Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Hubungan Nada dan Mas Ilham


__ADS_3

Nada beserta seorang perawat telah meninggalkanku sendiri di ruangan. Sepeninggal Nada hatiku merasa tak tenang dengan kata-kata dan senyum getir yang Nada tinggalkan. Satu-satunya cara untuk mengetahui hubungan Nada dan Mas Ilham adalah bertanya dengan Mas Ilham secara langsung untuk memastikan kebenaran. Aku tak ingin ada benalu yang muncul dirumah tangga yang sudah susah payah kami bina.


Aku mengambil ponselku berusaha menghubungi Mas Ilham, baru akan menekan angka suamiku sudah kembali masuk ke dalam. Cepat sekali, mungkinkah dia pergi untuk menghindari Nada?


"Mas kamu dari mana? Keluar ko cuma sebentar?" Aku mencoba memancingnya dengan pertanyaan.


"Em--anu, Mas abis telepon teman dek," jawab Mas Ilham terbata-bata. Aku tahu Mas Ilham sedang berbohong karena tatapannya yang menghindari mata kami untuk saling bertemu pandang.


"Mas, apakah ibu dan yang lain sudah diberikan kabar?" tanyaku lagi mencoba mengalihkan.

__ADS_1


"Sudah, Nada yang memberi kabar." Mas Ilham menjawabnya. Nada yang memberi kabar? Apakah harus persoalan seperti ini perempuan itu yang mengambil alih. Aku hanya mengangguk.


"Jangan salah paham dek, tadi Mas yang minta tolong karena Mas sibuk harus mengurus kamu makanya Mas minta Nada menghubungi ibu dan yang lainnya," tutur Mas Ilham. Aku yakin suamiku takkan berbohong kepadaku.


"Mas, boleh aku bertanya?" Aku harus bertanya kepada Mas Ilham agar hatiku tak terus bersalah sangka kepada Nada.


Aku mencoba mengutarakan apa yang aku rasakan kepada Mas Ilham tentang Nada dan bagaimana sikapnya. Mas Ilham mengusap kepalaku dia tahu aku sangat resah.


Mas Ilham memulai ceritanya. Ada hal yang tidak Mas Ilham ceritakan kepadaku kemarin. Itu adalah persoalan perasaan Nada kepadanya. Nada memang menyukai Mas Ilham sejak mereka masih kanak-kanak. Perasaan Nada begitu mendalam terhadap Mas Ilham. Dulu ketika mereka masih kecil mereka selalu menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Keakraban tak hanya terjadi diantara mereka. Kedua orang tua mereka dan kakak mereka pun sama dekatnya.

__ADS_1


Hingga suatu hari Nada beserta keluarganya harus pindah ke luar kota. Saat itu Nada bersedih dan meminta Ilham kecil untuk menunggunya kembali dan berharap suatu saat nanti ketika mereka dewasa mereka akan menikah. Namun seiring berjalannya waktu dan mereka tumbuh menjadi dewasa Mas Ilham melupakan kata-kata Nada dan menganggapnya hanya sebuah gurauan ketika mereka kecil tetapi tidak dengan Nada.


Nada berusaha mencari-cari kabar tentang Mas Ilham. Hingga Nada mengetahui kabar Ilham dari kakaknya sendiri, Mbak Nilam. Nilam menjelaskan bahwa Mas Ilham sudah tumbuh dewasa dan menjadi laki-laki yang mapan. Nada berusaha mendekati Mas Ilham kembali dengan cara pindah kembali ke Ibukota.


Sayangnya Nada terlambat, langkahnya untuk mendekati Mas Ilham harus pupus. Nada datang saat lamaran Mas Ilham telah diterima oleh diriku. Sesungguhnya Nada merasa sangat kecewa mengetahui bahwa Mas Ilhamnya akan menikah. Nada mengutarakan kekecewaannya kepada Mas Ilham saat itu juga. Mas Ilham sudah meminta maaf dan juga berusaha jujur terhadap perasaannya yang hanya menganggap Nada tak lebih sebagai seorang adik.


Saat itu Nada terlihat lapang menerima. Hingga takdir tak sengaja mempertemukan kami di kedai martabak durian malam itu. Mas Ilham tak menceritakan persoalan Nada saat di kedai karena bagi Mas Ilham memang tak ada hal penting yang harus dibicarakan. Baginya Nada tak lebih dari sekedar orang asing.


"Hanya kamu Sarah perempuan yang mampu membuat aku jatuh cinta. Hanya kamu perempuan pertama yang berhasil mengisi hariku dengan penuh cinta." Mas Ilham mengecup keningku. Dia sangat berharap agar aku membuang jauh rasa cemburu.

__ADS_1


Aku yakin Nada akan mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari suamiku. Aku juga yakin Mas Ilham tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan yang sudah sepenuhnya aku beri.


__ADS_2