Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Samar


__ADS_3

Hari pertama aku masuk bekerja setelah cuti panjang karena setelah menikah Mas Ilham mengajakku untuk berbulan madu dan berziarah.


Aku pergi ke kantor pusat terlebih dahulu karena aku harus menyerahkan laporan yang seharusnya sudah ku serahkan tiga hari yang lalu. Aku membawa beberapa oleh-oleh untuk rekan kerja Mas Ilham dan Mbak Ning.


"Pengantin baru, status baru nih ye."


Begitulah ucapan dari banyak orang membuatku semakin tersipu. Mas Ilham lebih dahulu masuk keruangan karena ada beberapa kerusakan yang belum menemui jalan perbaikan.


Hatiku sudah mulai merekah. Secepat itukah Mas Ilham menaburkan benih cinta?


Perlahan aku bisa mulai mencintai Mas Ilham karena kegigihan dan ketulusan.


"Mbak Ning." Aku berhambur memeluk Mbak Ning. Aku memberikan banyak oleh-oleh untuknya, anak gudang dan putri kecil Mbak Ning dirumah.


"Ya Ampun Sarah banyak sekali, terima kasih Sarah. Kalau kamu perlu bantuan jangan sungkan." Mbak Ning semakin memelukku erat.


Mbak Ning orang yang sangat baik, semua yang aku kasih tentu tak sebanding dengan kebaikan dirinya padaku. Jika bukan karena Mbak Ning mungkin sampai detik ini aku masih menjadi seorang jomblo yang menyedihkan.


Setelah menyerahkan laporan aku kembali ke kantor cabang di antar oleh Mas Ilham.


Mas Ilham perhatian, baik dan penyayang.


"Semangat kerja dek, nanti pulang mas jemput. Assalamualaikum."


"Iya mas hati-hati, waalaikumsalam."


Motor Mas Ilham meninggalkan parkiran kantor cabang.


Ku lihat Niken sudah didalam ruangan bersama Nita.


"Cie, mana oleh-olehnya mbak buat Nita sama Mbak Niken?"

__ADS_1


"Belum juga duduk sudah di palak aku Nit," jawabku.


Nita dan Niken hanya terkekeh, aku mengeluarkan tiga bingkisan untuk mereka dan anak gudang, pak Samin sudah aku berikan saat aku hendak masuk didepan gerbang.


"Rezeki anak solehah mbak ini namanya dapat tiga bungkus."


"Ngawur kamu Nit, itu untuk Niken dan anak gudang juga." Aku menggelengkan kepala.


Nita terkekeh geli, aku melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk dihari pertama bekerja.


Berbeda dengan hari-hari sebelum menikah biasanya jam makan siang aku selalu makan siang bersama Nita dan Niken, sekarang makan siang bersama suami diruangan dengan bekal masakan rumah yang aku bungkus dua porsi.


Mas Ilham makan sangat lahap, aku sengaja menyempatkan masak untuk bekal makan siang kami, tak tega rasanya jika harus membiarkan suamiku makan diluar.


"Bagaimana dek hari pertama kerja? Jadi anak baru lagi yah dek."


Kami telah selesai makan, mas Ilham mulai membuka suara dia sudah mulai lebih bawel sekarang.


Mas Ilham tertawa, sungguh aku selalu terpesona melihat lesung pipi suamiku yang dalam jika dia sedang tertawa seperti itu. Aku menusuk-nusuk pipinya gemas. Mas Ilham mengajakku untuk shalat berjamaah di ruangan. Selepas shalat berjamaah Mas Ilham memperbaiki hijabku, itu adalah rutinitas Mas Ilham memakaikan aku hijab sampai memperbaiki hijab yang aku pakai jika hijabku kurang pas menurutnya. Kami berdua terkejut ketika Nita dan Niken tiba-tiba memasuki ruangan.


"Assalamu'alaikum, ehh.. ma-maaf mbak aku gak tau." Nita langsung mendorong Niken keluar agar tak masuk. Niken hanya mendongakkan kepalanya melihat apa yang terjadi didalam. Setelah melihat aku dan mas Ilham yang masih asyik memperbaiki hijabku, mereka langsung pergi dan menutup pintu.


"Apa aku bilang, jomblo dilarang melihat, nanti jadi baper."


Samar-samar ku dengar suara Nita memarahi Niken yang sepertinya baper melihat adegan mesra siang kami.


*****


Waktu berjalan cepat tak terasa hampir sebulan kami menikah.


Tanggal 10 Mei adalah jadwal rutin datang bulan paling lambat dua hari. Sekarang sudah tanggal 13 aku kembali ke kamar mandi untuk memastikan, tapi tak ada tanda akan datang tamu yang tak diundang.

__ADS_1


"Kamu kenapa dek?" Mas Ilham menepuk pundakku dan memelukku dari belakang.


"Aku bingung mas, sudah tanggal segini tapi aku belum datang bulan."


"Mau periksa ke bidan dek?"


Aku menggeleng takut hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Aku tahu suamiku berharap agar aku bisa segera hamil. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli alat test kehamilan di Apotek untuk aku coba besok pagi.


Mas Ilham membeli tiga alat test kehamilan.


"Mas belinya banyak sekali?" Aku tertawa melihat suami yang begitu antusias menjawab untuk cadangan katanya.


Ya Allah jika benar aku akan mengandung lengkap sudah hidupku, bahagiaku. Suami yang soleh, mertua yang penyayang, orang tua dan kakak yang selalu perhatian ditambah lagi bahagia karena kehadiran buah cinta pelengkap rumah tangga.


Mas Ilham tertidur memelukku tapi tidak seerat biasanya, tangannya tak bergeming dari atas perut.


Pagi menjelang setelah shalat subuh aku dan Mas Ilham memutuskan untuk segera mencoba, bukankah lebih cepat lebih baik?


Perlahan ku masukkan alat test kehamilan kedalam gelas berisi urin. 10 menit sudah berlalu aku keluar dari kamar mandi membawa benda pipih itu menuju Mas Ilham.


Aku memberikan benda itu kepada Mas Ilham. Hasilnya hanya ada satu garis merah dan satunya samar tak terlihat.


Kami melihat di kemasan hanya ada tiga kemungkinan. Dan hanya satu garis yang terlihat jelas berarti hasilnya negatif aku tidak hamil.


Sesungguhnya aku merasa kecewa mungkin karena aku sudah terlalu percaya akan mengandung secepatnya.


Mas Ilham memeluk tubuhku, menenangkan dengan seribu ciuman yang menghujam pucuk kepala.


"Jangan bersedih, mau mencoba buat lagi?"


Mas Ilham mengedipkan satu matanya, nakal. Kalau sudah begini bisa terlambat lagi aku datang bekerja.

__ADS_1


__ADS_2