
Hari demi hari kami lewati. Semua keluarga kini telah mengetahui kabar kehamilanku. Ibu mertua sangat bersyukur dan berharap kali ini aku dan bayiku sehat sampai waktunya melahirkan nanti.
"Alhamdulillah Nak Sarah, semoga sehat selalu dan jika tidak berkeberatan lebih baik Sarah tinggal dirumah ibu saja dan berhenti bekerja agar Sarah dapat waktu beristirahat lebih banyak," ucap ibu mertua menahan khawatir.
Sesungguhnya aku memang sangat ingin berhenti bekerja namun jika aku tidak melakukan kegiatan apapun justru rasa mual akan semakin menjadi-jadi menyerangku. Aku memutuskan untuk tetap bekerja dan tinggal dirumah kami saja. Bukan menolak maksud baik ibu mertua tetapi aku tidak ingin nantinya merepotkan ibu dan kakak ipar.
Kehadiran Mbok Sarni banyak membantuku dirumah. Karena aku tinggal jauh dari orang tua dan mertua aku merasa dengan adanya Mbok Sarni seperti mewakili kehadiran mereka dirumah. Mbok Sarni sangat perhatian kepadaku. Beliau bahkan tidak sungkan memijat kakiku yang membengkak karena faktor kehamilan. Aku menolak karena merasa tidak enak dengan Mbok Sarni tetapi tetap saja Mbok Sarni melakukannya.
__ADS_1
"Sini Mbok pijat pakai arak supaya kempes dan aliran darahnya lancar." Mbok Sarni mengambil kakiku yang semakin lama semakin membengkak, menaruhnya dengan lembut ke dalam pangkuan. Perlakuan dari Mbok Sarni membuat mataku berkaca-kaca. Aku sangat rindu dan butuh sosok ibu terlebih ditengah masa-masa kehamilan yang teramat sulit aku alami.
"Terima kasih yah Mbok Sarni," ujarku seraya memeluk tubuh rentanya.
Aku bersyukur masih dikelilingi oleh manusia-manusia yang perhatian. Suamiku adalah orang yang paling punya peranan penting selama masa kehamilanku. Mas Ilham selalu tabah dan telaten memperhatikan serta mengurus diriku. Moodku yang selalu berubah-ubah tak menyurutkan semangat Mas Ilham untuk tetap menuruti semua keinginaku. Terkadang aku merasa sangat benci kepada suamiku, untuk tidur satu ranjangpun aku tidak mau.
Semakin hari perutku sudah semakin membuncit. Aku benar-benar tersiksa dengan kehamilanku yang kedua. Rasanya sungguh berbeda dengan kehamilan yang pertama. Jika di kehamilan pertama masa-masa mual hanya aku alami selama kurun waktu tiga bulan berbeda dengan kehamilanku yang kedua. Mual selalu menyapa tak hanya di pagi hari. Di trimester awal aku bisa muntah dimanapun dan kapanpun tak hanya saat bangun tidur dipagi hari. Berat badanku semakin menyusut. Selera makan juga tak karuan. Makan apapun selalu membuatku mual. Jangankan makan untuk mencium aromanya saja aku enggan.
__ADS_1
"Ayolah sayang, kamu harus makan! Kalau tidak nanti kamu dan anak kita akan sakit." Berulang kali Mas Ilham membujukku untuk makan namun aku selalu menolak.
Memang benar menjadi wanita hamil itu sangat tidak mudah. Makan apapun tak enak, rasa mual dan saliva yang seperti tak ada habisnya. Setiap hari aku hanya mendapat nutrisi dari susu dan buah. Makan nasi lambungku selalu menolak, bahkan aku tidak pernah lagi makan bakso kesukaanku selama masa kehamilanku. Menyiksa memang tetapi tak tahu mengapa aku merasa bahagia menjalaninya.
Aku memutuskan untuk cuti lebih awal karena aku merasa semakin hari kesehatanku semakin tidak stabil. Meskipun jika berada dikantor aku merasa segar bugar tetapi kalau sudah berada dirumah aku seperti mayat hidup tak memiliki tenaga. Kini usia kandunganku sudah menginjak di trimester kedua akhir lebih tepatnya sudah berusia 6 bulan. Sebentar lagi akan memasuki usia 7 bulan dan akan ada acara tujuh bulanan yang keluarga suami sudah sangat sibuk mempersiapkan dari jauh-jauh hari.
Rasa trauma seperti tak mau pergi, aku menolak mengadakan acara tujuh bulanan karena aku masih mengingat kejadian yang tidak diinginkan yang pernah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
"Sarah, waktu 4 bulanan sudah kita lewatkan jadi alangkah baiknya jika acara 7 bulanan kita harus adakan. Acaranya sederhana, hanya doa yang dihadiri oleh keluarga terdekat." Ibu mertua berusaha meyakinkan bahwa takkan terjadi hal buruk selagi kita tetap berdoa meminta perlindungan-Nya. Tetapi entah mengapa aku masih merasa ragu dan memiliki perasaan yang tidak enak sama seperti sebelumnya.