Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Bertahan Tiga Hari


__ADS_3

Sudah tiga hari aku terbaring di ranjang rumah sakit. Ibu mertua setiap jam besuk selalu rutin datang menjenguk. Ibu mertua membawakan aku berbagai jamu persalinan yang harus aku minum setiap pagi dan sore hari. Seperti saat sore ini ibu mertua kembali menyuruhku untuk meminum jamu buatannya.


"Ayo Nak Sarah diminum," ujar ibu. Dengan telaten ibu mertua merawatku pasca melahirkan.


Ibu mertua membawakan aku banyak makanan setiap hari. Kata beliau aku sedang dalam masa mapas. Mapas berlangsung tujuh hari pasca melahirkan. Aku hanya menurut saja dengan apa yang ibu mertua suruh. Aku yakin apapun yang dikatakannya juga demi kebaikanku kedepannya.


"Mas Ilham dimana bu?" tanyaku yang sedari tadi tak melihat keberadaan suamiku.


"Diluar tadi sedang mengobrol sama Nada." Jawab ibu mertua seperti tak menghargai perasaanku. Aku hanya terdiam. Setelah jam besuk usai Mas Ilham baru kembali ke kamar.


"Abis dari mana Mas? Sudah puas berbincang dengan Nada?" Aku langsung menyindir Mas Ilham. Beberapa hari ini suamiku sangat begitu dekat dengan Nada.


Beberapa kali Nada juga sering memanggil Mas Ilham membuat rasa curigaku mencuat kepermukaan. Bagaimana aku tidak cemburu jika harus melihat suamiku berdekatan dengan wanita lain.

__ADS_1


"Sarah, kamu bicara apa? Aku berbincang dengan Nada karena ada suatu hal penting."


"Hal penting? Coba katakan hal penting macam apa?" tanyaku lembali dengan amarah.


"Tentang anak kita." Mas Ilham menundukan kepala. Persoalan anak mengapa dia tak bicarakan kepadaku juga. Bukankah aku adalah ibunya? Ibu yang sudah melahirkan anak itu dengan mengorbankan nyawa. Aku sudah tak habis pikir dengan suamiku. Aku meminta penjelasannya lagi.


"Kondisi bayi kita menurun Sarah," jawab Mas Ilham yang membuatku terkejut bukan kepalang. Kondisi kesehatan anakku semakin menurun.


Seperti hari ini bayiku mengalami demam yang cukup tinggi. Aku meminta Mas Ilham untuk membawaku ke tempat dimana anakku dirawat. Saat ini anakku berada diruang NICU.


Rasa sakit jahitan yang terasa menyayat tak aku hiraukan. Aku ingin bertemu anakku. Pantas saja sudah dua hari ini aku tidak boleh menemui anakku dengan berbagai alasan.


Aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Setelah bernegosiasi akhirnya kami diperbolehkan masuk hanya sebentar. Aku hanya dapat melihat anakku dari luar kaca jendela.

__ADS_1


Tubuhnya nampak sangat lemah. Aku sudah tidak bisa menahan tangis. Sekujur tubuhku terasa lemah melihat anakku tak berdaya. Mas Ilham memutuskan untuk membawaku kembali ke kamar perawatan.


"Kamu jahat Mas. Kenapa kamu sama sekali tidak memberitahu kepadaku tentang kondisi anak kita? Kenapa Mas?" Aku tersedu dipelukan Mas Ilham. Aku benar-benar kecewa kepadanya. Kondisi anakku sudah sangat lemah. Entah apakah dia dapat bertahan hidup melewati masa kritisnya.


"Maafin Mas, bukan Mas tidak ingin memberi tahumu tetapi Mas tidak mau kondisimu juga ikut menurun." Mas Ilham mengusap kepalaku. Membiarkan aku menangis dalam pelukannya. Aku hanya dapat berdoa agar anakku bisa bertahan.


Semua tenaga medis di bidangnya turut membantu. Mereka hanya menunggu keajaiban agar anakku dapat kembali sadar dan melewati masa kritisnya dengan selamat.


Aku masih terjaga, mataku sangat sulit terpejam. Menunggu dengan setia kabar baik tentang anakku yang sedang berjuang. Seorang perawat dengan tergesa-gesa memanggil suamiku.


Tengah malam seperti ini apa yang sedang terjadi. Mas Ilham berlari meninggalkan kamar tanpa mengajakku. Aku hanya dapat menunggu Mas Ilham dengan perasaan cemas. Tak lama Mas Ilham datang dan memelukku. Membisikkan kata yang membuat kesadaranku menghilang.


"Anak kita telah tiada."

__ADS_1


__ADS_2