
Detik-detik menjelang acara tujuh bulanan sungguh membuat jantungku berdebar. Mas Ilham memegang tanganku erat, terlihat telapak tanganku sudah bercucuran keringat.
Acara tujuh bulanan kami hanya acara sederhana, membuat rujak dan menggelar doa tanpa embel-embel siraman dan yang lainnya.
Satu per satu tamu yang tak lain adalah sanak saudara sudah berdatangan. Beberapa diantaranya membawakan kami kado.
"Buat debaynya yah Mbak Sarah, semoga kalian selalu sehat," ucap sepupu Mas Ilham seraya mengusap perut buncitku. Aku tersenyum rasanya bahagia mendengar doa yang terucap tulus dari mereka.
Bidan Nilam juga turut hadir bersama seorang perempuan yang wajahnya seperti tak asing.
"Assalamualaikum," Bidan Nilam mengucap salam yang dijawab serentak oleh para penghuni rumah.
__ADS_1
"Nada perkenalkan ini Sarah, istrinya Mas Ilham," ujar Bidan Nilam memperkenalkannya.
"Saya Nada, senang bisa ketemu Mbak Sarah." Ucap Nada seraya menjulurkan tangannya yang kusambut hangat.
"Aku Sarah, Nada apa sebelumnya kita pernah berjumpa?" tanyaku yang sudah tak dapat menahan rasa penasaran. Nada akhirnya bercerita memang sebelumnya pernah melihatku di kedai martabak durian bersama Mas Ilham. Namun aku menunggu di mobil dan Mas Ilham yang turun membeli martabak. Aku ingat perempuan tempo hari yang aku tanyakan kepada Mas Ilham adalah Nada, adik dari Bidan Nilam. Bedanya saat ini Nada mengenakan hijab aku jadi tak mengenalinya.
Aku mengobrol dengan Nada sementara Bidan Nilam ikut membantu mempersiapkan beberapa keperluan acara yang akan segera dimulai. Mas Ilham sudah nimbrung di antara tamu-tamu yang hadir. Acara doa bersama dimulai dan sangat khusyuk berjalan. Semoga doa-doa tulus dari mereka segera tersampaikan oleh semesta dan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Aku kembali mengajak ngobrol Nada yang sedari tadi terlihat canggung. Tak lama Mas Ilham datang menghampiri kami.
"Eh ada Nada? Apa kabar?" tanya Mas Ilham.
__ADS_1
"Kabar baik Mas Ilham," jawab Nada yang ku lihat sedikit tersipu. Entah apa aku yang begitu sensitif atau bagaimana tapi aku merasa Nada menyimpan perasaan lain pada Mas Ilham.
Mas Ilham mengusap pucuk kepalaku dan berbisik ditelingaku.
"Aku mencintaimu, Sarah."
Kata-kata Mas Ilham membuatku tersipu, ku lirik Nada dengan senyuman merekah tak tahu apa dia juga mendengar yang Mas Ilham ucap. Aku mengusir Mas Ilham secara halus untuk meninggalkan lagi kami berdua. Mas Ilham sudah pergi digantikan dengan kedatangan ibu mertua yang ikut bergabung.
"Nada sudah makan belum? Ayo makan dulu. Gimana praktik kebidanan kamu, lancarkah?" tanya ibu mertua yang terlihat akrab dengan Nada. Nada bercerita banyak tentang pengalaman dirinya yang mengambil jurusan kebidanan sama seperti Mbak Nilam.
Nada bekerja di salah satu rumah sakit swasta. Berbeda dengan Mbak Nilam yang memilih untuk membuka praktek sendiri. Setelah ibu mertua pergi aku mengulik sedikit demi sedikit tentang Nada, sepertinya dia sangat dekat dengan ibu mertua dan Mas Ilham.
__ADS_1
"Aku teman kecilnya Mas Ilham, kami dulu bertetangga namun keluargaku pindah. Makanya aku sangat dekat dengan ibu dan Mas Ilham. Tapi aku harap Mbak Sarah jangan cemburu. Sebentar lagi akupun akan menikah." Penjelasan dari Nada membuatku sedikit tenang. Setidaknya dia akan menikah dengan orang lain bukan dengan Mas Ilham. Ah, memang dasar aku semenjak hamil sukanya cemburu dan berfikiran tak baik kepada orang lain.