Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Rumput tetangga


__ADS_3

Aku pulang dengan langkah gontai. Perkataan Bu Ambar dan Bu Saodah bertabrakan di pikiran. Sejujurnya perkataan dari Bu Ambar kembali membuatku terpuruk karena rasa bersalah. Mas Ilham sudah pulang rupanya, dia terduduk menunggu kedatanganku di depan rumah.


"Dari mana saja, Dek? Mas khawatir," Mas Ilham memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Nih, aku habis belanja Mas diwarung depan." Jawabku memperlihatkan kresek berwarna putih dengan aneka sayuran didalamnya.


"Belanja? Memang Mbok Sarni kemana?" tanya Mas Ilham lagi. Aku menjelaskan kepada suamiku bahwa Mbok Sarni hari ini tidak datang kerumah. Kami segera masuk ke dalam rumah karena hari sebentar lagi akan gelap.


Sore ini aku memasak di bantu oleh suamiku. Suasana rumah benar-benar terasa sepi. Hatiku kembali teriris. Seharusnya beberapa bulan lagi rumah kami akan terasa ramai oleh tangis bayi. Tetapi Tuhan berkehendak lain.


Masakan telah siap tersaji. Aku ingin makan malam diteras rumah. Bosan sekali rasanya terus menerus berada di dalam.

__ADS_1


"Mas, kita makan malam di teras saja yah!" pintaku yang dijawab setuju oleh suamiku. Mas Ilham turut membantu membawakan beberapa lauk. Disekitar tempat kami tinggal memang tergolong sepi jika sudah waktu malam. Makan malam lesehan kami nikmati berdua. Beberapa tetangga berlalu lalang.


"Sedang apa Mas Ilham?" tanya salah seorang tetangga samping rumah yang nampaknya baru saja pulang.


"Eh, Pak Iwan. Ini sedang menikmati suasana malam bersama istri, mampir Pak Iwan kita ngopi." tawar Mas Ilham dengan ramah.


"Wah, terima kasih atas tawarannya tetapi kapan-kapan saja yah Mas Ilham, saya baru pulang mau masuk kerumah dahulu. Sudah rindu dengan anak-anak. Mari Mas Ilham."


"Sudah Sarah, jangan menangis!" Suara Mas Ilham dengan lembut memberikan aku ketenangan.


"Besok kita pergi konsultasi ke Bidan Nilam, kita program kehamilan lagi yah!" Mas Ilham masih mencoba meredakan tangisku. Aku mengangguk pelan dalam pelukannya. Semoga Allah mempermudah jalanku untuk memperoleh keturunan. Aku tidak menyangka bahwa kandunganku akan keguguran.

__ADS_1


Memang sebelumnya sudah ada peringatan bahwa kandunganku sangat lemah, tapi semakin kesini aku merasa bahwa aku dan janinku kuat. Aku menjadi lalai dan mengabaikan segala peringatan akan rentannya keguguran di trimester pertama kehamilan. Karena kelalaianku aku jadi kehilangan anak yang masih berada dalam kandungan.


Kini aku hanya dapat mengelus dada, membenam rasa iri setiap kali melihat keluarga yang tertawa bahagia bersama anak-anak mereka. Seperti kali ini melihat kebahagiaan tetangga rasa iri menyelimuti diri melihat rumput tetangga yang jauh lebih hijau.


"Mas, aku ingin punya anak lagi." Aku mengutarakan keinginanku.


"Iya Sarah, nanti kita akan memiliki banyak anak. Kamu harus sabar," jawab Mas Ilham masih mengusap kepalaku.


"Mas, apa kamu tidak merasa iri melihat tetangga yang lain?" tanyaku lagi kepada suamiku yang sedikit tersenyum mendengar pertanyaan dariku.


"Iri? Untuk apa? Hanya karena rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput yang ada di rumahku, lantas aku iri kepada mereka? Tidak Sarah, aku sama sekali tidak merasa iri. Aku bersyukur masih memiliki istri yang baik sepertimu dan persoalan anak perjalanan kita masih panjang. Aku yakin ada hikmah dibalik semua yang terjadi. Bersabar, Allah pasti akan memberikan kita keturunan lagi." Kata-kata Mas Ilham membuat pikiranku terbuka. Untuk apa kita iri kepada kebahagiaan yang orang lain punya? Semua sudah ada porsinya, semua pasti akan bahagia dengan jalan dan caranya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2