
Putraku, Ilham tak terasa sudah menjadi sosok anak laki-laki dewasa kini Ilham juga telah menikah dengan seorang perempuan cantik nan solehah bernama Sarah.
Sarah menantuku adalah anak yang sangat manis dan lugu. Mereka adalah pasangan yang serasi. Siapapun pilihan Ilham aku hanya merestui meski hanya sebatas ibu sambung akan tetapi aku sudah menganggap Ilham dan Ayu seperti anak kandung.
Aku memutuskan menikah dengan ayahnya Ilham ketika dirinya masih berusia satu tahun. Ayah Ilham tak lain adalah suami dari kakak sepupuku. Ibunya Ilham meninggal sesaat setelah melahirkan Ilham karena pendarahan hebat yang sulit terhenti.
Nasib Ilham kecil sungguh malang karena belum sempat mengenal sosok ibunya dia sudah harus kehilangan ibunya untuk selamanya.
Karena ayahnya Ilham begitu sibuk bekerja dan sangat repot dia memutuskan untuk mencari pengasuh kedua anaknya dari kerabat terdekat ibu.
Ayahnya Ilham mendatangi rumah ibuku mengutarakan keinginannya untuk mencari orang yang bersedia mengasuh putra dan putrinya.
__ADS_1
"Bagaimana apakah Mbak Nur bisa membantu saya? Saya sungguh kasihan kepada anak-anak. Mereka masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian," ujar mendiang ayahnya Ilham saat itu.
Aku hanya menjadi pendengar setia di antara perbincangan mereka. Ibu menengok ke arahku seperti meminta saran dan pertimbangan.
Kala itu aku baru saja resmi menjadi seorang janda karena dicerai oleh mantan suami sebab aku mandul. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan dan terlebih aku juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak akhirnya aku memutuskan jika aku yang merawat dan bersedia untuk turut membantu ayahnya Ilham mengurus kedua anaknya. Ayahnya Ilham sangat gembira dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Terima kasih, kalau begitu saya pamit. Besok saya akan membawa anak-anak kerumah ini." Mendiang Mas Hardian sangat berbahagia mendengar kebersediaan aku mengurus anaknya.
Hari demi hari aku lalui bersama kedua anaknya Mas Hardian. Ilham tumbuh semakin pintar begitu juga dengan Ayu kakaknya Ilham.
Mas Hardian pulang seminggu sekali untuk menjenguk dan menjemput anaknya pulang jika dirinya libur. Selama setahun aku menjadi pengasuh Ayu dan Ilham.
__ADS_1
Tiba saat itu Mas Hardian datang kerumah untuk bertemu ibu dan ayah. Tanpa di duga dia mengutarakan keinginannya untuk mempersunting aku menjadi istrinya.
"Kedatangan saya ingin melamar Rahma untuk menjadi ibu pengganti dari kedua anak saya. Ayu dan Ilham sangat membutuhkan sosok ibu dan lagi pula saya menyukai Rahma yang begitu tulus menyayangi serta merawat mereka tanpa memandang siapa mereka." Aku terlonjak sekaligus terharu dengan ucapan Mas Hardian. Ayah dan ibuku menyerahkan semua keputusan kepadaku.
"Ibu dan bapak hanya dapat merestui selebihnya bapak serahkan keputusan kepada Rahma," ucap ayah sembari melempar pandang ke arahku.
Aku mulai menjelaskan kejujuran tentang kondisi diriku yang tak bisa memiliki anak. Mas Hardian hanya menanggapi dengan senyum tak ada ekspresi yang membuat dirinya merasa keberatan dengan kemandulan yang aku derita.
"Aku tidak akan menuntut keturunan darimu. Jika Tuhan memberi aku akan menerima, kalaupun tidak kita tetap bersyukur karena sudah memiliki Ayu dan Ilham." Begitulah ucapan Mas Hardian.
Karena kebaikan hatinya aku mengiyakan ajakannya untuk menikah. Setelah resmi menikah aku ikut tinggal dirumah milik Mas Hardian. Selama hidup aku sama sekali tak membedakan kasih sayang antara Ayu dan Ilham.
__ADS_1
Semuanya sama, mereka adalah anakku. Aku juga selalu menceritakan riwayat hidup ibu mereka agar mereka tidak pernah melupakan jasa ibu yang pernah melahirkan mereka.
Ayu dan Ilham tumbuh dengan sangat baik. Sampai detik ini aku bersyukur memiliki anak yang berbakti seperti mereka berdua, Ayu dan Ilham walau statusku hanyalah seorang ibu sambung untuk mereka.