Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Keinginan Ibu (POV ILHAM)


__ADS_3

Acara pemakaman telah usai, sekali lagi berita duka menyelimuti keluarga kecil kami. Hatiku berdenyut nyeri melihat kondisi istriku. Dia tak seperti Sarah yang biasanya. Wajah ayunya nampak lesu dengan lingkaran mata yang menghitam. Pandangannya kosong.


Entah harus bagaimana lagi aku bisa membuatnya untuk mengeluarkan suara meskipun hanya memanggilku. Sejak kemarin Sarah tersadar dirinya hanya menangis tapi bibirnya membisu.


Tangisannya terlihat sangat pilu. Semua keluarga bahkan telah berusaha mengajaknya berbicara namun tak ada satupun yang berhasil meski hanya membuatnya membuka mulut.


Setelah para tamu pulang aku memutuskan untuk pergi kembali menemui Sarah. Dirinya tengah tertidur tetapi matanya masih mengeluarkan bulir-bulir bening yang seakan tak mau berhenti.


Aku mendekap tubuhnya. Berharap pelukan ini dapat membuatnya merasa sedikit lebih tenang.


"Mas," lirih Sarah. Sarah bersuara akhirnya dia mau juga berbicara.


"Iya sayang," jawabku masih memeluk tubuhnya dan mengeratkannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, anak kita--" Sarah tak melanjutkan ucapannya. Aku memotong ucapannya cepat sebab tak ingin mengungkit luka yang begitu membuatnya trauma.


"Jangan diungkit, semua pasti ada hikmahnya. Percayalah, apapun keadaannya aku tak akan pernah meninggalkanmu!"


Sarah terdiam, kini aku mendengar tangis pilunya telah mereda. Sarah sudah tertidur pulas dalam pelukan. Akhirnya dia bisa beristirahat setelah hari kemarin dia terjaga dan sama sekali tak dapat memejamkan mata. Sarah merasa begitu bersalah karena dirinya sama sekali tak mengetahui kondisi anak kami sebelumnya.


Aku memutuskan untuk pergi mencari udara segar keluar rumah. Setidaknya keadaan Sarah sudah sedikit membaik. Aku melihat ibu masih terduduk di kursi teras sendirian. Dirinya sedang termenung mungkin kesedihan juga masih menyelimuti hati ibu.


"Bu, sudah malam. Kenapa ibu belum tidur?" tanyaku membuat ibu sedikit terkejut dengan keberadaanku di teras.


Aku berjalan mendekati ibu, menarik kursi dan duduk di sisi kirinya. Ibu menghela nafasnya dengan berat. Aku merasa ibuku saat ini sedang berada dalam kondisi yang membuatnya dilema.


"Ilham, kamu tahukan seberapa inginnya ibu memiliki cucu darimu?" Ibu membuka pembahasan perihal kehadiran seorang cucu lagi kepadaku. Aku mengangguk, menanyakan kembali maksud dari ucapan ibu.

__ADS_1


"Ibu turut berduka dengan tiadanya kedua cucu ibu. Karena sudah dua kali kejadian, ibu sangat berharap kamu dan Sarah tidak menunda kehamilan selanjutnya. Usia ibu semakin tua, harapan ibu hanya ingin menimang cucu keturunan darimu."


Ibu mengutarakan kegundahan serta keinginannya kepadaku. Diusianya yang sudah senja aku tahu bagaimana sepinya hidup ibu. Meskipun ada Mbak Ayu beserta suami dan anaknya yang tinggal bersama ibu namun ibu merasa belum lengkap karena ibu belum melihat putranya memiliki seorang anak.


Aku tahu tujuan ibu yang sebenarnya, mengapa ibu ingin segera memiliki cucu dariku dan Sarah. Semua itu karena ibu ingin memastikan bahwa Sarah bukanlah seorang perempuan yang mandul dengan begitu garis keturunan akan tetap berjalan.


Meskipun ibu hanyalah seorang ibu sambung tapi kasih sayang dan perhatiannya bahkan menyamai dengan kasih sayang seorang ibu kandung. Untuk itu walau permintaan ibu bukanlah permintaan yang mudah sebisa mungkin aku dan Sarah akan berjuang untuk memberikan ibu kembali seorang cucu.


"Sudah malam sebaiknya ibu beristirahat."


"Sebelum ibu beristirahat ada satu hal lagi yang ingin ibu bicarakan." Ibu memandangku dengan sorot mata yang membuatku merasa tersudut.


"Apa itu bu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Tentang Nada." Topik pembicaraan ibu kali ini membuatku kehilangan tenaga. Nada lagi, lagi dan lagi. Entah harus berapa kali aku menjelaskan bahwa kami tak memiliki hubungan istimewah apapun.


__ADS_2