Positif (Pejuang Dua Garis Merah)

Positif (Pejuang Dua Garis Merah)
Kehamilan Kedua


__ADS_3

Waktu bekerja telah usai, Mas Ilham sudah menungguku di parkiran. Jadwal konsultasi dengan Bidan Nilam malam ini. Aku dan suamiku bergegas menuju tempat praktek Bidan Nilam. Sudah sebulan lebih sejak kejadian keguguran aku masih rutin memeriksakan diri. Beberapa hari ini tubuhku sangat lemas dan pusing. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pasca keguguran yang aku alami. Maklum saja aku tidak melakukan kuret karena menurut hasil pemeriksaan dirahimku bersih jadi tak perlu melakukan kuret hanya perlu meminum beberapa obat.


Kami berdua telah sampai di tempat praktek Bidan Nilam. Meskipun sudah malam tempat praktek Bidan Nilam terbilang ramai. Tak perlu lama menunggu aku dan Mas Ilham masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Bidan Nilam sudah menunggu kedatangan kami.


"Apa yang kamu rasakan Sarah?" tanya Bidan Nilam sambil memeriksa tensi darahku.


Aku mulai menceritakan keluhan yang aku alami beberapa hari ini. Bidan Nilam menyuruhku berbaring di ranjang periksa. Aku manut apa yang ia ucapkan. Setelah selesai melakukan pemeriksaan Bidan Nilam memberikan satu alat kepadaku. Terakhir alat itu aku gunakan beberapa bulan lalu.

__ADS_1


"Cobalah, tak apa." Bidan Nilam meyakinkan diriku untuk kembali mencoba alat tes kehamilan. Aku menerima dengan tangan gemetar. Bayangan dimana aku kehilangan anakku seperti kilatan petir yang sangat cepat menyambar pikiran. Perlahan aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Sesungguhnya aku tidak ingin menggunakannya. Tapi apa salahnya untuk mencoba? Aku hanya tak perlu menyimpan harapan lebih. Sekian detik sudah aku mencoba. Mataku terpejam tak ingin melihat hasilnya. Aku memasukkan kembali alatnya ke dalam kemasan.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Bidan Nilam.


"Selamat Ilham, Sarah kembali hamil." Ucap Bidan Nilam membuatku tak percaya. Aku kembali diberikan kesempatan untuk memiliki anak. Air mata luruh, aku memeluk tubuh Mas Ilham yang mengucap rasa syukur tak henti.

__ADS_1


"Kamu hamil lagi, kamu akan menjadi ibu." Mas Ilham mengecup keningku. Aku sangat bahagia dan bersyukur. Tak perlu waktu lama untuk menanti lagi kehadiran buah hati. Allah langsung memberiku lagi amanah yang kemarin sudah Allah ambil. Semua cobaan pasti ada hikmah. Allah ambil titipan-Nya yang kemarin mungkin karena aku memang masih belum siap dan menguji seberapa kesiapanku dan suami menjaga amanah besar dari-Nya.


"Alhamdulillah Mas Ilham," aku masih menangis terguguh karena bahagia mendengar kabar kehamilan keduaku. Bidan Nilam memberiku resep beberap vitamin penguat kandungan dan obat untuk penghilang rasa pusing serta mual.


Setelah selesai periksa kami segera pulang kerumah. Kali ini kami sepakat tak memberitahukan kabar bahagia ini. Mas Ilham juga sudah berpesan kepada Bidan Nilam agar semua ini menjadi rahasia kami bertiga sampai waktu yang ditentukan oleh Mas Ilham. Bukan karena kami tak ingin membagi kabar bahagia hanya saja aku yang masih belum siap untuk membuat mereka khawatir dan kecewa. Aku berharap semoga kehamilanku yang kedua tak mengalami nasib buruk seperti kehamilanku sebelumnya. Kehilangan anak membuatku seperti kehilangan dunia dan aku tak ingin lagi mengalaminya.


Kehamilan keduaku sepertinya akan lebih parah mengalami ngidam dari pada yang pertama dan ternyata semua perkiraan itu benar adanya.

__ADS_1


__ADS_2