Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Dengan langkah berat aku kembali membuka pintu, siapa yang bertamu siang-siang? Dan dengan segera rasa penasaranku terjawab melihat dua perempuan yang aku kenal tengah berdiri di ambang pintu gerbang.


“Tunggu sebentar mbak,” ujarku dengan nada setengah berteriak.


Mbak Nunik dan Mbak Arum istri Pak Mamat. Aku berjalan ke arah mereka untuk membuka gerbang yang terkunci.


“Maaf yah mbak kalian nunggu lama, ayo masuk,” aku mempersilahkan kedua wanita yang menurutku mereka juga adalah tetangga yang sangat baik dan perduli terhadapku.


“Ini buat Mbak Sarah.” Mbak Arum menyodorkan satu kantong plastik bawaan kepadaku.


“Wah, jadi merepotkan kalian nih mbak, terima kasih banyak yah,” ucapku dengan senang hati.


Mereka telah duduk diruang tamu, sementara aku membuatkan mereka minum sebab Mbok Sarni belum juga datang kerumah. Dua gelas teh hangat tersaji di atas meja yang dengan segera diseruput oleh mereka.


Tak banyak basa-basi kedua perempuan itu langsung berbicara ke intinya, rupanya berita tentang kepergian anakku juga diketahui oleh para tetangga di sekitar tempatku tinggal.

__ADS_1


Mbak Nunik dan Mbak Arum mengucapkan rasa berbela sungkawa. Perkataan mereka sesungguhnya membuatku bersedih karena harus kembali mengingat kedua anakku yang telah tiada.


“Sabar yah Sarah, semua ini ujian.” Mbak Nunik mengusap bahuku begitupun dengan Mbak Arum.


Karena tak ingin berlarut dalam kesedihan aku mencoba untuk mengalihkan topik obrolan di antara kami bertiga. Aku mengalihkan topik menanyakan kabar Bu Saodah, biasanya dimana ada mereka pasti ada Bu Saodah.


“Bu Saodah kemana mbak? Tumben banget gak ikut kalian?” tanyaku.


“Bu Saodah sedang sakit, dia tidak bisa ikut jadi cuma titip salam saja buat kamu dan Ilham,” jawab Mbak Nunik.


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tidak berselang lama mereka berdua pamit pulang dan kembali aku hanya sendirian dirumah. Mbok Sarni belum juga datang atau jangan-jangan Mas Ilham yang lupa, semoga Mas Ilham tidak lupa untuk mampir kerumah Mbok Sarni.


Suara salam dari seorang perempuan kembali terdengar tapi kali ini tidak jauh sepertinya berada tepat dibalik pintu. Karena volume televisi yang sedikit aku keraskan, aku jadi tidak mendengar jika ada seseorang yang sudah membuka gerbang.


Dengan langkah terseok aku menuju arah pintu.

__ADS_1


“Assalamualikum,” salam perempuan itu terdengar lagi.


“Waalaikumsalam,” jawabku seraya membuka pintu.


“Nada?” aku terkejut sebab yang datang adalah Nada bersama dengan seorang laki-laki disampingnya.


Nada hanya menjawabnya dengan senyum, dia tahu aku pasti sangat terkejut dengan kedatangannya. Bukankah hari ini dia sedang cuti? Lalu kenapa dia datang kerumahku? Dan siapa laki-laki ini? Pertanyaan demi pertanyaan melayang di dalam pikiran.


Dengan ramah aku mempersilahkan mereka masuk. Tak lama kedatangan mereka, Mbok Sarni juga tiba. Pembuatan minuman kini aku alihkan kepada Mbok Sarni, aku-pun kembali nimbrung menemani kedua tamu yang tak terduga.


Sebelumnya Nada meminta maaf kepadaku sebab tidak memberi kabar bahwa dirinya mengambil cuti dan terpaksa mengalihkan jadwal periksaku kepada dokter lain. Aku tersenyum mengiyakan, yang terpenting dokter pengganti Nada juga sama cekatan sepertinya.


“Kamu tahu alamatku dari mana? Lalu, ada apa kamu datang kemari?” perlahan-lahan aku mulai menanyakan agar rasa penasaranku segera terjawab.


“Aku tahu dari ibu, sebelumnya aku ingin memperkenalkan calonku namanya Imam,” ujar Nada dengan sedikit tersipu memandang ke arah laki-laki yang sedari tadi hanya diam.

__ADS_1


Ku lihat laki-laki itu membalas senyum Nada dengan tulus lalu beralih memperkenalkan dirinya kepadaku. Dua sejoli itu mengutarakan maksud ingin menemuiku dan Mas Ilham, terjawab sudah rasa penasaranku mengapa hari ini Nada memilih cuti. Rupanya hari ini mereka sedang sibuk menyebarkan undangan pernikahan. Aku tersenyum menerima selembar undangan dari Nada.


Sebentar lagi dia akan menikah, aku tak perlu lagi cemburu atau curiga terhadapnya. Nada, maafkan aku karena telah salah menilai dirimu.


__ADS_2