami?"
Beberapa saat hening tercipta di antara mereka, aku memutuskan untuk berhenti mendengarkan percakapan mereka selanjutnya.
Belum ada jawaban keluar dari mulut Mas Ilham, aku berjalan tertatih menuju kamar meninggalkan perbincangan yang belum usai.
__ADS_1
Aku mengunci pintu kamar rapat. Menangis tanpa suara hingga aku merasa kesulitan untuk bernafas. Didalam otakku sudah terisi penuh dengan bayang-bayang pernikahan Mas Ilham dan Nada.
Jika keinginan ibu ingin lebih cepat mendapatkan seorang cucu maka tak perlu ibu mertua menyuruh suamiku untuk berpoligami. Aku sendiripun tak ingin kehilangan anak hingga berkali-kali namun apa daya jika semua itu sudah menjadi kehendak-Nya.
Setengah jam berlalu. Pintu kamar sudah tak lagi terkunci. Aku berbaring namun mataku masih terbuka, tak dapat terpejam sempurna.
Aku mendengar suara langkah, sepertinya langkah Mas Ilham yang akan kembali menuju kamar. Suara langkahnya semakin mendekat tak lama suara gagang pintu berdecit. Mas Ilham terduduk di tepian ranjang.
"Mas," sapaku tanpa berbalik ke arahnya.
"Iya, kenapa kamu belum tidur Sarah?" tanya Mas Ilham. Ku rasakan usapan lembut pada surai. Air mata kembali mencelos keluar. Aku kembali terisak.
"Mas, apakah engkau akan meninggalkan aku yang belum bisa memberikanmu seorang anak?" tanyaku dengan isakan yang semakin mengiris hati. Aku ingin menyimpan semua perbincangan tadi namun hatiku tak kuasa.
__ADS_1
"Tidak Sarah, apakah kamu mendengar percakapan antara aku dan ibu?"
Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Mas Ilham segera membalikkan tubuhku. Memelukku dengan erat mengucapkan kata maaf tak berjeda tanpa sebuah penjelasan. Semua masih menjadi tanda tanya entah apakah Mas Ilham bersedia atau justru menolaknya secara mentah-mentah. Aku tidak tahu itu.