
Sesampainya dirumah sakit Nada dan Mas Ilham membawaku ke ruang IGD. Beberapa perawat dengan sigap menanganiku. Selang infus sudah terpasang. Aku masih menahan sakit yang luar biasa. Beginikah rasanya melahirkan? Sungguh nyawaku terasa berada di ujung tanduk. Aku mempertaruhkan nyawa demi nyawa yang lain. Aku membelai wajah Mas Ilham yang setia mendampingi. Entah alat untuk memeriksa apa aku sendiri tidak tahu namun keberadaannya membelit perutku semakin membuat rasa sakit dan mulasku bertambah hebat.
Benar, itu benar jika ada orang yang bilang bahwa ketika ingin melahirkan sakitnya seperti seribu satu penyakit menjadi satu. Sakitnya memang luar biasa. Disela rasa sakit wajah ibuku di desa terbayang. Ternyata perjuangan seorang ibu sangatlah panjang. Tak terasa air mataku menetes. Bukan karena rasa sakit tetapi karena rasa haru serta bahagia sebab Allah masih memberiku kesempatan untuk menikmati rasanya melahirkan. Terbayang bagaimana perjuangan ibu melahirkan aku dahulu? terlebih aku tinggal di desa yang peralatan medisnya tak secanggih di Ibukota.
"Jangan menangis, kamu pasti bisa Sarah." Mas Ilham mengecup keningku. Mas Ilham tak pernah berhenti memberiku semangat. Aku optimis bahwa aku dan bayiku pasti bisa melewati masa sulit ini.
"Aku bahagia Mas mempunyai suami sepertimu. Aku juga bersyukur sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," jawabku yang sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Aku mengantuk, tolong jaga anak kita!" Pandanganku sudah kabur, aku benar-benar mengantuk dan tertidur, tak ingat apapun lagi setelahnya.
***
Aku terbangun dari tidur, entah sudah berapa lama aku tertidur. Perutku terasa nyeri aku mencoba melihat ke sisi kanan dan kiri namun tak kutemui siapapun. Dimana Mas Ilham?
Pintu kamar terbuka sosok laki-laki yang aku cari akhirnya datang juga.
__ADS_1
"Mas apa aku sudah melahirkan? Dimana anak kita? Anak kita selamatkan?" Aku mulai terisak. Mas Ilham menggenggam tanganku menjelaskan dengan detail apa yang terjadi dan tidak aku ketahui selama aku pingsan. Aku telah menjalani persalinan namun secara caesar. Tindakan operasi dilakukan sebab aku sudah tak sadarkan diri dan lagi khawatir kondisi bayi sebab aku sudah pecah ketuban. Aku bersyukur bayiku selamat walau dengan berat dibawah rata-rata atau standar bayi pada umumnya. Berat anakku hanya 1,8 kg. Anakku dipisahkan dariku karena harus mendapatkan perawatan khusus. Aku ingin melihatnya. Aku utarakan keinginanku kepada Mas Ilham. Mas Ilham terlihat ragu dengan keinginanku.
"Aku ingin melihatnya Mas," pintaku memohon kepada suamiku agar mengizinkan aku menuju tempat kamar anakku dirawat.
"Apa kondisimu sudah jauh lebih baik?" tanya Mas Ilham kepadaku. Aku mengangguk. Mas Ilham membawa sebuah kursi roda dan membantuku duduk perlahan. Aku merasa sangat tidak nyaman ketika aku mencoba duduk. Jahitan diperut sungguh terasa ngilu. Mimpi apa aku semalam sampai harus menjalani operasi caesar. Mas Ilham mendorong kursi rodaku melewati lorong rumah sakit. Kami juga sempat berpapasan dengan Nada.
"Kalian mau kemana?" tanya Nada.
__ADS_1
"Sarah mau lihat si bayi." Jawab Mas Ilham.
Nada mempersilahkan kami untuk melihat bayi kami yang masih ditangani oleh beberapa perawat. Mas Ilham memberhentikan aku pada sebuah ruangan lalu membuka pintunya perlahan. Ruangan yang sangat sunyi. Aku melihat bayiku tertidur pada sebuah tabung inkubator. Ada lima tabung namun yang berisi bayi hanya satu tabung yang diisi oleh anakku sendiri. Hatiku terasa nyeri melihat kondisinya. Bayi merah itu begitu kecil ukurannya mungkin hanya sebesar botol air mineral. Tak henti aku menangis. Perasaan lega sebab melihatnya lahir dengan selamat tetapi juga merasa iba melihatnya hanya seorang diri didalam sana tanpa bisa merasakan tidur dalam hangatnya pelukan seorang ibu.