Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Tak Kenal Maka Tak Rindu 2


__ADS_3

Saat ini aku berusia 18 tahun, masih cukup muda untuk menikmati hari-hari dengan bekerja keras tetapi inilah kehidupanku. Aku sudah terbiasa bekerja sejak lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku tidak melanjutkan sekolah ku ketingkat berikutnya tentu saja karena masalah biaya tak mau harus merepotkan ibu dan abah serta teteh yang sudah berkeluarga.


"Ayolah neng lanjutkan sekolahmu biar kamu bisa menggapai cita-cita." Ibu berusaha membujuk.


"Tidak bu, aku mau bekerja saja di Jakarta sama teh Rani. Aku minta doa restu dari Ibu sama Abah."


Aku lebih memilih mengalah untuk pendidikan adik-adikku yang masih kecil.


Aku ikut teh Rani merantau ke Jakarta dan tinggal bersamanya kurang lebih selama 2 tahun. Karena usiaku yang belum cukup umur untuk bekerja di pabrik yang ada di Ibukota aku turut serta membantu usaha teh Rani menjaga toko kelontong miliknya, mendapat upah yang cukup untuk aku kirim ke ibu dan sedikit aku sisihkan untuk biaya sekolah paket C.


Setelah berusia 17 tahun aku mengikuti ujian paket C dan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Teh Rani yang tau akan prestasi-prestasiku selama aku bersekolah sangat menyayangkan aku tidak mau melanjutkan sekolah karena teh Rani sendiri bersedia untuk membiayaiku tapi aku yang bersikukuh tidak mau.


"Yasudahlah kamu teh memang barudak hese, udah cape teteh bilangin kamu untuk lanjut sekolah buat kamu juga kedepannya."


Awal tinggal dirumah Teh Rani sebenarnya aku merasa tidak betah karena sering mendapatkan omelan seperti tadi tapi lama-lama aku menjadi terbiasa dan Teh Rani juga berhenti berbicara yang tidak meng-enakan hati, sepertinya dia lelah sendiri. Saat usiaku menginjak 17 tahun aku sudah mendapatkan ijazah paket C dan langsung diterima bekerja diperusahaan tempatku bekerja saat ini.


Tidak terasa sudah satu tahun aku bekerja, untuk bekerja menjadi seorang admin adalah sebuah keberuntungan. Semua berkat dari ketekunanku maka aku mendapat kepercayaan berposisi sebagai admin di perusahaan cabang.


Satu bulan bekerja aku hanya sebagai Office Girl di perusahaan pusat sambil membantu beberapa karyawan bagian gudang jika mereka membutuhkan tambahan tenaga.


Biasanya Mbak Ning yang membutuhkan bantuanku untuk mengkroscek kembali pengiriman.


"Sarah tolong mbak yah nanti pengiriman sedang banyak mbak kewalahan takut nanti ada yang kelewat kamu bantu mbak kroscek ulang."


Begitulah Mbak Ning dia tidak pernah sungkan meminta tolong bantuanku dan aku dengan sangat senang hati ikut membantu pekerjaan Mbak Ning karena banyak ilmu yang aku dapat darinya. Berkat rekomendasi dari Mbak Ning aku bisa mendapatkan pekerjaan yang enak seperti saat ini. Bagiku Mbak Ning sangat berjasa, aku banyak belajar darinya apalah aku hanya seorang gadis perantau yang tidak punya ijazah SMA hanya bermodal nekat saat melamar kerja.


Sebelum menjadi admin aku juga mengikuti test aku mengerjakan sederet soal matematika dan ada beberapa soal akuntansi yang aku jumpai disana sedikit aku memahami karena selama aku tinggal dirumah Teh Rani, Mas Yudi rutin mengajariku ilmu akuntansi dan komputer.


Dari tiga orang kandidat aku mendapat nilai yang cukup tinggi dari mereka. Pada hari itu juga aku resmi menjadi admin baru untuk perusahaan cabang yang akan buka esok.

__ADS_1


Hari pertama bekerja diperusahaan cabang karyawannya belum ramai seperti sekarang. Hanya ada aku yang tinggal dikantor, Nita dan tiga orang anak buah di gudang serta pak Samin sebagai keamanan.


Tak jarang aku juga membantu Nita digudang setelah pekerjaanku selesai tentunya.


