Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
ILHAM (POV ILHAM)


__ADS_3

Malam indah telah berlalu untuk pertama kali dalam hidupku aku tidur ada yang menemani. Istriku gadis cantik nan sholehah Sarah namanya.


Aku sudah lama mengenal Sarah, sejak dia baru bekerja sebagai office girl di kantor pusat. Kalau ada yang bilang jatuh cinta pada awal pandangan pertama itu tidak ada, tapi tidak berlaku bagiku karena yang aku alami adalah nyata.


Aku mencintai Sarah sejak saat itu.


Kenapa? Kok bisa? Padahal hanya melihat sekali sudah bisa menyimpulkan cinta.


Entahlah, aku sendiri merasa tidak pernah percaya tapi sekali lagi ketika aku melihat binar matanya aku merasa ketulusan berada nyaman di sana.


Aku mencari tahu banyak tentang dirinya, setiap hari aku mengikuti Sarah bukan hanya untuk tahu dimana dia tinggal tapi memastikan dia dapat pulang dengan selamat sampai rumah.


Beberapa kali kami berpapasan mungkin Sarah lupa tapi aku akan selalu mengingat.


Sarah gadis polos, dia bahkan tak pernah berpacaran. Aku semakin berambisi untuk menjadikan Sarah istri. Karena Sarah seperti diriku tak pernah mengenal cinta.


Selama setahun aku memendam cinta dalam diam.


Apakah itu mudah? Tentu tidak Ferguso.


Ada banyak perjuangan di dalam cinta yang diam. Mulutku mungkin diam tapi tidak dengan hati dan pikiranku.


Aku terus mencari celah untuk bisa mengenal Sarah. Allah membuka jalan melalui mbak Ning sebagai perantara.


"Duh, Ilham mandangin siapa sih dari tadi? Yang itu namanya Sarah." Mbak Ning menepuk pundakku menunjukkan perempuan yang dimaksud.


Aku hanya menanggapi dengan senyum masih belum berani buka suara. Hingga tiba-tiba mbak Ning menarik lengan kemejaku memaksa aku untuk mengikuti apa yang telah dia perintah. Ah, mbak Ning betapa malunya aku. Sarah terlihat biasa saja cenderung menghindar. Aku tau Sarah pasti merasa tidak nyaman karena berfikir aku terlalu agresif.

__ADS_1


Untuk pertama kali sejak aku tahu namanya, aku dapat melihat wajah ayu milik Sarah dengan jarak dekat. Jelas dia memang wanita yang cantik natural meski tanpa balutan make up.


Aku merasa canggung berdekatan dengan wanita apalagi dengan orang yang jelas-jelas kita suka. Entahlah aku ingin segera selesai tapi aku juga enggan waktu bersamanya usai.


Aku memberanikan diri meminta kontak Sarah dengan alibi pekerjaan agar dia tak merasa curiga. Sarah memberikan tapi tak ada pergerakan, lagi-lagi nomornya hanya menjadi pengisi di daftar kontak.


Aku mulai memberanikan diri untuk melamar Sarah setelah persetujuan dari ibu. Ibu terus mendesak agar aku segera menikah. Maklum usiaku sudah 28 tahun dan aku anak laki semata wayang.


"Ibu merestui segera lamar dan kenalkan nak Sarah kepada kami."


Begitulah kata-kata ibu yang membuat diriku termotivasi.


"Aku harus berani."


Ini adalah kencan pertama. Selama hidup aku baru pertama kali mendatangi rumah wanita dengan izin langsung menikah.


Bersyukur mereka menerima lamaranku dengan tangan terbuka, tetapi Sarah masih belum bisa memberi jawaban.


Aku harus bersabar, jika ikhtiar sudah maka aku harus mengencangkan doa.


Sepertiga malam tak pernah lewat untuk aku bersimpuh.


Berharap memang Sarah adalah jodoh yang sudah Allah tulis Lauhul Mahfudz untukku.


Gawaiku berdering dari bunyi dering yang tak biasa. Sarah !


"Sarah menelpon? Ada apa kira-kira?" bisikku.

__ADS_1


Aku segera mengangkat panggilannya, Sarah berbicara dengan nada perlahan beberapa kali ku dengar deru nafas Sarah yang sedikit tak beraturan.


"Aku bersedia." Hanya kata-kata itu yang terngiang di telinga.


Alhamdulillah, Sarah menerima lamaranku bersedia menjadi istri sebagai pelengkap iman.


Aku kabari semua keluarga besar. Mereka turut berbahagia akhirnya Ilham menikah juga.


"Alhamdulillah nak, cepat minta izin kepada keluarganya untuk memperkenalkan Sarah kepada keluarga yang lain. Biar mbakmu yang mengatur acara."


Ibu dan mbak memeluk aku bergantian, baru kali ini aku melihat ibu bahagia hingga tersenyum menitikkan air mata.


Aku bersimpuh kepada-Nya berterima kasih atas segala kebaikan yang selalu menyertai selama aku hidup.


"Mak, pak kalian akan segera memiliki menantu," ucapku lirih.


Aku berziarah ke makam almarhum bapak dan almarhumah ibu meminta doa restu karena aku akan segera menikah. Aku berziarah sendiri tanpa Sarah, aku akan mengajaknya berziarah bersama setelah kami sah menikah sekalian mengajaknya untuk liburan berbulan madu.


Hari Ahad takkan ku lupa, karena gugup aku tidak dapat mengucapkan ijab dengan lancar dua kali aku mengulang.


"Bismillah."


Kembali aku mengucap ijab qobul dan betapa terharu ketika beberapa saksi menyatakan sah.


Inilah babak baru kehidupan, aku sudah resmi berstatus suami.


Sarah keluar dari ruangan, betapa cantiknya dia mengenakan kebaya berwarna putih dengan hijab serta riasan sederhana.

__ADS_1


Sarahku masih sama, dia tetap cantik di berbagai kondisi. Cantik rupa dan hatinya.


__ADS_2