Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Harapan Seorang Ibu (POV Ibu)


__ADS_3

Hari ini aku merasakan kejanggalan dari sikap Sarah, menantuku. Sarah sedikit menghindariku atau mungkin semua hanya perasaanku saja.


Aku sangat tidak tega melihat keterpurukan Sarah. Kehilangan anak untuk kedua kali bukanlah suatu hal yang lumrah.


Setelah sebelumnya mengalami keguguran kali ini dia harus menghadapi kepergian anak yang sudah berhasil ia lahirkan walau sebelum waktunya.


Setiap kali ku tatap sorot mata Sarah masih terlihat kosong. Bibirnya berbicara namun pandangannya seperti membawa pikirannya jauh.


Aku meminta Nada untuk datang kerumah menyemangati Sarah selama beberapa hari. Bagaimanapun Nada adalah seorang dokter spesialis kandungan, aku berharap dia juga punya cara untuk membangun kembali rasa percaya diri Sarah akan kehilangan seorang buah hati.


"Ibu minta tolong yah Nada, kali ini saja." Aku menghubungi Nada untuk memintanya datang ke rumah menemui Sarah.


"Aku usahakan yah bu selesai tugas akan mampir ke rumah," ujar Nada menenangkan.

__ADS_1


Sore hari Nada datang memenuhi undanganku. Aku yang sedang asyik menyiram tanaman segera menghampiri Nada yang sedang memarkir mobilnya di halaman. Nada keluar dari dalam mobil dan mencium punggung tanganku.


"Assalamualaikum, Ko sepi bu? Sarah dan Mbak Ayu kemana?" tanya Nada.


"Ada di dalam, ayo masuk!" Aku mengajak Nada untuk berbincang di dalam.


Aku mulai menceritakan sikap Sarah dua hari ini. Aku sangat cemas dengan keadaan Sarah maka dari itu aku meminta bantuan kepada Nada.


"Nduk, ibu tahu kamu menyukai Ilham sejak dahulu tetapi ibu harap kamu bisa mengesampingkan perasaanmu kepada Ilham dan mau membantu Sarah. Kamu tahukan Sarah itu istri yang sangat Ilham cinta? Ibu berharap kamu bisa menerima semua dan bersikap baik kepada Sarah." Aku mengusap punggung tangan Nada. Nada tertunduk mendengar ucapan dariku.


Hadirnya Nada kembali sejujurnya membuat aku merasa takut hubungan rumah tangga Ilham dan Sarah menjadi berantakan. Aku mengetahui perasaan Nada terhadap Ilham sudah sejak lama. Nada menatapku dengan senyum.


"Bu, Nada siap membantu Sarah. Persoalan perasaan Nada terhadap Mas Ilham tidak perlu lagi ibu pikirkan. Nada sudah menerima semua, lagi pula Nada datang untuk memberi kabar pernikahan Nada." Pernyataan dari Nada barusan membuat hatiku tenang. Setidaknya Nada sudah mau membuka hati dan melupakan perasaannya terhadap Ilham.

__ADS_1


"Menikah? Siapa calonnya?" Aku turut berbahagia mendengar kabar pernikahan Nada.


Aku sudah menganggap Nada dan Nilam seperti bagian dari keluargaku terlebih dirinya sudah kehilangan ibunya beberapa tahun silam.


Seusai berbincang aku mengantar Nada menuju kamar dimana Sarah berada. Aku mengetuk pintu kamarnya yang segera dibuka oleh Sarah.


"Sarah, ada Nada mau bertemu kamu." Aku berharap semoga Sarah mau menerima kedatangan Nada. Sejak kemarin Sarah masih belum banyak berbicara. Sarah hanya mengangguk mengiyakan.


"Mbak Sarah mau ngobrol diluar atau dikamar?" tanya Nada.


"Dikamar saja, tidak masalahkan?" Sarah masih tak ingin keluar dari kamar.


Tapi paling tidak dia sudah sedikit lebih terbuka. Aku meninggalkan mereka berdua. Semoga Nada dapat membantu menenangkan pikiran Sarah.

__ADS_1


Aku berharap hubungan Nada dan keluarga ini selalu baik. Walau Nada tak menjadi pasangan Ilham tetapi Nada dapat menjadi teman yang baik untuk Sarah kedepannya, semoga.


__ADS_2