
Pandanganku masih tak ingin lepas dari bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang masih tertidur pulas di dalam tabung yang tengah menghangatkan tubuhnya.
"Mas sampai kapan ia berada disana?" tanyaku tak dapat menahan air mata yang kembali menetes keluar.
"Sampai kondisinya cukup kuat dan berat badannya normal seperti ketentuan bayi pada umumnya." Jawab Mas Ilham yang kembali mengusap bahuku. Aku yakin anakku pasti akan kuat seperti aku dan Mas Ilham.
Nada datang memasuki ruangan tempatku sedang memandangi bayi mungilku. Perempuan berparas cantik itu telah memakai seragam dinasnya.
"Mbak Sarah, karena kamu sedang berada disini kita mulai memberikannya ASI secara ekslusif. Mas Ilham tolong bantu aku membaringkan Mbak Sarah dan Mbak Sarah juga buka bajunya," titah Nada.
Aku dan Mas Ilham menuruti ucapan Nada. Dengan hati-hati Mas Ilham membantuku berbaring di atas ranjang rumah sakit. Karena jahitanku masih basah pasca operasi membuatku jadi tak leluasa bergerak. Mas Ilham juga membantu membukakan pakaian yang melekat ditubuhku. Kini aku telah bertelanjang dada.
__ADS_1
Nada mengeluarkan bayi kami dari dalam tabung, membuka baju yang melekat perlahan hingga menyisakan diapers yang bayi kami pakai. Nada mencoba mencari posisi yang tepat untuk bayiku agar tak mengganggu pernafasannya. Dengan hati-hati Nada menelungkupkan bayi kami di atas dadaku. Bayi lucu itu tengah berusaha mencari putingku meskipun gerakannya lemah.
Nada menjelaskan dengan seksama metode yang ia pilih saat ini. Metode kangaroo care dengan cara membaringkan bayi pada dada ibu. Metode ini mampu menstabilkan denyut jantung serta kadar oksigen dalam tubuh bayi prematur. Bayiku telah berhasil menggapai ****** yang ia cari. Untuk pertama kalinya aku menyusuinya, memberikan haknya sebagai anak. Aku sangat bahagia begitupun dengan Mas Ilham yang mengusap lembut pipi bayi kami dan tak henti mengecup keningku.
Bayi laki-laki itu menghisap dengan perlahan putingku sementara air susu mengalir dengan deras. Beberapa kali Nada membantuku mengubah posisi agar mempermudah bayiku meminum ASI. Setelah dirasa cukup Nada memakaikan baju anakku lalu mengembalikannya ke dalam tabung. Sejujurnya aku sangat sedih sebab harus kembali terpisah dengan bayi yang baru saja aku lahirkan.
"Mbak Sarah, air susumu banyak dan bagus tak ada kendala. Aku sarankan agar Mbak Sarah juga mau memompa ASI untuk diberikan kepada si bayi."
"Ayo kita makan! Sarah, kamu harus banyak makan agar kamu sehat dan air susumu juga banyak." Mas Ilham menyuapiku, suamiku sangat perhatian. Aku mengangguk, menuruti perkataan Mas Ilham. Tentu saja aku ingin sehat dan aku ingin terus memberikan anakku ASI yang bernutrisi.
Aku makan dengan lahap masakkan yang tersedia. Tak perduli dengan rasanya, harus aku akui bahwa masakan rumah sakit memang tak memiliki rasa dan anyep. Tapi demi anakku, aku tak boleh memilih makanan yang ada. Makanan telah tandas tak bersisa. Nafsu makanku sepertinya meningkat mungkin karena faktor menyusui. Tak berselang lama pintu terketuk rupanya perawat dan Nada datang untuk memeriksa.
__ADS_1
"Mas keluar dulu yah." Mas Ilham pamit keluar entah mau pergi kemana. Tak sengaja aku melihat Nada melirik kepergian Mas Ilham.
"Mbak Sarah sudah makan?" tanya Nada dengan senyum.
"Sudah, baru saja selesai." Jawabku membalas senyuman Nada.
"Baiklah kita mulai periksa." Nada bersama perawatnya memeriksa kondisiku. Nada memberitahukan bahwa kondisiku sangat baik dan normal pasca operasi. Aku harus banyak istirahat dan tak boleh banyak pikiran.
"Mbak Sarah jangan lupa diminum obatnya! Jangan terlalu banyak pikiran. Bayi kalian pasti akan baik-baik saja. Bersyukur Mbak Sarah mempunyai suami seperti Mas Ilham."
Sejujurnya kata-kata dari Nada mengusik hati dan pikiranku. Aku memang sangat bersyukur mempunyai suami seperti Mas Ilham namun apakah hal yang wajar jika yang mengatakannya adalah orang lain yang tak mengetahui kisah kami sebelumnya? Aku tidak tahu apa maksud dari ucapan Nada. Aku merasa seperti ada rasa iri yang bersarang disana. Mungkin juga aku yang salah mengartikan rasa. Entahlah. Aku memilih menjawabnya dengan senyum tipis tapi senyuman terakhir Nada sebelum pergi seperti mengisyaratkan kesedihan yang bercampur.
__ADS_1