
Pasca kejadian yang cukup menegangkan kemarin nampaknya sikap Mas Ilham semakin posesif terhadapku. Aku tidak di perbolehkan olehnya untuk menyentuh pekerjaan rumah, semua di kerjakan oleh suamiku sendirian. Mencuci baju, mengepel lantai, hingga mengangkat jemuran semua Mas Ilham yang mengerjakan. Sesungguhnya aku merasa iba melihat suamiku melakukan pekerjaan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban diriku sebagai seorang istri, akan tetapi apa boleh buat Mas Ilham tetap bersikukuh bahwa dirinya mampu.
"Sudahlah Dek, biar Mas yang mengerjakan semua. Kamu sudah lelah seharian bekerja." Mas Ilham mengusap pucuk kepalaku lembut.
"Tapi Mas juga seharian bekerja, biar aku bantu yah," tawarku.
Mas Ilham menggeleng dan tak menggubris ucapanku.
Begitulah Mas Ilham selalu memprioritaskan diriku, padahal aku yakin dirinya pun sama lelahnya sepertiku bahkan mungkin lebih lelah.
Akhirnya aku memutuskan untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga harian untuk membantu dan menjaga rumah selagi kami pergi bekerja. Asisten rumah tangga kami bernama Mbok Sarni. Mbok Sarni tetangga yang sangat baik kepadaku beliau juga sering mengingatkan aku perihal kondisi kehamilanku dan membuatkan aku semacam jamu yang dibuat sendiri untuk kebugaran tubuh dan janinku.
"Non, ini diminum dahulu susu hamil dan vitaminnya." Mbok Sarni meletakkan segelas susu dan beberapa butir vitamin yang harus aku minum setiap hari.
"Terima kasih Mbok."
Aku merasa senang dengan kehadiran Mbok Sarni, rumah jadi tidak terasa sepi dan aku seperti mendapati sosok orang tuaku di desa yang tinggal bersama walau Mbok Sarni tidak tinggal serumah dengan kami.
Kehamilan resiko tinggi yang aku alami memang tidak dapat di remehkan. Beberapa kali aku sering merasakan sakit akibat tidak mau mendengarkan ucapan Mas Ilham, semisal ketika aku membawa keranjang pakaian bagian bawah perutku akan mengalami kram. Begitupun dengan makanan yang harus aku konsumsi tidak boleh makan sembarangan dan harus memiliki cukup nutrisi.
Usia kehamilan aku sudah memasuki bulan ketiga lewat dua minggu. Hari ini adalah jadwal rutin periksa sekaligus konsultasi. Aku dan suamiku telah berada di ruangan Bidan Nilam. Bidan Nilam sangat baik dan banyak membantuku yang minim dengan pengetahuan kehamilan. Bidan Nilam memeriksa kondisi janinku dengan seksama sekaligus melakukan USG. Terlihat di layar monitor sebuah janin yang masih berukuran sangat kecil, kelak janin ini akan tumbuh menjadi seorang bayi yang akan keluar dari dalam rahimku.
Bidan Nilam dengan detail menjelaskan kondisi janin dan letak posisi janin dalam kandungan.
Mas Ilham tersenyum menggenggam tanganku. Bahagia telah menyusup perlahan menghilangkan rasa cemas di hati kami.
Hasil USG telah keluar berupa foto janin lengkap dengan keterangan perkiraan ukuran dan usia.
__ADS_1
Foto pertama calon bayi kami. Akan selalu kami kenang bersama catatan riwayat nya dalam sebuah buku berwarna merah muda.
"Janinnya tak ada masalah, hanya tekanan darahmu saja Sarah yang masih rendah."
Kabar yang cukup baik kami terima, janinku sudah mulai berkembang dan sedikit menjadi lebih kuat akan tetapi kami harus tetap waspada dan memperhatikan hal-hal yang di pantang terutama makanan sehari-hari yang aku konsumsi.
Hari ini pekerjaanku sangat menumpuk. Hal ini membuat kepalaku sedikit pusing karena terlalu lama duduk dan menatap layar monitor. Kehamilan yang aku alami mungkin sama dengan yang kalian pernah alami. Mual atau morning sickness rutin setiap pagi menyapa. Rasanya aku hampir menyerah, sungguh menjadi wanita hamil sangat tidak mudah.
