
Aku dan Mas Ilham kini telah pergi meninggalkan rumah ibu mertua. Rumah yang penuh dengan kehangatan yang bahkan mampu membakar bagian lain dari hatiku.
Sepanjang perjalanan mulutku mungkin terdiam namun tidak dengan otakku yang tidak ingin berhenti memikirkan bagaimana cara seharusnya aku bersikap nanti saat berhadapan dengan Nada.
Mobil milik suamiku telah terparkir manis, kami segera melangkah keluar. Mas Ilham terus memegangi tanganku erat. Langkah kami beriringan menuju tempat pendaftaran.
Karena sebelumnya kami sudah memiliki janji temu tak perlu waktu lama bagi kami untuk menunggu. Dokter yang menanganiku kali ini bukanlah Nada. Ada rasa penasaran akan keberadaan Nada saat ini.
Dokter yang menanganiku saat ini juga tak kalah cekatan. Dengan penuh hati-hati dokter perempuan itu memeriksa jahitan yang sudah mengering di perutku.
Dokter mengatakan bahwa luka bekas jahitanku sudah cukup mengering dan tak ada tanda-tanda infeksi. Aku hanya perlu banyak istirahat dan tak melakukan aktivitas yang berat.
Aku hanya mengiyakan setiap perkataan dokter perempuan berwajah ramah itu. Pemeriksaan telah usai kami melenggang meninggalkan ruangan.
"Mas, kemana Nada yah? Kenapa bukan dia yang memeriksaku?" Aku bertanya kepada Mas Ilham yang hanya dijawab oleh gerakan di kedua bahunya.
__ADS_1
Mungkin aku memang terkesan aneh, di satu sisi aku membenci kehadiran Nada namun di sisi lain aku juga merasa simpati akan dirinya.
Aku terduduk menunggu obat berdasarkan resep yang sedang di siapkan oleh petugas khusus bagian farmasi. Mas Ilham pergi ke toilet meninggalkan aku sendiri.
Selang tak lama perawat yang pernah memeriksa aku bersama Nada lewat di hadapanku. Karena rasa keingintahuan yang tak dapat aku tahan dengan secepat kilat aku segera menghampiri perawat itu.
"Permisi, masih ingat saya?" aku mencoba menyapa sok kenal. Perawat itu melemparkan senyum.
"Iya Bu Sarah saya masih ingat. Apa kabar? Ada apa memanggil saya?" tanya perawat itu dengan ramah kepadaku.
Perawat itu hanya menjelaskan jika Nada memang izin tidak tugas hari ini tetapi perawat itu tak mengatakan alasan mengapa hari ini Nada memilih izin tidak masuk.
Aku meminta nomor telepon Nada kepada si perawat itu dan dia bersedia memberinya. Dengan cepat ku ketik nomor yang disebutkan oleh perawat dengan sedikit terburu-buru.
Kemudian perawat itu pamit berlalu meninggalkan aku sendiri yang masih sibuk memikirkan alasan Nada. Mungkinkah dia sakit atau menghindari pertemuan denganku dan Mas Ilham?
__ADS_1
Ku simpan kembali ponselku ke dalam tas dan kembali terduduk menunggu kedatangan Mas Ilham. Baru saja Mas Ilham akan menghampiriku namaku telah terpanggil, obat yang diresepkan telah selesai disiapkan.
Mas Ilham membelokkan tubuhnya ke arah tempat pengambilan obat. Petugas rumah sakit menjelaskan dengan detail fungsi serta aturan minum dari obat-obatan yang Mas Ilham genggam.
Setelah mendapatkan obat kami segera melaju menuju rumah. Sama saat kami akan berangkat, ketika pulang Mas Ilham masih menggenggam tanganku erat.
Mas Ilham hanya mengantarku pulang dan menurunkan beberapa tas besar yang berisi barang bawaan yang kami bawa saat menginap di rumah ibu mertua, sesudahnya ia pamit untuk pergi bekerja dan mungkin pulang agak larut malam.
"Maaf mas tidak bisa menemani kamu. Mas harus berangkat bekerja mungkin pulang agak larut malam. Kamu istirahat, jangan banyak aktifitas. Mas nanti mampir kerumah Mbok Sarni untuk meminta tolong menemani kamu biar tidak kesepian." Mas Ilham mengecup keningku.
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan darinya. Mas Ilham menyimpan kembali kunci mobilnya dalam laci menggantinya dengan kunci motor di tangan.
Aku membantu memakaikan jaket suamiku. Lalu, mengantarnya sampai depan halaman. Mas Ilham melajukan motornya hingga tubuhnya tak terlihat di persimpangan aku kembali masuk ke dalam.
Baru saja menutup pintu suara perempuan samar terdengar mengucapkan salam di depan halaman. Siapakah yang bertamu? pikirku dalam.
__ADS_1