Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Bulan Madu


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, aku membangunkan mas Ilham untuk segera bersih-bersih dan shalat subuh berjamaah pertama. Aku sudah mandi terlebih dahulu karena pergelutan kami semalam, sungguh menyisakan ruang yang membuat mataku enggan terpejam.


"Dek, hari ini siap-siap kita akan berangkat ke Yogyakarta. Kita berziarah ke makam mamak dan bapak setelah itu seperti janjiku kita akan berbulan madu."


Mas Ilham mengusap wajahku, aku hanya mengangguk masih malu-malu. Segera aku membereskan pakaian yang akan kami bawa. Dua buah koper telah siap Mas Ilham memasukkan ke dalam bagasi mobil.


Hari ini kami pergi ke Yogyakarta menempuh perjalanan yang tak sebentar.


Sesampainya kami di Yogyakarta setelah berziarah kami pergi silahturahmi terlebih dahulu kerumah sanak saudara Mas Ilham dan rumah mbah putri untuk menjenguk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Terlihat wanita tua keluar dari dalam rumah dengan nuansa jati.


"Ilham, ini istrimu? Cah ayu."


Mbah putri mengusap kepalaku, aku memasuki rumah mbah putri yang cukup luas untuk beliau yang tinggal seorang diri.


Malam ini kami akan bermalam dirumah mbah putri, esok kita akan memulai perjalanan yang cukup panjang untuk berbulan madu.


Aku merasa kehangatan berada diatengah-tengah keluarga Mas Ilham. Ada bude, bukle, dan masih banyak lagi saudara-saudara Mas Ilham yang kini tengah hadir diruangan tengah. Malam berlalu, aku dipanggil oleh mbah putri dan bude untuk segera menuju dapur.


Sesampainya di dapur mbah memberiku segelas minuman dengan warna mencolok dan bau yang menyengat.


"Minum ini yah nduk, jamu biar kamu subur dan segera ngisi."


Aku mengambil gelas dan langsung meminumnya tanpa banyak tanya. Rasanya sungguh luar biasa. Mbah dan bude tertawa melihat ekspresi wajahku mereka segera memberikan aku segelas air madu untuk meredakan rasa pahit di lidah.


"Panggil Ilham Min!"


Bude segera memanggil Mas Ilham, nampak Mas Ilham langsung mendatangi kami di dapur. Mbah langsung memberikan gelas jamu dan Mas Ilham seperti sudah mengetahui dia meminum tanpa banyak komentar. Mbah mendorong aku dan mas Ilham untuk segera masuk ke kamar.

__ADS_1


"Buatkan mbah cicit yang banyak."


Hanya itu pesan mbah putri dan membuatku kembali tersipu.


Kamar yang bersih sudah ditata rapi oleh si mbah, aku terlelap lebih dahulu karena lelah oleh perjalanan belum lagi besok kita harus berangkat kembali.


Terasa ada yang aneh, tubuhku tiba-tiba terasa berat. Ku buka mata terlihat satu senyum manis nakal disana.


Kenapa? Aaahhhh baru kusadari bajuku sudah terlempar dimana-mana. Sepertinya jamu dari mbah sudah mulai bekerja.


Jam 07.00 pagi kami pamit kepada seluruh keluarga, sebelum berangkat ku lihat mbah menarik lengan mas Ilham dan berbisik-bisik.


"Bagaimana? Ampuh toh?"


Mas Ilham hanya nyengir kuda, sementara wajahku sudah semerah tomat.


Mbah sungguh ampuh jamunya.


Tempat pertama yang kami kunjungi adalah pantai Parangtritis, kami akan bermalam di sana sebelumnya kami sudah memesan kamar dipenginapan sekitar sana.


"Sungguh indah ciptaan-Mu Rabb."


Aku memandang takjub untuk pertama kali gadis desa seperti diriku bepergian jauh dan nilai plus bersama suami.


Kami masih seperti sepasang kekasih, tak heran pegawai penginapan kembali menanyakan apakah kami memang sudah menikah.


Ditunjukkan buku nikah yang sengaja kami bawa untuk berjaga-jaga.


Menghabiskan waktu di pantai, main air bersama suami dan mengambil potret sebanyak mungkin yang akan tersimpan sebagai kenangan.


Kami benar-benar seperti muda-mudi yang sedang berpacaran, anggaplah begitu. Ternyata berpacaran setelah menikah itu jauh lebih indah.


Matahari telah diujung siap tertelan malam. Senja yang akan aku habiskan bersama suami.

__ADS_1


Aku pandangi lekat-lekat wajah mas Ilham.


"Mas, jangan pernah meninggalkan aku," bisikku lirih hampir tak terdengar.


Ternyata Mas Ilham mendengar suaraku, diciumnya tanganku.


"Aku tak akan melepaskan apa yang sudah aku genggam Sarah."


Aku memeluk Mas Ilham, bahagia yang berkecamuk. Rasa cinta dan takut kehilangan mengaduk. Jingga yang sudah tak terlihat berganti awan gelap. Kami kembali ke penginapan untuk melakukan aktivitas yang menurutku sudah menjadi biasa.



Hari ini jadwal kami di penginapan hingga siang, kami memutuskan untuk kembali bermalam dan tinggal di rumah mbah.


Sore kami berjalan-jalan ke Malioboro, untuk mencicipi aneka kuliner di sana.


Tak terasa sudah tiga hari kami dirumah mbah, dua lembar kertas tergeletak di atas meja. Aku terbelalak membaca tak percaya.


Dua tiket pesawat ke Bali hari ini untukku dan suami. Mataku berkaca-kaca, akhirnya aku akan pergi ke Bali.


Aku benar-benar merasa kampungan, ini kali pertama aku menaiki pesawat. Mulutku komat-kamit membaca doa untuk mengusir rasa takut. Mas Ilham hanya tersenyum memegangi tanganku disepanjang perjalanan menuju Bali.


Kami telah sampai di Bali. Aku menghembuskan nafas, tak menyangka aku akan menginjakan kaki di kota ini.


Mas Ilham sudah memesan hotel untuk beberapa hari kedepan.



"Bagaimana dek? Kamu suka?" Mas Ilham memegang pundakku, aku hanya menjawab dengan anggukan.


Mas Ilham menggendong tubuhku, direbahkan di atas ranjang yang sudah berhias taburan bunga mawar merah berbentuk hati.


Bagaimana aku bisa menolak untuk tidak jatuh cinta? Jika kamu selalu tahu bagaimana memperlakukan aku sebagaimana wanita yang benar-benar engkau cinta?

__ADS_1


Kembali kami lanjutkan peraduan, seakan tak punya letih Mas Ilham sungguh tak memberiku kesempatan untuk mengeluh.


Tak pernah ada kata menyesal menjadi istri Mas Ilham, meskipun aku harus kehilangan masa muda semoga hidupku tak suram di masa depan.


__ADS_2