
Sudah tiga hari aku dibuat resah oleh mimpi selepas shalat istiqarah. Aku sendiri bingung apakah mimpi itu adalah jawaban dari segala doa yang aku panjatkan pada malam itu.
Aku memutuskan bertemu dengan Teh Rani dan Mas Yudi malam ini juga meminta pendapat mereka tentang mimpi yang kembali muncul pada malam setelahnya.
"Begitu teh, mas ceritanya. Bagaimana pendapat kalian?"
"Alhamdulillah."
Terdengar ucap syukur dari pasangan suami istri ini. Aku lebih bingung kenapa mereka justru mengucapkan rasa syukur.
Perlahan mas Yudi mulai menjelaskan arti dari mimpiku.
Aku masih benar-benar belum percaya meskipun di dunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak.
Tetapi apakah secepat itu Allah mengirim jodoh untuk aku?
Apakah tidak mengapa jika aku harus menikah muda?
Bukankah ibu dan abah juga menikah di usia yang muda?
__ADS_1
Entahlah aku merasa pusing karena semua terlalu cepat. Aku belum terlalu mengenal Mas Ilham, bagaimana dia dan juga silsilah keluarga.
Tetapi lagi-lagi aku hanya bisa pasrah setelah Teh Rani meyakinkan bahwa tak pernah ada yang salah jika kita mau menerima jodoh yang dipilih langsung oleh Allah.
Pasrahkan saja bagaimana takdir berkata nanti itu sudah menjadi rahasia Illahi.
Tanganku bergetar memegang ponsel, ku cari kontak yang akan aku hubungi segera.
"Assalamualaikum." Terdengar suara lelaki diujung teleponnya.
"Waalaikumsalam." Aku mulai mengatur nafas agar tak ada kata yang salah.
Ku akhiri panggilan yang membuat jantungku berdegup dengan kencang. Kembali ku atur rencana selanjutnya bersama Teh Rani dan Mas Yudi.
Hari ini Mas Ilham datang menemui Teh Rani dan Mas Yudi untuk memperjelas semuanya. Mas Ilham juga meminta izin untuk mengajak aku bertemu dengan ibu dan keluarga besarnya.
"Mohon maaf mas, apa aku boleh mengajak Sarah bertemu ibuku? Aku sudah menceritakan kepada keluarga besar tentang Sarah dan mereka ingin bertemu langsung."
Kakak iparku dan istrinya setuju perkenalan penting untukku karena bagaimanapun setelah menikah aku akan lebih sering berbaur dan berhubungan dengan keluarga Mas Ilham yang seluruhnya masih tinggal di wilayah Jakarta.
__ADS_1
Hari yang mendebarkan, aku memilih menggunakan hijab berwarna emerald senada dengan blazer yang aku kenakan.
Seperti biasa aku memang perempuan yang tak pernah berhias secara berlebih cukup memoles bibirku dengan lipbalm.
Mas Ilham menjemputku semakin hari aku semakin merasa tidak percaya diri jalan bersama Mas Ilham yang penampilannya selalu membuat orang terkesan.
Mas Ilham menggunakan kemeja berwarna senada denganku padahal kami tidak janjian sebelumnya.
Rumah dengan gaya minimalis sudah dipenuhi banyak orang dihalaman.
"Bismillah semoga lancar." Aku berdoa semoga keluarga mas Ilham mau menerima diriku apa adanya.
Tak ku sangka sambutan dari keluarga mas Ilham begitu hangat. Aku bercerita banyak kepada mereka tentang diriku dan keluarga di desa. Semua menerima kehadiran diriku dengan sangat baik.
"Sarah, kapan kamu akan bersedia menikah dengan nak Ilham? Ibu ingin segera menggendong cucu darinya."
"Ibu, Sarah bersedia kapanpun Mas Ilham akan melamar. Sarah hanya mengikuti alurnya."
Ibu Mas Ilham menggenggam tanganku erat, aku merasa ada ketulusan dan kerinduan akan kehadiran seorang cucu. Mas Ilham hanya tersenyum melihat kedekatan antara aku dan ibunya, calon mertua.
__ADS_1
"Beginikah yang di namakan ibu mertua? Rasanya tak semenakutkan seperti cerita kebanyakan orang."