Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Dua garis merah


__ADS_3

Semakin hari tubuhku semakin terasa tidak enak. Entah memang pembawaan karena sudah telat datang bulan beberapa waktu, aku sendiri tidak tahu.


Seperti hari ini kepalaku sungguh terasa pusing dan berat. Pagi hari biasanya aku masak menyiapkan sarapan dan bekal untuk Mas Ilham tetapi pagi ini aku seperti tak berselera. Jangankan untuk makan mencium aromanya sudah membuat perutku seperti di aduk.


"Dek, ayo kita sarapan!" Mas Ilham menyodorkan sepiring nasi goreng terasi kesukaanku.


Aku mendekap mulut dan hidung seraya berlari menuju kamar mandi.


Ah, seperti ada yang tidak beres denganku.


Mas Ilham menyusulku, memastikan apakah terjadi sesuatu kepada diriku. Hanya wangi aromaterapi yang membuatku dapat bernafas sedikit lega.


"Kamu sakit dek? Mau mas antar ke dokter?" Mas Ilham menaruh punggung tangannya di keningku.


Aku menggeleng, aku merasa mungkin hanya masuk angin biasa.


Kami memutuskan untuk berangkat kerja tidak melanjutkan sarapan, nasi goreng terasi buatan Mas Ilham ia bungkus untuk dimakan di kantor.


Sesampainya di kantor aku mampir menuju kamar mandi terlebih dahulu.


Rasa penasaran menghinggapi pikiran sejak semalam.


Aku keluarkan sebungkus alat tes kehamilan yang masih tersisa satu.

__ADS_1


Hatiku berdebar setelah benda pipih itu aku rendam ke dalam wadah berisi urin.


Hanya dalam hitungan menit garis merah langsung bermunculan.


Dua garis merah, kali ini garisnya sangat pekat. Aku positif hamil.


Air mata berlinang bukan karena kesedihan akan tetapi karena bahagia tidak menyangka aku akan menjadi seorang ibu.


Ku kemas kembali berharap semua akan menjadi kejutan yang indah untuk mas Ilham.


Hadiah sebulan pernikahan.


"Terimakasih Rabb. Kebahagiaanku lengkap."


Ku ucap rasa syukur tak henti ingin sekali rasanya secepatnya pulang kerumah.


Kami menikmati makan siang, hari ini aku sungguh ingin makan bakso yang pedas.


"Bumil gak boleh makan sambal banyak-banyak." Niken mengambil tempat sambal yang sudah ku tuang isinya sebagian ke dalam mangkok bakso milikku.


"Gapapa, gak usah dipantang-pantang." Aku melanjutkan santapan makan siang bersama kedua temanku.


Mas Ilham hari ini lembur bekerja karena pergi ke kantor cabang lain yang lumayan jauh jaraknya. Aku menghias rumah dibantu oleh Niken dan Nita, untung sekali mereka tidak ada kesibukan setelah pulang bekerja.

__ADS_1


Semua telah siap. Ruangan yang sudah rapih dan selanjutnya tinggal aku yang harus menunggu kepulangan Mas Ilham.


Pukul 20.00 suara mobil Mas Ilham berderu di halaman. Aku bergegas untuk membukakan pintu sambil membawa kotak yang tadi sudah aku persiapkan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawabku sambil membuka pintu.


Mas Ilham tersenyum melihat rumah yang penuh dengan hiasan.


Aku menyodorkan kotak yang ku bawa. Mas Ilham menaikan sebelah alisnya, enggan membuka mungkin karena takut kena prank.


Perlahan Mas Ilham membuka kotak yang aku berikan. Aku lihat senyum yang tak berhenti mengembang. Mas Ilham memeluk tubuhku dan mencium keningku berkali-kali. Terasa hangat. Aku begitu menikmati semua perlakuan dari suamiku.


Mas Ilam mengangkat tubuhku dan membaringkan diranjang kamar.


Malam ini kami berbincang hingga larut malam merencanakan untuk memeriksa kehamilan.


"Besok kita harus periksa kebidan." Mas Ilham mengusap perutku dengan lembut.


Didekati wajahnya ke perut dan diciumnya berkali-kali sungguh terasa geli.


"Anak ayah jangan nakal yah didalam perut bunda. Sembilan bulan lagi kita bertemu."

__ADS_1


Hatiku merasa terenyuh, Mas Ilham begitu mencintaiku terlebih pada janin yang sedang berkembang didalam rahim.


Bersyukurnya benih-benih cinta milik kami yang Allah berikan kesempatan untuk hidup.


__ADS_2