Nita dan Niken menatapku yang memasuki ruangan dengan mata merah berair. Mual ini terus menerus menyerangku hingga tubuhku terasa lunglai.
"Mual lagi Mbak?" Niken bertanya dengan rasa kekhawatiran yang aku rasa.
"Iya, tapi gak kenapa-napa aku baik-baik saja. Ini keluhan biasa untuk ibu hamil." Aku mencoba meyakinkan dua orang yang masih menatapku penuh khawatir. Aku tidak ingin mereka menghubungi Mas Ilham, itu akan sangat mengganggu konsentrasinya bekerja.
Nita dan Niken masih belum terbiasa melihatku seperti ini, padahal semua ini sudah berlangsung selama tiga bulan lamanya. Aku mengambil sebuah permen jahe untuk menahan air liur yang tak pernah habis untuk keluar.
"Hati-hati sayang, ingat jangan makan sembarangan!" pesan Mas Ilham.
Siang ini aku ingin sekali menyantap makanan yang segar. Makan bakso! Aku ingin makan bakso. Kuah bakso cukup ampuh mengusir rasa mual dan pusing di kepalaku.
"Bumil mau makan apa?" tanya Nita.
Aku menarik lengan Nita dan Niken memasuki kedai bakso langganan kami. Tiga porsi bakso sudah tersaji.
Aku memasukan beberapa sendok sambal. Niken dan Nita melongo menatapku yang khilaf menuangkan sambal ke dalam mangkok. Rasa pedas dan asam dari cuka sungguh membuat rasa segar tercipta. Niken mencicipi kuah di mangkok milikku.
"Astaga, Mbak ini pedas sekali." Wajah Niken terlihat memerah.
__ADS_1
Aku sama sekali tidak merasa pedas. Selesai melahap habis bakso-bakso, rasa khawatir baru muncul menyergap pikiran. Beberapa jam bahkan sesampainya dirumah aku tidak merasakan sakit atau panas dalam perut.
Cabai dan segala makanan pedas adalah salah satu makanan pantangan yang harus aku hindari. Karena dapat memicu rasa panas berlebih dalam rahim.
"Dek, kamu memikirkan apa? Tadi kamu tidak makan yang aneh-anehkan?" Mas Ilham seperti mengetahui isi pikiranku. Aku sedang memikirkan bagaimana kondisi janinku dan semoga sesuatu yang buruk tak terjadi.
"Tidak ada apa-apa Mas, aku hanya ingin makan martabak."
Tiba-tiba saja bayangan martabak menari-nari dalam pikiran. Tak menunggu lama Mas Ilham segera bergegas memakai jaket lalu mengambil kunci motor di dalam laci.
"Mas aku ikut." Aku menahan langkah kaki Mas Ilham.
"Tapi ini sudah malam Dek, angin malam tidak baik untuk kesehatan kamu." Mas Ilham mengusap bahuku mencoba memberiku pengertian agar menunggu saja dirumah. Semenjak hamil rasa ngeyel dan keinginan yang berlebih tak dapat aku tahan. Aku mulai menitikkan air mata membuat Mas Ilham jadi merasa tidak tega.
"Baiklah, ayo kita pergi beli martabak."
Mas Ilham membantuku memakaikan hijab dan menyelimuti tubuhku dengan jaket. Kunci motor yang sudah ia ambil diletakkan kembali digantinya dengan kunci mobil.
"Mas kita cuma mau beli martabak di pertigaan depan jalan, kenapa pakai mobil? Pakai motor saja."
Mas Ilham menggelengkan kepalanya. Mengusap pipiku membuat rona merah di wajah bermuculan.
"Kalau pakai motor banyak angin. Sudah malam lagian Mas bawa kamu yang sedang hamil, Sarah."
Aku mengerti mas Ilham sangat mengkhawatirkan diriku dan calon bayi kami. Malam ini bahkan dia rela pergi keluar demi menuruti keinginan aku yang merepotkan dan meminta segala macam rupa. Mas Ilham tetap sabar menuruti segala permintaan yang aku ingin. Sepanjang perjalanan Mas Ilham selalu mengusap perutku yang belum membuncit.
Setelah berganti-ganti keinginan dan mencari-cari kesana kemari akhirnya aku tetap pada keinginan pertama yaitu makan martabak yang di jual di depan pertigaan.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari entah apakah masih ada martabak yang tersisa? Martabak oh martabak aku ingin martabak durian.