Seperti saat ini komputerku kembali mati, aku meminta Niken teman satu ruanganku untuk menghubungi Pak Agus tekhnisi di kantor pusat. Berkali-kali Niken menghubungi tanpa jawaban akhirnya aku memutuskan untuk menemui Pak Agus secara langsung.


Sesampainya di kantor pusat aku bertemu mbak Ning dahulu untuk menanyakan keberadaan Pak Agus karena sepertinya beliau tidak ada diruangannya.


"Mbak Ning, Pak Agus gak ada diruangan yah? Aku telpon gak ada yang angkat? Komputerku ngadat."


"Iya gak ada diruangan sedang keluar nanti aku coba suruh tekhnisi lainnya yah untuk kesana. Sar, ada yang mau kenalan tuh? Orangnya ganteng loh Sarah, udah begitu kalem cocok deh sama kamu." Mbak Ning mulai kumat menjodoh-jodohkan aku.


"Mbak Ning aku gak mau cari pacar, maunya cari suami." Aku terkekeh dengan jawabanku yang ngasal.


"Wah kalau begitu yah bagus, dia juga mau nyari istri bukan pacar lagi."


Duarrrrr...


"Eh Sar tunggu, ini orangnya kenalin dulu."


Aku menoleh ke arah mbak Ning yang sedang menarik lengan kemeja panjang seseorang.


Seorang pria terlihat gugup dan panik ketika pandangan mata kami bertemu.


"Ayo kenalan, tadi mbak udah ngomong."


Mbak Ning menarik lengan pria itu untuk di ulurkan kedepanku.


"Na...namaku...Ilham, salam kenal."

__ADS_1


"Namaku Sarah, salam kenal Mas Ilham. Yasudah, sudah kenalan kan? Mbak Ning aku mau kembali ke kantor."


Aku tidak membalas uluran tangan mas Ilham, mas Ilham menarik kembali uluran tangannya.


"Sarah, kamu ke kantor diantar Mas Ilham. Mas Ilham yang akan memperbaiki komputermu." Mbak Ning mengantar kami sampai parkiran, untuk pertama kali aku diboncengi oleh laki-laki lain selain Mas Yudi kakak iparku.


Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam begitupun dengan Mas Ilham kelihatannya dia adalah pria yang pendiam. Sesampainya dikantor tanpa basa-basi aku tunjukan ruanganku kepada Mas Ilham dan dia langsung memperbaiki komputer yang rusak. Ku pandangi mas Ilham ternyata dia lumayan tampan juga. Mas Ilham terlihat gugup dan untuk mengusir rasa canggung aku berinisiatif mengajak Mas Ilham mengobrol.


"Mas sudah lama bekerja menjadi rekan Pak Agus? Ko aku tidak pernah melihat mas yah?"


"Aku sudah lama bekerja hampir 8 tahun hanya aku tadinya di cabang lain dan sekarang aku dipindahkan kesini untuk menggantikan Pak Agus yang akan pensiun."


"Jadi Mas Ilham kepala tekhnisi yang baru?"


Mas Ilham hanya mengangguk dan tersenyum terlihat lesung pipinya begitu manis. Astaga!


"Sudah selesai, aku pamit yah Sarah. Oh iya aku boleh minta nomor handphone kamu?"


"Untuk apa mas?" Aku kembali bertanya penasaran untuk apa Mas Ilham meminta nomor handphoneku.


"Agar lebih mudah menghubungiku jadi kalau komputermu rusak dan aku sedang tidak ada diruangan paling tidak kamu bisa menghubungiku lewat nomor handphone."


Setelah aku fikir-fikir lagi baiklah tak ada salahnya juga aku memberikannya kepada Mas Ilham. Kami saling menyimpan kontak kami aku merasa Mas Ilham pria yang baik tidak seperti pria kebanyakan diluar sana yang meminta nomor hanya untuk modus semata. Mas Ilham pergi kembali ke kantornya aku mengantarnya sampai depan dan tidak terasa aku melambaikan tangan padanya.


"Eh, ngapain juga aku melambaikan tangan."


Aku kembali ke ruanganku mencoba menghidupkan komputer dan mengerjakan beberapa laporan yang aku harus selesaikan.


Handphone ku berdering satu pesan masuk tertera dari nomor yang baru saja ku simpan.

__ADS_1


Mungkin memang benar kata orang "Tak Kenal Maka Tak Sayang" tetapi sebelum menjadi sayang bukankah seharusnya menjadi rindu dahulu? Setelah saling rindu barulah saling sayang.


__ADS_2