Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Kabar Bahagia


__ADS_3

Hari libur akhir pekan telah tiba. Hari Sabtu aku dan mas Ilham memutuskan untuk pergi mengunjungi ibu mertua. Maksud hati ingin memberikan kabar bahagia justru kami yang merasa dikejutkan.


Banyak keluarga sudah berkumpul dirumah ibu mertua termasuk teh Rani dan mas Yudi. Ternyata mas Ilham dan ibu sudah merencanakan semuanya, ibu sudah lebih dahulu tahu dari Bidan Nilam.


"Alhamdulillah, akhirnya ibu punya cucu juga dari Ilham." Ibu mertua memeluk tubuhku, aku merasakan ada buliran hangat yang terjatuh.


Aku ikut meneteskan air mata haru. Beruntungnya aku memiliki ibu mertua yang begitu baik tak seperti cerita kebanyakan orang.


Ibu menuntunku masuk ke dalam dengan sangat hati-hati seperti aku adalah seorang bayi yang baru bisa berjalan.


Mas Ilham tertawa melihatku yang begitu kaku. Meski aku telah menjadi menantu tapi aku masih harus banyak melakukan adaptasi dengan keluarga baru.


Ibu dan abah beserta kedua adikku ternyata juga berada disini, mereka datang sejak semalam dan mas Yudi yang menjemput.


Aku memeluk ibu dan abah air mata kembali mengalir.

__ADS_1


"Selamat yah neng, kamu memasuki tahapan kehidupan yang baru karena kamu akan jadi seorang ibu."


Ibu benar, kini aku akan segera merasakan menjadi seorang ibu. Mengandung dan bertaruh nyawa saat melahirkan serta menyusui. Semoga aku bisa amanah menjaga titipan-Mu, Rabb.


Ucapan selamat dan doa lagi-lagi mengalir tak henti kami terima. Mereka seakan larut dalam bahagia yang kami rasa.


Hari ini menjadi acara keluarga sekaligus acara syukuran atas kehamilan yang tak terduga. Bidan Nilam turut hadir, ia juga memberikan beberapa informasi kepada keluarga tentang kehamilanku meski tak sedetail saat aku periksa dan apa saja pantangan yang harus aku ingat.


Tidak Bidan dan tidak orang tua pantangannya sungguh berat untuk di terima. Aku dan mas Ilham hanya mengangguk mencoba mengingat-ingat daftar pantangan yang begitu banyak disebutkan. Malam telah larut kami menginap dirumah ibu mertua karena esok akan mengantarkan ibu dan abah juga adikku kembali ke desa.


"Sudah yah sayang kamu tunggu dirumah saja. Biar aku dan mas Yudi yang pergi. Kasian nanti dedek bayinya cape."


Seribu satu jurus rayuan mas Ilham keluarkan tapi tidak ada satupun yang mempan.


"Aku tidak mau mas." Jurus terakhir adalah merengek karena mas Ilham pasti tidak akan tega melihatku seperti itu.

__ADS_1


Dan benar saja akhirnya mas Ilham mengizinkan aku untuk ikut.


Perjalanan yang lumayan membuat pinggangku terasa panas. Aku tidak mau mengeluh karena tidak ingin membuat mas Ilham justru menjadi khawatir. Beberapa kali mas Ilham memergoki diriku yang tengah meringis kesakitan.


"Kamu tidak kenapa-kenapa kan dek?" Mas Ilham mengusap perutku.


"Gak mas, aku cuma pegel," jawabku berdalih.


Pukul 07.00 malam aku dan mas Ilham sudah sampai rumah. Pinggangku semakin panas tak tertahan. Aku berjalan tertatih-tatih. Mas Ilham yang menyadari cara jalanku langsung membopongku menuju kamar.


"Apa yang sakit dek?"


"Pinggangku sakit sekali mas." Aku mulai sedikit gusar dengan rasa sakitnya.


Pinggangku masih terasa panas. Mas Ilham segera memberi pertolongan pertama dengan mengompres air hangat bagian pinggangku dan perut. Tak lama sakitnya mereda, aku tertidur pulas. Mas Ilham menghubungi Bidan Nilam dan menceritakan kondisiku. Inilah resiko kandungan lemah karena aku kelelahan dan terlalu banyak duduk melakukan perjalanan jauh kandunganku bereaksi. Untung saja hal-hal yang tidak kami inginkan tidak terjadi.

__ADS_1


Rabb, lindungi selalu buah hati kami. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi. Apapun itu!


__ADS_2