Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Menunggu Rindu


__ADS_3

Hampir dua bulan aku dan Mas Ilham sudah saling menyimpan kontak. Tetapi entah mengapa selama seminggu terakhir Mas Ilham intens menghubungiku. Ia sering mengajakku untuk pulang bersama padahal jam keluar kantor kami berbeda 2 jam.


Mas Ilham pulang pukul 03.00 sore sementara aku pulang jam 05.00 sore. Mas Ilham sudah menunggu di parkiran, ku lihat ia sedang berbincang bersama pak Samin.


Aku menghampiri mereka yang tengah asyik berbincang.


"Eh, Dek Sarah sudah selesai? mari kita pulang."


Motor mas Ilham melaju mengantarkanku pulang menuju kost tempat ku tinggal. Saat ini aku sudah kost dan tidak lagi menumpang dirumah Teh Rani.


Mas Ilham tak langsung pergi, ia meminta waktu sebentar untuk membicarakan satu hal penting katanya.


"Ada apa mas?" Tanyaku dengan mata mulai menyelidik.


"Eh, emm anu dek. Mas mau bilang kapan kamu mau pulang ke kampung?"


"Aku pulang minggu ini mas. Ada apa mas?"


"Apa mas boleh ikut?"


Aku terdiam, berfikir dalam untuk apa mas Ilham tiba-tiba ingin ikut pulang ke kampung halamanku. Aku mempertimbangkan cukup lama.


"Dek, ko diem? Gak boleh yah mas ikut?"


"Ehh, maaf mas aku bengong. Hmm, gimana yah mas? Mas lebih baik izin sama teteh dulu kalo emang mau ikut." Kataku mencoba mencari alasan untuk menolak secara halus.


"Baiklah, besok kita kerumah kakakmu yah. Mas pamit, assalamualaikum."


Mas Ilham meninggalkan ku dengan seribu kebingungan, aku berfikir dia akan menolak untuk bertemu dengan teteh tetapi ternyata dia malah antusias untuk berkenalan dengan teteh. Tepok jidat deh.


Aku menghubungi Teh Rani dan Mas Yudi agar besok mereka tidak kaget melihat ada laki-laki yang datang bersamaku.


"Ah, rumit sekali Mas Ilham, tidak dapat aku tebak inginnya."


Aku merebahkan tubuhku berfikir bagaimana untuk menghalaunya agar tidak ikut pulang ke kampung bersamaku.

__ADS_1


Esoknya, sehabis maghrib Mas Ilham benar-benar datang ketempat kost untuk menjemputku. Mas Ilham sungguh terlihat rapih dan tampan malam ini. Sengaja aku berdandan biasa dan ala kadarnya tetapi lagi-lagi Mas Ilham terlihat cuek dan biasa saja. Tak mempermasalahkan mengapa aku berpakaian biasa sementara dia berpakaian rapih dan wangi pula.


Kami berhenti dipertigaan membeli martabak untuk oleh-oleh keponakan.


Udah ganteng, wangi, gak pelit kurang apa coba Sarah? Hati kecilku mulai tersentuh tapi benteng yang sudah aku buat tentu lebih kokoh.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Rupanya Teh Rani dan Mas Yudi sudah menunggu kami di teras rumah.


"Sarah, tolong kamu jaga warung teteh dulu yah."


Aku hanya mengangguk. Sedikit aku curi-curi pandang melihat Mas Ilham yang nampaknya tak canggung berbincang dengan teteh dan Mas Yudi.


Samar-samar aku dengar kata melamar, ah rasanya telingaku mulai halu bagaimana mungkin seorang seperti Mas Ilham bisa menyukai gadis kampungan sepertiku?


"Sarah, kesini dulu." Teteh memanggilku. Aku keluar dari warung menuju teras dimana mereka sedang berkumpul.


"Teteh mengizinkan kalo memang Ilham mau ikut dengan Sarah pulang, biar bisa kenal sama ibu dan abah. Biar Ilham tau bagaimana keluarga kami di desa."


Hari minggu telah tiba, aku dan Mas Ilham pulang ke kampung halaman dengan motor matic milik Mas Ilham karena kami hanya pulang pergi tidak ada rencana untuk bermalam. Kami sudah sampai di desa dengan waktu tempuh hampir 3 jam. Ibu dan abah beserta kedua adikku menyambut seperti sudah tahu kedatangan Ilham bersamaku.


Lagi-lagi aku memperhatikan Mas Ilham tak ada perasaan canggung dengan abah sikapnya sama seperti saat bertemu Mas Yudi.


Aku bersama Alisha membantu ibu menyiapkan teh hangat dan beberapa cemilan didapur.


"Aneh, di dapur banyak sekali makanan sepertinya ibu dan abah sudah tahu mas Ilham akan datang kemari."


"Teh dipanggil abah disuruh ke ruang tamu katanya."


Syarif tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.


"Ehh, iya kasep sakedap heula nya."


Aku membereskan tempat teh dan gula, menyusul Syarif ke ruang tamu. Ku lihat mas Ilham nampak tegang disela-sela lesung pipit yang menghias senyumnya.

__ADS_1


"Silahkan dibicarakan Nak Ilham, mumpung sudah ada Neng disini." Abah mulai memberi aba-aba kepada Mas Ilham.


"Ilham mohon maaf sebelumnya kepada ibu dan abah karena mendadak datang ke desa, sesungguhnya Ilham menyukai Sarah sudah lama dan berniat untuk mempersunting Sarah. Ilham tau mungkin tidak mudah untuk Sarah menerima Ilham yang jauh dari kata sempurna, InsyaAllah rasa cinta Ilham tulus kepada Sarah. Ilham meminta restui dari abah dan ibu begitu juga meminta pertimbangan Sarah apakah mau menerima saya."


"Mas Ilham." Aku berdesah lirih tak menyangka akan secepat itu Allah mendatangkan pria yang datang untuk memintaku secara langsung di hadapan orang tuaku di usiaku yang masih terbilang muda.


Abah tersenyum begitupun dengan ibu.


"Semua terserah Sarah, abah dan ibu selalu merestui, mendukung apapun jawaban serta keputusan Neng Sarah, bagaimana Sarah?"


Aku terdiam masih belum bisa menjawab.


"Mas, aku perlu waktu tapi secepatnya akan aku jawab tapi tidak hari ini."


Mas Ilham nampak mengerti. Aku bersyukur masih ada waktu untuk aku bersimpuh kepada-Nya memohon jawaban terbaik lewat Istiqarah.


Matahari hampir tertelan senja tepat pukul 06.00 sore aku sampai di Jakarta, aku mampir kerumah Teh Rani, sengaja aku ingin beristirahat dahulu dirumahnya sebelum melanjutkan pulang ke kost. Aku tidak sabar untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Teh, Mas Ilham melamarku." Aku membuka suaraku dengan lemas, Teh Rani hanya tersenyum dia seperti sudah tahu semua.


Ah, makin bingung rasanya ingin cerita tapi kepada siapa, satu-satunya teman yang paling dewasa hanya mbak Ning tapi tidak mungkin aku bisa bercerita mengenai mas Ilham yang ada akan ada gosip seantero kantor.


Aku memutuskan pulang ke kost, agar dapat tidur sejenak sebelum melakukan shalat istiqarah nanti malam.


Malam menunjukan pukul 01.30 aku mengambil wudhu dan memutuskan untuk curhat dan meminta petunjuk kepada-Nya.


Aku berharap akan aku temui jawabannya secepat mungkin.


*****


Aku berjalan sendirian entah aku berada dimana. Sunyi sekali tempat ini. Ada banyak jalur didepan aku memilih berjalan satu jalur di sisi kanan. Aku terus berjalan hingga peluh, aku merasa lelah tapi jalan ini lagi yang aku temui.


Aku terduduk, perlahan mulai menangis karena kelelahan tetapi seseorang menepuk pundakku. Aku mengadah ke arahnya yang telah mengulurkan tangan menungguku menyambut dengan senyum. Aku terhenyak.


Aku menyambut uluran tangannya, dia menggengam tanganku dengan begitu lembut dan menuntunku menunjukan sebuah jalan dimana ada banyak cahaya.

__ADS_1


__ADS_2